Sunday, April 3, 2016

Apa yang Lebih Romantis?

Apa yang lebih romantis dari duduk diam merenung tentang hidup, kebenaran, dan kemanusiaan di Lembah Mandalawangi?

Entah.
Paru-paruku bahkan belum sekalipun menghirup udaranya.
Hanya sesekali anganku mendarat disana,
Bersama harapan suatu saat menjadi nyata

Ah.
Atau mungkin,
Mungkin aku tau jawabannya.

Duduk diam merenung tentang hidup, kebenaran, dan kemanusiaan di Lembah Mandalawangi,

Bersamamu,
Sosok yang bahkan belum ku kenal.

Kaya Hati

Banyak yang bilang mahasiswa itu mengenaskan. Tuntutan banyak, reward minim, uang masih minta orang tua. Tidak berdaya, tidak punya andil dan peran yang berarti.

Tapi justru masa ini tercipta dengan sempurna.
Mumpung masih di bawah, mari perkaya diri.
Mumpung tak punya motif-motif pribadi, mari mencari arti.
Jangan hanya perkaya ilmu, tapi yang terpenting,

Perkaya hati.

Memperkaya hati bagaikan sebuah investasi, yang hasilnya akan Anda petik jauh hari nanti, ketika tak lagi punya waktu basa-basi.

Biar besok kalo diberi kekuasaan nggak goblok-goblok amat.

Menonton film ini adalah salah satu caranya. Memperkaya hati dan memberi nutrisi pada diri Anda. Anda akan menemukan sudut pandang yang berbeda.
Setelah itu, selamat berpikir.

Semoga kita menjadi profesional yang kaya hatinya.


Tuesday, March 15, 2016

Perbincangan Bergizi

Pertengahan Februari lalu saya berkunjung ke ibu kota bersama beberapa teman baru.
Kami kebetulan baru saling berkomunikasi dan mengenal satu sama lain selama kurang lebih beberapa minggu saja.

Singkat cerita, malam itu saya dan dua orang teman "terjebak" dalam sebuah percakapan setelah makan malam di sebuah mall di Bogor. Dan malam itu, setelah beberapa topik bahasan yang cukup ringan bahkan terkadang tidak relevan, kami mulai beranjak ke sebuah topik yang cukup lucu:

"Menurutmu, apa yang salah dengan Indonesia saat ini?"

Wah, sekelompok mahasiswa ingusan semester 6 berusaha memecahkan permasalahan fundamental bangsa.

Lucu kan?

Dengan background pendidikan kami yang amat sangat berbeda, ditambah pengamatan masing-masing, kami mengutarakan pendapat dan berdiskusi. Like, literally, diskusi untuk berbenah secara realistis dan apa yang akan kita lakukan nanti ketika kerja untuk memulai semua itu.

Hahahahaha

Aku kangen punya temen yang bisa diajak berbicara bahasan-bahasan sampah, namun juga concern di topik-topik masif dan krusial. Yang asik diajak bercanda, tapi juga seru diajak berpikir kritis dan membincangkan sesuatu yang mungkin banyak orang menganggap kaku atau terlampau serius.

Menurutku, that kind of conversation lumayan menyehatkan, bergizi, dan terkadang menjadi pengingat diri sendiri untuk terus bergerak maju.

Dulu di SMA pernah punya teman-teman yang seperti itu.
Semoga lain waktu bisa "terjebak" lagi dengan orang dan topik yang sama serunya.

Wednesday, March 2, 2016

Watching Indonesian League & Febri really help me though.

Aku sedang suntuk dan ingin menulis.

Ini tentang aku dan basket.

Aku memang bukan pemain yang handal, yang menggantungkan hidupku pada olahraga ini. Namun aku tidak pernah bisa lepas darinya.
Aku mengenal bola basket sejak kecil. Bahkan sejak bangku sekolah dasar aku beberapa kali mengikuti pertandingan dan memenangkannya. Di bangku SMP, aku terus bermain. Aku mulai bergabung di klub, beberapa kali bertanding untuk kelompok umur di atasku, dan terlibat seleksi wilayah.

Di bangku SMA, hal itu terjadi.
Aku sudah lupa bagaimana sakitnya. Yang jelas, ketika tubuhku dihantam lawan dan jatuh tersungkur, rasa sakitnya sampai membuatku berteriak hingga supporter sekolahku yang memenuhi tribun seketika terdiam dan memandang ke arahku. Aku ingat betul hari dan tanggal dimana ACL lutut kananku putus.

Sayangnya, saat itu aku tidak menangani cedera itu dengan baik.
Setelah pengobatan sederhana dan merasa bisa beraktivitas, aku kembali bermain basket meski tau ada sesuatu yang salah dengan lutut kananku sejak hari itu. Aku tetap bermain, meski tak lagi bisa seagresif dulu. Saat itu, permainanku yang terbatasi oleh lutut yang rawan kambuh sedikit membuatku terpukul.

Sejak meninggalkan klub saat SMP, aku belum pernah berlatih bersama tim dengan porsi latihan yang cukup berat dan kemampuan rata-rata di atasku. Di bangku kuliah, setelah beberapa kali penjajakan, aku menemukan sebuah lingkungan latihan yang pas. Saat bergabung dengan tim ini, aku merasa sangat bersemangat untuk kembali bermain dengan total, karena lingkungannya sangat menuntutku untuk berkembang. Sayangnya, tim ini hanya aktif satu tahun sekali menjelang sebuat turnamen antar fakultas. Setelah satu kali melakoni turnamen, aku merasa berkembang dan sangat bahagia menjalani prosesnya. Aku sangat menantikan bermain bersama tim ini untuk kedua kalinya. Namun akhirnya aku gagal bergabung karena sebuah musibah.

Hari itu, beberapa bulan yang lalu, ACL lutut kiriku putus.

Aku terpukul luar biasa.

Kali ini aku menyadari cedera ini terjadi karena kesalahanku. Sebelum pertandingan itu aku tak punya cukup persiapan dan latihan padahal beberapa bulan aku tidak olahraga serius. Kondisi tubuhku overweight, dengan lutut kiri yang harus bekerja lebih keras karena lutut kananku sudah tidak bekerja dengan normal. 

Aku baru tau, rasanya divonis dokter putus ligamen itu jauh lebih sakit dibanding putus pacar versi mana pun.

Jika hidup ini mempunyai beberapa turning point, hari dimana aku divonis dokter sebagai manusia tanpa ACL adalah salah satu turning point yang membawa hidupku terjun ke bawah. Sangat dalam.

Kini aku memang bisa beraktivitas layaknya manusia biasa. Namun, dengan dua lutut tanpa ligament, dokter jelas tidak menyarankan aku untuk berolahraga selain bersepeda dan berenang.
Untuk bisa kembali menyentuh bola basket, aku harus melakoni operasi dengan masa penyembuhan 8 bulan dan biaya yang tidak sedikit. Dua kali, kanan dan kiri. Dan aku bukan lah pemain profesional yang bisa dengan mudahnya berkata "minggu depan operasi di Filipina" macam Pringgo atau Wisnu karena itu memang prioritas utama mereka.

Sekali lagi, biayanya tidak sedikit. Aku tak mau buru-buru menuntut orang tuaku untuk hal yang bukan prioritas dalam hidupku, meski aku mencintai basket. God I love basketball so much I literally cry every time I talk about this thing..
Aku sadar aku masih harus menyelesaikan studi. Dan aku punya kegiatan perkuliahan yang harus kuatur jadwalnya sedemikian rupa sehingga kalau pun nanti memutuskan untuk operasi, masa penyembuhannya tak mengganggu studiku. Aku sadar, hal yang aku cintai ini bukan prioritas utama dalam hidupku.

Tapi aku rindu.

Aku rindu tertawa bersama rekan satu tim, terengah-engah lelah memegangi perut, bunyi decitan sepatuku dengan lapangan, tatapan membara pelatih saat time out ketika musuh memimpin, teriakan cacian hinaan pelatih saat turn overku bertambah, usapan tangan pelatih di kepalaku ketika mereka bangga padaku, uluran tangan rekan satu tim saat aku memberinya assist, dan hal-hal lain yang tak bisa kudapatkan lagi sekarang.

Aku rindu.
Basket membesarkanku. Basket memberiku banyak hal. Terlalu banyak. Teman, keluarga, tawa, tangis, sakit, semangat, malu, bangga, dan banyak hal lain.

Mungkin ini saatnya aku berhenti meminta.
Mungkin ini saatnya aku duduk, beristirahat, dan mencari.
Menikmati permainan sebagai seorang penonton, memahami makna dari sudut pandang orang ketiga.


Tapi, ketika tiba-tiba aku sedih dan menangis lagi,
Jangan paksa aku untuk berhenti rindu.

Monday, February 29, 2016

Sembilan Hari Bahagia di Yogyakarta

"Nanti malem yang main bagus nggak? Ibu pengen nonton."
"Ayo, Dek, nonton."
"Nanti malem jadi nonton to?"
Dan akhirnya, meski aku sendiri tak berencana nonton, malam itu kami berangkat ke GOR tanpa peduli tim apa yang berlaga. Aku tau pasti, Ibu tidak tau banyak tentang tim dan pemain. Ibu banyak bertanya kepadaku di perjalanan pulang.

Big match terakhir di Jogja, Ibu datang sendirian ke GOR naik motor dan duduk sendiri di tangga tribun sampai pertandingan selesai, setelah itu pulang tanpa menemuiku. Padahal aku juga ada disana sejak sore bersama teman. Ibu ke GOR benar-benar karena ingin nonton.

Jadwal ibu yang terkadang suka ngaco langsung pengen nonton, pertanyaan-pertanyaan bertubi tentang dunia basket Indonesia, apalagi harus dijelaskan berulang karena terkadang satu kali penjelasan susah dimengerti Ibu, hal-hal ini awalnya sempat membuat aku risih.


----------


Suatu hari setelah pertandingan besar berakhir, aku dan mobilku terjebak di tengah-tengah motor yang terparkir. Hujan. Dan motor-motor itu tak kunjung pergi.
Para pengendaranya sedang berhujan-hujan 15 meter dari mobilku, menunggu pemain-pemain idolanya keluar dari GOR. Bisa ku lihat dan ku dengar dengan jelas dari dalam mobil selama kurang lebih satu jam, satu per satu pemain keluar diiringi jerit kagum terkadang histeris.
Satu jam yang awalnya sempat memancing emosiku.


----------


Harus diakui, komentar-komentar cheesy di GOR kadang annoying juga. Apalagi tipikal wanita-wanita penggemar yang nggak ngerti sama sekali tentang basket dan akhirnya komen-komen berisik annoying tanpa bisa ngerti keseruan game atau bahkan mengganggu kenikmatan game. Harus diakui hahaha.
Hal ini, awalnya juga sempat kerap membuatku risih.


-----
---------------
-----



Saya mulai hobi menonton IBL sejak SMP.
Dan liga basket nasional milik Indonesia, apa pun namanya, siapa pun promotornya, memiliki makna bagi saya.

Melihat perjuangan sebuah liga nasional, jatuh bangun, dan sampai di titik ini, sebagai seorang yang menikmati pertandingan basket, saya mempunyai cita-cita yang sama dengan para pemain dan tim yang bergelut disana.

Saya ingin basket untuk Indonesia.
Saya mendukung IBL.

Motivasi saya sederhana.
Saya mencintai olahraga ini. Sebagai manusia tanpa ACL sejak tahun lalu, yang bisa saya lakukan hanya menikmati pertandingan. Saya punya tim favorit. Saya punya pemain idola.
Saya ingin Indonesia mencintai olahraga ini.
Saya ingin tim favorit saya terus bergerak.
Saya ingin pemain idola saya bermain dengan baik dengan jaminan kehidupan yang layak. Karena sedih membaca cerita tentang mereka di masa sulit IBL dulu.

Sekarang, saya optimis.
Kejadian-kejadian di awal tulisan ini, adalah hal-hal ganjil, yang setelah saya telaah lebih lanjut adalah sebuah tanda.
Tanda bahwa olahraga ini sedang menyusup ke setiap celah. Memikat setiap kalangan. Dan setiap orang, bebas menikmatinya dengan alasan dan motivasinya masing-masing.
Saya bahagia melihat tribun GOR yang penuh.
Saya bahagia melihat seorang ibu dan anak balitanya duduk asik menonton pertandingan.
Saya bahagia melihat IBL punya salary cap!
Saya bahagia melihat cewek-cewek fanatik berteriak dibalik barikade pintu pemain.
Saya bahagia IBL kembali bisa tayang di televisi.
Saya bahagia melihat orang yang nggak ngerti apa-apa tentang basket beli tiket dan nonton pertandingan demi liat ke-cihuy-an Prastawa atau Kelly.

Intinya, saya bahagia!
Mari ramaikan liga, tingkatkan animo, raih prestasi untuk negeri!

Saya optimis basket untuk Indonesia!


P.S.
Saya juga optimis Aspac juara tahun ini, dan Febri tetap idola saya sepanjang masa! :p

Wednesday, January 27, 2016

Aku Rindu

Sudah hampir empat tahun sejak 9 Juli 2011.

Bapak,
Saya rindu..

Bapak,
Apa kabar?
Ingin rasanya berkunjung ke bengkel Panama untuk sekedar menyapa.
Tempat terakhir saya lihat Bapak.

Bapak,
Saya sudah tahun ketiga di bangku kuliah.
Waktu berlalu begitu cepat, ya?
Meski tak terlalu hebat, sudah banyak yang saya capai.
Dan saya percaya, saya disini karena Bapak.

Bapak,
Ingin rasanya memberitahumu.
Bahwa segala toleransi dan pikiran yang terbuka berasal darimu.
Kemana pun nanti masa depan membawa saya,
Bapak akan selalu menjadi bagian dari hidup saya.

Bapak,
Mereka bilang pertemuan menghapus rindu.
Namun doa mengobati dan membuatnya kekal.
Saya ingin sekali berjumpa, ingin sekali..


Selamat ulang tahun, Bapak.
Hormat saya sepenuh jiwa raga.



26 Januari 2016
Dahlia Anggita Zahra, RSBI II angkatan 2010

Monday, January 4, 2016

Satu Lagi Revolusioner

Aku mengenal dua pengajar di kampusku yang begitu ku kagumi. Dua orang yang amat sangat ku yakini memiliki integritas tinggi. Pengajar yang tak hanya mengajarkan teori, namun juga melecut dan memotivasi anak didiknya. Pengajar yang tidak hanya pintar, namun mempunyai keinginan untuk membentuk anak didiknya menjadi orang yang bermanfaat, dengan caranya masing-masing. Yang satu penuh keramahtamahan, senyuman, dan canda. Yang satu, adalah seseorang yang ingin aku ceritakan lebih lanjut.


-----


Hidupku sebagai seorang mahasiswa berjalan pasrah saja.

Sampai akhirnya aku bertemu beliau.

Sebelumnya, aku hanya tau nama dan cerita-cerita dari mulut orang. Kemudian, pagi itu adalah kuliah pertamaku dengan beliau. Aku ingat betul, pagi itu di ruang 308 kami semua berdebar, kombinasi dari takut dan penasaran, menanti kehadiran beliau di kelas.

Benar saja. Perasaan takut dan penasaran terbayar nyata. Dengan hinaan dan cercaan, beliau menyampaikan kuliahnya. Dengan ketegasannya beliau membabat habis mental-mental keledai kami.
Namun, dari latar belakang dan kisah hidupnya, aku mengerti dari mana semua emosi dan kedisiplinan itu berasal. Dari prestasi dan pencapaiannya, aku mengerti apa tujuan beliau sesungguhnya.

Pagi itu di tengah hinaan dan cercaan dengan hati deg-degan ketakutan, kekagumanku mulai tumbuh. Mungkin tidak semua orang bisa menerima caranya. Tapi aku, aku menghargai, menghormati, dan mengaguminya sepenuh hatiku.

Di semester-semester berikutnya, setiap akan memasuki kelasnya, beliau membuatku mual membayangkan bagaimana tegangnya suasana kelas nanti.
Namun, setiap selesai kelasnya, tak hanya mendapat ilmu (karena sesungguhnya dibalik cercaannya, pemaparan materi beliau sangat mudah diterima), beliau juga membuatku mengeluarkan kata-kata "Kok bisa sih aku jadi mahasiswa gini-gini aja?", atau "Kok bisa-bisanya aku dihina dan hinaannya adalah fakta? Aku harus belajar", dan kata-kata semacamnya.

Ia adalah satu-satunya pengajar yang mampu menamparku dari segala arah. Satu-satunya pengajar yang membuatku sadar, bahwa mahasiswa adalah jabatan yang tidak main-main.

Ia mampu membuatku malu dengan kemudahan yang aku dapat, dibandingkan dengan kisah hidup dan pencapaiannya.
Ia mampu membuatku mau berusaha mengerjakan PR-ku sendiri.
Ia mampu membuatku memasuki perpustakaan kampus dan meminjam beberapa buku berbahasa inggris.
Ia mampu membuatku belajar di malam hari meski tak ada tuntutan tugas, kuis, mau pun ujian.
Ia mampu membuatku sedih ketika selesai ujian aku merasa tak memahami konsep, meski berhasil menjawab semua soal.

Ia mampu membuatku memahami arti menjadi mahasiswa. Arti mencari ilmu yang sesungguhnya dan tidak melihatnya sebagai hak atau pun tanggung jawab, namun sebagai kenikmatan akan memahami.

Ia membuatku ingin menjadi manusia yang tangguh.

Bagiku, hinaannya bukan hinaan yang menjatuhkan. Hinaannya adalah hinaan yang memotivasi.
Bagiku, ketegasannya bukan untuk menghambat. Ketegasannya adalah bentuk kepedulian.
Dan bagiku, orang-orang yang tidak bisa menerima cara beliau dan justru mundur/menentangnya, adalah orang-orang yang tak cukup tangguh untuk mau berubah menjadi lebih baik.


-----


Pak Edi guru Bahasa Indonesia-ku di SMP adalah seorang revolusioner bagiku.
Dan setelah sekian tahun, sepertinya aku menemukan satu lagi revolusioner dalam hidupku.

Wednesday, December 30, 2015

Memaknai Karya

Dalam kejadian, perasaan, hidup, setiap orang akan menciptakan makna sendiri melalui kacamatanya masing-masing.

Seperti halnya yang terjadi denganku dalam memaknai karya. Film.


Seorang sutradara pasti memiliki misi. Misi menyampaikan rasa kepada orang banyak lewat karyanya.
Namun, sutradara tetap manusia. Seapik apa pun garapannya, selugas apa pun kontennya, intinya, sekeras apa pun ia berusaha, sutradara nggak akan bisa memaksa penonton secara seragam menangkap apa yang ia rasakan.

Penonton, punya hak penuh atas kegiatan memaknai film. Seliar apa pun itu.

Seperti aku dan film Laskar Pelangi.
Ada yang memaknai film ini sebagai potret tragedi pendidikan Indonesia.
Ada pula yang beranggapan film ini mengajarkan ketulusan, cinta kasih seorang guru.
Ada yang terinspirasi oleh persahabatan dan perjuangan anak-anak miskin.
Dan masih banyak lagi.
Aku sendiri, memaknai film ini sebagai sebuah pukulan dashyat tepat di tenggorokanku.
Sebuah karya yang membuatku tersadar bahwa sekolah adalah sebuah kenikmatan yang tak terkira, sekaligus sebuah tanggung jawab yang luar biasa.

Lalu, sebenernya aku baru saja menyaksikan sebuah film yang membuatku ingin menulis ini semua.
Aku dan film Negeri Van Oranje.
Sebuah film dengan jalan cerita yang sederhana namun penokohan yang amat menarik dan pas.
Di 3/4 durasi film, aku bergetar dan sedikit menitikkan air mata. Di 3/4 durasi, aku menemukan makna film ini untuk diriku: I'm dying to go to Netherlands.
Aku ingin ke Belanda. Aku ingin menjejakkan kakiku disana. Aku ingin sekolah di Belanda. Aku ingin berjuang. Aku ingin belajar. Karena orang yang tak cukup berjuang dan hanya mengandalkan keberuntungan, nantinya pun tak akan bisa bertahan disana

Ah, sungguh memaknai film membuatku menjadi orang kaya.
Kaya hati akan emosi dan motivasi.


Karena sesungguhnya semua hal yang diciptakan dari hati, bagaimana pun bentuknya nanti, pasti akan sampai ke hati juga.
Jadi, apa pun makna yang kamu dapat, bila itu benar-benar sampai ke hatimu, berpeganglah.

Wednesday, November 18, 2015

What are we doing?

"We used the word "family" but we didn't feel it."

I was in the middle of a conversation with a friend, when suddenly I realized we've spent years working together yet we didn't know each other as if we were family.

The main point of joining a community is supposed to be making new friends, creating good relationships, and knowing people around you as much as you can. But here we are, trapped in a system that make us focus on projects with our own ego, instead of gaining the main point.

In the end, we didn't get the joy of getting new friends.
We created hate and disunity behind.

And I refuse to go with the system. The hate and discomfort, I convince myself that those are not my goals. I want to make friends, a lot of them. And ego wouldn't help me.

Yes, sometimes people disappointed us, I felt them too. However, it's not worth to make it everlasting because I am so sure the disappointment came from working together for some projects that couldn't even define the real us.

I decided to stop the system and fix things that already happened.
Shut your ego and start to know each other.

Monday, October 26, 2015

La historia me absolvera.




Sebuah lagu yang saya ketahui ceritanya dari Banda Neira.
Lagu apik sarat makna yang dinyanyikan ulang oleh mereka.
Hanya itu yang bisa saya rasakan, sampai akhirnya kemarin Sabtu.

Saya menyaksikan langsung lagu itu dilantunkan.
Sebuah lagu yang setelah saya saksikan dengan mata, hati, dan telinga, sangat magis.

Saya pejamkan mata. Dan. Bergetar.



Sebelumnya, perlu Anda ketahui bahwa pasca terjadinya tragedi 1965, negeri ini begitu mencekam karena tindakan tidak manusiawi. Banyak sekali tahanan politik yang menjadi korban ketidakadilan, baik secara fisik maupun psikis.

Tini dan Yanti adalah salah satu lagu dibalik ruji penjara tahanan politik Pekambingan, Denpasar.
Lirik yang ditemukan di dinding penjara ini, ditulis oleh seorang ayah yang dijebloskan ke penjara ketika istrinya sedang hamil. Tini adalah nama istrinya, dan anak yang masih di dalam kandungan, ia bayangkan sebagai Yanti. Lirik yang merupakan pesan untuk anaknya, bahwa ayahnya tidak jahat. Bahwa ayahnya berjuang melawan ketidakadilan. Dan ia percaya, bahwa di masa yang akan datang, sejarah akan membebaskannya. Pesan seorang ayah pada anaknya, yang akhirnya tak sempat bertemu karena terlanjur dieksekusi.

Ada baiknya, anda menyimak artikel disini.



Tini dan Yanti, kepergianku buat kehadiran di hari esok yang gemilang.
Jangan kecewa, meski derita menantang, itu adalah mulia.
Tiada bingkisan, hanya kecintaan akan kebebasan mendatang.
La historia me absolvera,





La historia me absolvera.