Sunday, August 31, 2014

Tulisan di Sudut Layar

seorang anak kecil menangkup setangkai bunga dengan kedua tangannya. masih hidup.
berdiri di antara batas harapan dan kenyataan. harapan ingin semua hidup dengan saling menggenggam. kenyataan hanya ada tanah lapang dengan mesin-mesin menerkam.
dia berjalan, ke asal.
menyeruak di antara kerumunan penunduk
maya dan nyata tinggal sebatas jendela
tapi di tangannya ada hidup yang menunggu
"bawa apa kak?" tanya anak kecil yang masih menengadah
"ini hidup."
"bukannya itu bunga kak? kok dibawa-bawa?"
"iya ini bunga. satu."


Tulisan yang sudah sejak lama ada di desktop laptop bersama note-note penting organisasi.
Entah apa maksudnya, tapi banyak orang menilai tulisan ini dalam.

Sayang, bukan aku penulisnya.

Saturday, August 30, 2014

Meski Bangsa Justru Memangsa

Kalau besok punya anak
Ku biarkan ia pilih citanya
Ingin jadi apa aku rela
Asal ia tak lupa bangsa

Tapi harus ku jawab apa
Jika ia cinta lapangan bola
Ingin jadi pesepak bola
Ah aku jadi tak tega

Menggiring bola di Indonesia akan susah
Bahagia dengan siap tak berupah
Ku tau larinya kan gagah,
Namun tak mau hidupnya terengah

Haruskah ku paksa ia berhenti mencinta?
Memilih jalan hidup lainnya?
Atau kubiarkan ia mengejar cita?
Tersenyum bahagia,
Meski bangsa justru memangsa.


Sebenarnya aku menulis ini di mobil ketika mengobrol dengan keluarga. Kenapa begitu banyak pekerjaan yang tak dihargai di Indonesia. Aku tau untuk mengubahnya adalah tugas kita semua, dan merupakan perjuangan yang akan panjang tak bisa terselesaikan dalam satu dua generasi saja. Namun bagaimana perasaan seorang ayah dan ibu jika anaknya mencintai sesuatu yang tak dihargai bangsanya. Kebahagiaan anak pasti tak terkira nilainya. Namun akan hidup dengan apa jika pekerjaan tak dihargai bangsanya. Godaan untuk keluar pasti besar. Tidak mau khianati bangsa ini, karena mencintai Indonesia. Namun juga tak tega membayangkan anaknya terseok-seok, karena mencintai anaknya.

Ah masalah orang dewasa memang pelik.

Mungkin aku akan kembali ke masa kecil saja.
Kembali menendang bola sepak dengan bahagia.

Tuesday, August 19, 2014

I Will Always Do

There are places I remember
All my life though some have changed
Some forever not for better
Some have gone and some remain
All these places have their moments
With lovers and friends I still can recall
Some are dead and some are living
In my life I've loved them all

But of all these friends and lovers
There is no one compares with you
And these memories lose their meaning
When I think of love as something new
Though I know I'll never lose affection
For people and things that went before
I know I'll often stop and think about them
In my life, I love you more

In My Life - The Beatles


Saya sudah merasakan bagaimana ketika kehidupan memberi saya sebuket bunga yang wangi, lalu tiba-tiba menampar pipi saya dari samping. Saya sudah mendatangi ribuan tempat yang membuat saya terpana akan keindahannya, atau menahan sesak karena kesenduannya. Saya sudah mengenal banyak orang, lawan jadi kawan, maupun kawan jadi lawan. Saya merasakan berbagai macam kebahagiaan, kasih sayang, dan cinta.

Sembilan belas tahun hidup di dunia, sepertinya sudah cukup bagi saya untuk membuat sebuah penilaian secara dewasa.


You are the most wonderful people I've ever known. Compared to even the most cherished of all of my life's memories,
Ibu, Bapak, I love you more.

Monday, August 18, 2014

Nanti

Sudah berhari-hari.
Saya sedang bingung akan banyak hal. Bingung sekali.
Saya tak marah, hanya kecewa pada diri sendiri.

Saya memang selalu bercerita. Kepada orang tua jika bahagia, dan kepada teman-teman jika berduka. Namun kali ini saya sadar, masalah ini hanya tentang saya. Saya melawan dunia saya. Hanya saya yang bisa mengerti, hanya saya yang bisa menyelesaikan.

Kali ini keluhan dalam tulisan pun tak bisa melegakan.
Saya ingin menjadikan sesuatu seperti yang saya inginkan.
Saya ingin ketololan ini segera terselesaikan.
Meski tak karuan, saya usahakan semua dengan senyuman.

Biar saya belajar hadapi sendiri.
Biar saya berjuang mandiri.
Jangan sampai menyerah, nanti.
Meski sungguh saya bersedih hati.

Saturday, August 9, 2014

Kira

Semua bahagia dengan segala pura.
Apa bahagia adalah bahagia jika sandiwara?
Aku kira akan berbeda.
Aku kira tak ada topeng.




Ternyata sama saja.

Kembali hidup seperti dulu.


Sampah.

Friday, August 8, 2014

Seorang Laki-laki dan Bahagianya

1945.

Dua malaikat sedang duduk di bawah pohon asam jawa di halaman sebuah rumah sederhana yang sedang sedikit gaduh. Kelahiran.

"Dengar suaranya."
"Ya, sejuk."
"Ya. Semoga menjadi bagian dari laki-laki yang baik hidupnya."


***


1960.

"Lihatlah betapa sudah besar."
"Ya. Dewasa dan sederhana."
"Sopannya ia bertutur, pandainya ia mengatur."
"Tidakkah kau ingin memberinya hadiah ulang tahun?"
"Tentu, sudah disiapkan."
"Aku pun. Apa hadiahmu?"

Bocah itu sedang membantu ayahnya mencuci sepeda. Sepeda yang biasa mengangkut Suara Rakyat, Harian Umum, dan koran-koran lainnya. Ia sama sekali tak menyadari bahwa hari itu, dua doa telah dihembuskan.

"Ia akan disenangi dan dihormati, atas ketulusan dan kesopanannya."
"Hidupnya akan selalu bahagia, dalam sebuah kesederhanaan."



*********


Tulisan fiksi ini terinspirasi dari seorang bapak pegawai harian Kedaulatan Rakyat yang setiap bulan datang ke rumah saya menyampaikan tagihan koran. Bapak yang tak saya ketahui namanya ini sudah tua, penampilannya sederhana sekali. Yang membuat saya terharu, bapak ini sangat sopan dalam bertutur kata. Sopan sekali, lembut, sama sekali tak dibuat-buat. Ia selalu tersenyum, tampak tulus melakoni pekerjaannya. Ia datang mengendarai motor tuanya. Setelah membayarkan tagihan, saya selalu menunggui bapak ini pergi hingga hilang dari pandangan saya. Kadang saya tak tega melihat ia menaiki motornya seorang diri.

Terima kasih, Pak.
Semoga Bapak senantiasa diberi kesehatan, dan kebahagiaan dalam kesederhanaan.

Wednesday, August 6, 2014

#marimembaca

Buku adalah jendela dunia bukanlah quote yang mengada-ada. Orang yang gemar membaca buku pasti berwawasan luas dan berpikiran terbuka.

Membaca buku itu seperti investasi. Hasilnya akan kamu petik kelak ketika hidup kamu jalani. Silahkan tanya Bung Hatta atau Soe Hok Gie jika tak percaya. Tanyakan pada tokoh-tokoh besar di seluruh dunia.

Saya sedih ketika adik-adik saya tak suka membaca. Saya sedih ketika gadget memangkas waktu intim manusia bersama buku, termasuk saya. Saya sedih ketika perpustakaan yang kerap saya kunjungi saat SD sudah tak ada. Saya sedih ketika orang-orang menganggap membaca buku adalah hal yang biasa saja dan wajar jika dilewatkan.

Saya hanya merasa, orang-orang yang jarang membaca buku benar-benar merugi dalam hidupnya.

Wednesday, July 30, 2014

Six-year-old me was scared of cockroach though

"You should be scared of something sometimes hahaha."

Those words came out of her mouth, a friend of mine. Meski tak diucapkan dengan serius, kata-kata itu keluar. Katanya, aku ini terkadang memang sangat membantu, karena aku bukan penakut. Aku jadi berguna ketika teman-temanku harus berurusan dengan darkness, insects, quiet places, stuff like that.

"Kamu takutnya sama apa sih? Kadang temen-temen di sekitarmu juga pengen jadi orang yang melindungi lho, boys especially. Udah jadi sifat dasar mereka kali hahaha."

Well, should I?

Ah, I don't think so. Kalo bisa melakukan sendiri, kenapa harus pretending something you're not?

Thursday, July 24, 2014

Some Tips to Enjoy Your Life

Tujuh hal menyenangkan tentang pantai dan sore hari yang tak direncanakan.
  1. Kejutan! Bangun tidur tanpa rencana, ternyata harimu berakhir disini. Cukup menyenangkan bukan?
  2. Sejuk dan hangat. Best weather ever! Si surya tidak menyengat kulitmu.
  3. Warna yang mengiringi matahari terbenam menyelimuti pantai, laut, tebing, dan langit. Bukan pemandangan yang bisa kamu lihat di depan rumah (kecuali rumahmu memang di pinggir pantai).
  4. Luas. Tidak akan kehabisan tempat untuk berjalan, mungkin sambil mengobrol. Sampai obrolanmu habis. Atau sampai matahari tenggelam.
  5. Jangan takut untuk berjalan menghadap ke belakang. Jangan tanya kenapa. Sometimes we need to do things for no reasons. It feels good not to think.
  6. Tempat yang bagus untuk menghabiskan waktu sebelum hari keramasmu tiba. Rambutmu akan pernuh dengan pasir, sedikit lengket karena udara yang mengandung air asin, dan tentu saja, acak-acakan.
  7. Hamparan bintang luas!



Parangtritis, 22 Juli 2014

Wednesday, July 9, 2014

Ngomong Soal Demokrasi

Kehidupan demokrasi di Indonesia sedang mencapai sebuah titik baru. Titik yang belum pernah kita alami sebelumnya. Antusiasme begitu tinggi, yang tak jarang berakhir di fanatisme.
Sungguh saya bukan ahli komunikasi apalagi politik. Saya hanya berbicara berdasarkan pengamatan dan pengetahuan dangkal yang saya miliki. Saya tak mengatakan kita tak seharusnya melewati fase ini. Mungkin saja ini memang salah satu langkah yang harus dialami untuk menuju demokrasi yang baik. Mungkin saja tidak. Saya tak tahu.

Saya hanya prihatin melihat fasilitas mengemukakan pendapat di era sosial media ini digunakan oleh masyarakat yang belum siap mengolah informasi. Bagi pengguna sosial media, suka atau tidak, anda akan terjebak dalam lingkaran fenomena ini. Kita belum mau mencerna dan menyaring informasi dengan baik. Dengan teknologi saat ini yang bisa dengan mudah menyebar informasi dalam satu kali klik, penyerapan informasi yang tak sempurna apalagi tak valid, sungguh bahaya.

Kita dengan mudah menyantap apa yang dihidangkan, tanpa mencari tahu bahan dasar yang digunakan. Kita belum mau mencari informasi, kita hanya menerima informasi. Kalo dikasih tau dan diberi, kita mau-mau saja. Toh sudah tersaji. Tapi untuk mencari tahu, kita malas. Mental seperti ini yang dimanfaatkan pihak-pihak tak bertanggung jawab, tanpa kita sadari. Sifat-sifat pengguna sosial media seperti kita, adalah sasaran empuk untuk menanamkan doktrin-doktrin yang melenceng. Dan ini terjadi benar-benar dengan cara perlahan, kita tak akan sadar. Bahkan saya yang sudah menulis seperti ini pun mungkin juga tak sadar telah terdoktrin sesuatu.

Lalu apa hubungannya dengan demokrasi?
Ya, dengan riuhnya pilpres kali ini, jelas saja berpengaruh. Menurut saya, ramainya black campaign tahun ini ya karena oknum-oknum penggiat black campaign tersebut sadar sepenuhnya bahwa kita ini pengguna sosial media bermental malas. Kita mangsa empuk. Tinggal bilang aja si A antek zionis, si B titisan hitler, si C keturunan genderuwo, kita mah iya iya aja hahaha, nggak separah itu sih. Meski tak semata-mata mengiyakan, namun karena kita tak mau mencari tahu informasi yang valid, sebenarnya secara tak sadar kita terdoktrin juga lho. Percaya deh. Soalnya saya juga gitu hahaha.

Lalu, karena hal ini sudah terjadi dan merembet kemana-mana, akibatnya jadi banyak. Informasinya simpang siur tapi asal disebarkan, membuat oknum sana dan sini geram. Jadi perang isu yang tak benar oleh kedua belah pihak tim sukses, ya jadi black campaign yang kalian lihat sehari-hari di timeline twitter itu. Yang tadinya tak ikut bermain, mau tak mau jadi ikut karena terlanjur masuk ke panggung. Akhirnya karena persaingannya tak sehat, perbedaan pendapat pun menjadi perpecahan.

Jadi, apa yang harus kita lakukan?
Menurut saya sih sederhana saja, mari rajin mencari tahu. Bukan demi kebaikan pihak tertentu, namun demi keobjektifan sebuah informasi. Kadang saya lebih memilih menghindari berita tentang sesuatu yang keobjektifannya meragukan, jika saya sedang malas mencerna dan menyaring informasinya. Hahaha mungkin ini cara yang salah. Anda bisa cari cara yang lain.

Ya intinya, bijak dalam mengolah informasi. Tak hanya dalam konteks pilpres saja, namun untuk segala urusan. Dampak kecilnya, agar kita semakin dewasa menghadapi peristiwa. Dampak besarnya, agar bangsa ini bisa berdemokrasi dengan cerdas.


Selamat berpendapat!