Sunday, December 17, 2017

Mas Bumi

Mas Bumi, kamu pernah bilang,
Mencari bahagia itu seperti membeli kue cubit.

Ada yang menyukai setengah matang, ada yang tidak bisa makan kalau tidak sepenuhnya matang.
Ada yang suka taburan coklat di atasnya, ada yang lebih suka dengan keju atau susu.
Ada yang hobi hingga tiap hari beli, ada yang tak suka bahkan tak pernah mencoba.

Kalau kau sebut bahagiamu itu coklat, jangan paksa temanmu yang suka keju untuk bahagia memakan coklat.

Bukan kah sederhana saja pola pikir itu?

Ada orang-orang yang mengejar kehidupan mapan dengan menjadi karyawan bergaji besar, ada yang bertahan berjualan kaos kaki di pinggir jalan.
Ada orang-orang yang bergonta-ganti tempat makan setiap malam, ada yang menyalakan lampu minyak untuk makan nasi bungkus berdua dengan anaknya.
Ada yang bangun pagi setiap hari untuk membuka toko kelontongnya, ada yang beraktivitas malam hari menulis novel fiksinya.

Mas Bumi, kesalahan terbesarku adalah memukul rata arti bahagia.
Memandang kagum dan iri pada yang di atas, menganggap mereka lebih bahagia dariku.
Merasa prihatin dan kasihan pada yang di bawah, menganggap mereka tidak bahagia sepertiku.

Sungguh, Mas Bumi, baru ku sadari, sesungguhnya tak pernah ada atas dan bawah untuk bahagia.
Semua punya definisi masing-masing, dan semua menjalankan peran sesuai keinginannya.

Sungguh, Mas Bumi, jika kamu masih di sini, mungkin aku tak sebingung ini.
Mencoret kesana dan kemari, membuat arti bahagia milikku sendiri.

Mas Bumi,
Nanti aku akan tulis surat untukmu lagi.
Saat hujan berhenti,
Atau saat ku temukan bahagia yang dicari.

Tuesday, August 1, 2017

Melepas Waktu #2

Tulisan ini bagian dari Melepas Waktu, sebuah rangkaian tulisan tentang aku dan Papua.
Tentang Melepas Waktu bisa dilihat di sini.
Tulisan Melepas Waktu #1 bisa dilihat di sini
Semua foto diambil oleh Upan.

***

Suatu sore yang cerah, kami berkendara dengan pick up kesayangan kami menuju Kampung Warsa, desa di sebelah barat Kampung Warbor.
Setelah berdiskusi sana-sini dengan beberapa pihak, dari Pantai Warsa kami menyeberang ke sebuah pulau kecil di Urbowi.


Bukan, ini bukan pulau. Sebenarnya ini adalah sebuah gundukan pasir yang menyembul di tengah teluk yang dikelilingi oleh hutan bakau. Gundukan pasir ini biasa disebut Pulau Timbul Tenggelam karena hanya akan muncul ketika air laut surut.
Diameternya mungkin hanya sekitar 15 meter, tergantung pasang surut air laut saat itu. Kemudian di sekelilingnya adalah laut dangkal dengan air  jernih yang di dasarnya terdapat banyak sekali bintang laut.


Kami puas berenang dan bermain air di tengah laut, dengan langit cerah, tanpa suara.
Namun hal yang sangat magis adalah saat langit mulai meredup.

Sore itu, terduduk merendam tubuhku di air laut, ketika matahari mulai terbenam dan langit berwarna jingga keunguan, aku hanya bisa terdiam dan menyebut nama Tuhan berulang kali.
Kami semua tak bisa berkata. Selama beberapa menit kami hanya bisa terpaku menyaksikan indahnya matahari terbenam sore itu, sambil bergelut dengan pikiran masing-masing.

Entah milik mereka, tapi pikiranku hanya ada rasa syukur yang tak terkira.


Sunday, July 2, 2017

Lintang untuk Ikal

Seperti Ikal, aku ingin menciptakan Lintangku sendiri.

Mengeluarkan sisi baikku yang tersisa, memberinya kesempatan untuk berdiri sendiri, dan menyematkan nama yang manis padanya.
Ku kenalkan ia pada dunia, kemudian kami akan berteman baik, tentu saja.

Layaknya Lintang untuk Ikal.
Aku akan selalu menjadi nomor dua, pengakuan dan pujian akan jatuh padanya,
Namun pada akhirnya, aku cukup bahagia karena punya teman bercerita.
Kalau tak tahu lagi akan kemana, aku akan mengejarnya.
Kalau tak tahu lagi harus bagaimana, aku akan mengamatinya.
Kemudian perlahan ia akan menyelamatkanku dari kebingungan.

Saat-saat seperti ini, aku ingin menciptakan Lintangku sendiri.
Tolong, aku terbentur kacau.
Sesak, aku ingin duduk bersamanya dalam sepi, bercerita dalam diam.
Atau mungkin air mata.
Menanti orang lain, aku memilih menanti Lintang menyeka tangisku,


Kemudian perlahan ia akan menyelamatkanku dari ketidaktahuan.




Thursday, June 1, 2017

Pelacur, Penipu, dan Pola Pikir Kita

Aku dan Wulan suka membicarakan banyak hal. Salah satunya, kami pernah membahas kenapa seorang pelacur begitu hinanya di mata manusia dibanding bapak-bapak parlemen yang menipu dan makan uang rakyat setiap hari.

Suatu hari aku membaca sebuah tulisan di media sosial tentang seorang perempuan yang bekerja sebagai pelacur demi membiayai kuliahnya dan adiknya. Suatu kali aibnya tersebar. Akibat tekanan sosial yang begitu besar, ia meninggalkan bangku kuliah. Meninggalkan teman-teman dekatnya. Meninggalkan mimpinya untuk menjadi seorang arsitek. Ia menghilang. Di akhir cerita, disebutkan ia meninggal dunia akibat sakit parah. Mungkin sebenarnya ia sudah lama meninggal. Meninggal akibat dibunuh oleh hinaan dan tatapan jijik lingkungannya.

I'm not saying that being prostitute is something good

Aku hanya berpikir.
Kita ini kok suka ngurusin hidup orang lain ya. Suka ngurusin hubungan orang lain dengan Tuhannya, dan mempermasalahkannya besar-besaran.
Sedangkan orang-orang yang korupsi, menyuap, hal-hal atas nama kemanusiaan, merugikan manusia lain dengan masif, dianggapnya wajar.

Kemudian jadi teringat tulisan Ahmad Tohari yang pernah kubaca. Sepertinya logika yang diutarakan beliau lewat tokoh Kabul di novelnya yang berjudul Orang-Orang Proyek ini sangat relevan.




Kita ini suka menjadikan proses sebagai tujuan. Proses memang sesuatu yang harus dilakukan. Tapi tetap saja, proses bukanlah tujuan.
Tujuannya tak digubris. Prosesnya digembar-gemborkan.

Susah mengubah pola pikir seperti ini.
Sesungguhnya tulisan ini sebagai pengingat bagi sendiri.

Mari berpikir dengan cerdas, dan terus memperbaiki diri.

Saturday, May 13, 2017

Melepas Waktu #1

(Tulisan ini bagian dari Melepas Waktu)

***

Melihat langit malam sudah menjadi kesukaanku sejak dulu.
Aku biasa berdiam diri sendiri di halaman villa kaliurang saat makrab, di tengah hutan saat "makrab" (hehe), di pinggir pantai saat beach camp, dan yang paling sering adalah di depan garasi rumah. Sudah tak perlu kuceritakan lagi bagaimana aku mengagumi langit malam, sudah pernah kutulis juga di blog ini.

Namun langit malam di Papua benar-benar berbeda.
Adalah langit terindah yang pernah kulihat seumur hidupku, bukan langit yang bisa kutemui disini, di tempat-tempat gelap seperti pantai dan hutan sekali pun.
Bintangnya begitu terang dan rapat. Langit benar-benar penuh dengan bintang, hampir tak ada tempat kosong di kanvas bertabur bintang itu. Milky way tampak begitu jelas dan indah, kasatmata.
Peta bintang yang biasa ku pakai di rumah, tak akan bisa kupakai di sini, karena terlalu banyak bintang yang harus dibaca, mereka terlalu rapat.
Aku juga tak tau kenapa. Tapi langit Warbor benar-benar bisa membuatku seperti ada di luar angkasa. 

Di mana pun aku menatap langit malam, rasi bintang yang pertama ku cari adalah scorpion. Satu-satunya rasi yang bisa kutemukan tanpa melihat peta bintang hehe. Suatu malam, aku bahagia sekali bisa menunjukkan rasi itu pada Bima, dan berhasil mengukir raut terpukau di wajahnya.


Oiya, sebelum menginjak Papua, aku belum pernah melihat bintang jatuh.
Tapi di sana, hampir setiap malam langkah pulangku ditemani banyak sekali bintang jatuh. Jelas sekali.
Pertama kali aku dan teman-teman menyaksikan bintang jatuh, kami terkagum-kagum. Namun hari-hari berikutnya menjadi biasa saja karena bintang jatuh dengan mudahnya kami temukan tiap kali kami memandang ke atas saat malam hari hahaha.

Ah, perjalanan pulang dengan berjalan kaki setiap malam selama dua bulan di sana sungguh kurindukan.
Langit Papua begitu memikat hatiku.

foto diambil oleh Upan di sepanjang jalan Kampung Warbor, Supiori Utara, Papua.

Wednesday, May 10, 2017

Melepas Waktu

“Kalau sampe terjadi hal-hal buruk, sebut nama Allah ya, Nduk. Jangan sebut yang lain. Sebut nama Allah,” begitu ucap mbah putri ketika melepas kepergianku ke Papua, dengan nada penuh dengan kekhawatiran. Sepertinya ia belum ikhlas melepas cucunya pergi.

Nyatanya Papua benar-benar membuatku tercekat dan mengucap nama Tuhanku berulang kali.
Bukan karena hal buruk. Melainkan karena hal-hal terlampau indah di luar nalarku. Hal-hal yang kusaksikan dengan mata kepalaku sendiri, yang begitu menyentuh perasaanku, hingga tak tau lagi harus berkata apa selain menyebut nama Allah.
Alam Papua tak hanya memanjakan mata, namun juga meneduhkan hati.

Aku bukan orang yang religius.
Tapi Papua, membuatku mencintai hidupku, bumi ini, dan Tuhanku lebih lagi.


Dalam beberapa tulisan ke depan, aku akan mencoba menceritakan beberapa pengalaman yang kualami tersebut, dengan judul dan label "Melepas Waktu".
Entah apakah tulisan ini akan memberi manfaat, karena sudah pasti takkan bisa menggambarkan bagaimana persisnya. Yah, paling tidak sekedar menjadi pengingat untuk diri sendiri ketika suatu hari nanti lupa datang menghampiri.


Monday, May 8, 2017

Membeli dengan Waktu

Aku tidak pernah suka jalan-jalan di mall.
Tapi tak pernah merasa keberatan saat ada janji dengan teman-teman di sana.

Aku tak terlalu suka makan di tempat-tempat formal, atau tempat yang “terang” dengan rasa yang sesungguhnya gitu-gitu aja.
Tapi tak pernah menolak saat teman-temanku mengajak berkumpul dan makan-makan di sana.

Aku tidak pernah bisa memahami bagaimana orang-orang bisa begitu menikmati kopi.
Tapi selalu mengiyakan setiap teman-temanku berujar “Ngopi yuk.”


Karena aku tidak pernah membeli makanan, minuman, atau tempat yang bagus dengan uangku.
Aku membeli obrolan, tawa, keluhan, dan elemen lain dari sebuah pertemanan dengan waktuku.

Tuesday, April 18, 2017

Jarak

Jarak ditemani dua titik.
Semesta tentukan letak keduanya.
Lalu bagaimana kita tau?

***

Jarak telah lama menjadi musuhku
Tapi ia juga tanpa pamrih menjadi kawanku.


Jarak pernah menunjukkan padaku apa yang seorang ibu rela korbankan untukku, anaknya yang saat itu belum bisa apa-apa.

Pernah suatu kali hati seorang perempuan renta hancur, di depan mataku.
Konon, jarak berperan besar atas air matanya. Nenekku.

Lain waktu, aku terlena oleh rekat. Berkutat pada kesia-siaan yang sama, sampai akhirnya jarak hadir menyelamatkanku dari kebodohan.

Tapi jarak bisa begitu kejam, menghantuiku bahkan sebelum hadir.
Ia tiba-tiba muncul ketika lonceng perpisahan berdentang. Entah siapa yang memukul.

Kemudian jarak bisa menjelma menjadi yang paling jahat,
Saat tak bisa ku ukur dengan peta apa pun.
Saat tak bisa terdeteksi satelit mana pun.
Saat satu-satunya cara hanyalah menerka
Padahal dekapmu terasa begitu dekat.

Atau jangan-jangan,
Aku yang tak bisa menemukan diriku sendiri?
Aku yang tersesat selama ini?

Untungnya menulis membuatku sedikit lega,
Membuatku merasa melakukan perjalanan,
Memangkas jarak sedikit demi sedikit.
Tapi,
Untuk apa?

***

Sepertinya aku memutuskan untuk tersesat dengan bahagia.



Sunday, March 26, 2017

Bapa

Assalamualaikum, Bapa.
Shalom.

Bapa, seorang yang religius, yang dihormati warga kampung.
Bapa, seorang ketua jemaat di gereja, seorang ketua badan musyawarah kampung.
Bapa, yang rumahnya selalu jadi tempat peraduan ketua-ketua RT dan kepala kampung.
Bapa, yang rumahnya selalu jadi tempat pengaduan warga dengan masalah-masalahnya.
Bapa, yang mengorbankan waktu, tenaga, materi, demi kebaikan masyarakat.
Bapa, seorang yang bijaksana.

Bapa yang selalu kasih semangat untuk saya dan teman-teman saat gairah mengerjakan program untuk kampung mulai menghilang.
Bapa yang selalu bangun pagi, menyiapkan segala hal, mengingatkan ini dan itu, demi saya dan teman-teman bisa melaksanakan program dengan lancar.
Demi kampung.
Bapa yang setelah bekerja di kota selama bertahun-tahun, pulang ke kampung dan mengabdikan diri untuk warga kampung.
Bapa adalah seorang yang mengajarkan saya tentang arti pengabdian yang tulus.

Bapa,
Bapa adalah alasan saya bisa menyebut Papua sebagai rumah.
Bapa adalah alasan saya percaya kasih sayang menembus perbedaan.
Bapa yang sejak hari pertama saya injakkan kaki di Supiori, sudah membuat saya merenungi banyak hal.

"Kulit, rambut, kita semua sama, dari Sabang sampai Merauke, kita tetap satu to, Indonesia."
Bayangkan mendengar ini dari seorang yang tinggal di tempat terpencil di tanah Papua.

"Lia adalah anak Bapa. Sampaikan pada orang tua di Jawa, kalau Lia sudah punya orang tua angkat di Papua."
Satu hari tinggal di Papua, saya sudah merasakan kasih sayang yang luar biasa.

Bapa selalu mau dengar cerita-cerita saya, selalu sempatkan waktu di pagi atau malam hari untuk bercengkerama dengan anaknya.
Bapa yang selalu bilang terima kasih karena Lia sudah mau meninggalkan keluarga jauh-jauh untuk mengabdi dan menemui Bapa di tanah terpencil.
Bapa yang selalu tanya, "Lia mau jadi apa setelah lulus nanti?"
Dan setiap saya bilang mau terjun di dunia kereta api, Bapa akan menjawab, "Wah, berarti kerja di perkotaan, di kota-kota besar yang butuh kereta api."
Saya selalu bilang ke Bapa kalau saya akan selalu pulang ke kampung, ke rumah Bapa, yang sekarang juga jadi rumah saya.

Selama tinggal di sana, Bapa selalu bilang, "Nanti kalau ada kesempatan dan sinyal bagus, Bapa ingin sekali bicara dengan orang tua Lia di Jawa."
Dan hari itu, ketika Bapa naik motor jauh-jauh dari Supiori untuk melepas kepergian saya di bandara, Bapa akhirnya berkesempatan berbicara langsung dengan Ibu lewat telfon genggam.
"Assalamualaikum, Ibu," ujar Bapa.
Kemudian Bapa memperkenalkan diri dan sampaikan bahwa selama ini saya tinggal dengan orang tua dan keluarga di Papua. Bapa ucapkan terima kasih.
Bapa yang sungguh tulus hati.

Bapa mungkin adalah pemilik pelukan paling hangat, hingga saya tak segan mencurahkan segala kesedihan di dalam pelukannya.
Bapa, selalu memeluk saya dengan sepenuh hati, mengusap pundak saya dan berkata semua akan baik-baik saja, setiap kali saya menangisi perpisahan kita.


Setelah tujuh bulan, tangis rindu ternyata belum usai.
Tapi lagi-lagi saya bisa apa selain menangis dan berdoa.
Bapa, izinkan saya belajar dulu,
Izinkan saya kejar cita-cita dulu,
Bapa harus sehat.
Bapa harus terus sehat.
Kenyataan bahwa saya selalu mendoakan Bapa untuk terus sehat,
Semata-mata agar Bapa masih bisa menunggu di pintu rumah ketika suatu hari nanti saya pulang.


Thursday, March 23, 2017

Cruel World

Aku sangat meyakini bahwa berteman baik membuat hidupku lebih berharga.

I've been thinking that friendship is much more worth fighting for than any other relationships.
Having best friends around me makes me happy. No. More than that.
I feel blessed.
Because I know no matter how hard life smashes me to the ground, they will always be there for me.
I believed that my best friends will stay by my side while lovers come and go.
And I'm always scared when it comes to loosing a best friend.

But then a good friend of mine told me something actually I do know, but don't realize.
He said that as we grow old, we are forced to fight for our own life.
We will have our own path, not having the same perspective as we did before, and finally live our life differently.
We are forced to be a lil bit selfish, and that's the beginning of loosing friendship chemistry.
I'm not saying that it happens to all friendship, but mostly it does.

Then he said again, no matter how great your friendship are, how close you and your best friends are, in the end, the one who will always be by our side are the one you choose to be your lover.

I fell silent that night.

I think of my best buddies from years ago who still come to my house anytime I need them up to now. Who still pick up my pathetic phone call. Who still listen to my stupid grumble without complaining. Who don't mind spending the night doing nothing without being awkward.

I never expect my future would sacrifice such thing.
What a cruel world we live in.