Wednesday, January 27, 2016

Aku Rindu

Sudah hampir empat tahun sejak 9 Juli 2011.

Bapak,
Saya rindu..

Bapak,
Apa kabar?
Ingin rasanya berkunjung ke bengkel Panama untuk sekedar menyapa.
Tempat terakhir saya lihat Bapak.

Bapak,
Saya sudah tahun ketiga di bangku kuliah.
Waktu berlalu begitu cepat, ya?
Meski tak terlalu hebat, sudah banyak yang saya capai.
Dan saya percaya, saya disini karena Bapak.

Bapak,
Ingin rasanya memberitahumu.
Bahwa segala toleransi dan pikiran yang terbuka berasal darimu.
Kemana pun nanti masa depan membawa saya,
Bapak akan selalu menjadi bagian dari hidup saya.

Bapak,
Mereka bilang pertemuan menghapus rindu.
Namun doa mengobati dan membuatnya kekal.
Saya ingin sekali berjumpa, ingin sekali..


Selamat ulang tahun, Bapak.
Hormat saya sepenuh jiwa raga.



26 Januari 2016
Dahlia Anggita Zahra, RSBI II angkatan 2010

Monday, January 4, 2016

Satu Lagi Revolusioner

Aku mengenal dua pengajar di kampusku yang begitu ku kagumi. Dua orang yang amat sangat ku yakini memiliki integritas tinggi. Pengajar yang tak hanya mengajarkan teori, namun juga melecut dan memotivasi anak didiknya. Pengajar yang tidak hanya pintar, namun mempunyai keinginan untuk membentuk anak didiknya menjadi orang yang bermanfaat, dengan caranya masing-masing. Yang satu penuh keramahtamahan, senyuman, dan canda. Yang satu, adalah seseorang yang ingin aku ceritakan lebih lanjut.


-----


Hidupku sebagai seorang mahasiswa berjalan pasrah saja.

Sampai akhirnya aku bertemu beliau.

Sebelumnya, aku hanya tau nama dan cerita-cerita dari mulut orang. Kemudian, pagi itu adalah kuliah pertamaku dengan beliau. Aku ingat betul, pagi itu di ruang 308 kami semua berdebar, kombinasi dari takut dan penasaran, menanti kehadiran beliau di kelas.

Benar saja. Perasaan takut dan penasaran terbayar nyata. Dengan hinaan dan cercaan, beliau menyampaikan kuliahnya. Dengan ketegasannya beliau membabat habis mental-mental keledai kami.
Namun, dari latar belakang dan kisah hidupnya, aku mengerti dari mana semua emosi dan kedisiplinan itu berasal. Dari prestasi dan pencapaiannya, aku mengerti apa tujuan beliau sesungguhnya.

Pagi itu di tengah hinaan dan cercaan dengan hati deg-degan ketakutan, kekagumanku mulai tumbuh. Mungkin tidak semua orang bisa menerima caranya. Tapi aku, aku menghargai, menghormati, dan mengaguminya sepenuh hatiku.

Di semester-semester berikutnya, setiap akan memasuki kelasnya, beliau membuatku mual membayangkan bagaimana tegangnya suasana kelas nanti.
Namun, setiap selesai kelasnya, tak hanya mendapat ilmu (karena sesungguhnya dibalik cercaannya, pemaparan materi beliau sangat mudah diterima), beliau juga membuatku mengeluarkan kata-kata "Kok bisa sih aku jadi mahasiswa gini-gini aja?", atau "Kok bisa-bisanya aku dihina dan hinaannya adalah fakta? Aku harus belajar", dan kata-kata semacamnya.

Ia adalah satu-satunya pengajar yang mampu menamparku dari segala arah. Satu-satunya pengajar yang membuatku sadar, bahwa mahasiswa adalah jabatan yang tidak main-main.

Ia mampu membuatku malu dengan kemudahan yang aku dapat, dibandingkan dengan kisah hidup dan pencapaiannya.
Ia mampu membuatku mau berusaha mengerjakan PR-ku sendiri.
Ia mampu membuatku memasuki perpustakaan kampus dan meminjam beberapa buku berbahasa inggris.
Ia mampu membuatku belajar di malam hari meski tak ada tuntutan tugas, kuis, mau pun ujian.
Ia mampu membuatku sedih ketika selesai ujian aku merasa tak memahami konsep, meski berhasil menjawab semua soal.

Ia mampu membuatku memahami arti menjadi mahasiswa. Arti mencari ilmu yang sesungguhnya dan tidak melihatnya sebagai hak atau pun tanggung jawab, namun sebagai kenikmatan akan memahami.

Ia membuatku ingin menjadi manusia yang tangguh.

Bagiku, hinaannya bukan hinaan yang menjatuhkan. Hinaannya adalah hinaan yang memotivasi.
Bagiku, ketegasannya bukan untuk menghambat. Ketegasannya adalah bentuk kepedulian.
Dan bagiku, orang-orang yang tidak bisa menerima cara beliau dan justru mundur/menentangnya, adalah orang-orang yang tak cukup tangguh untuk mau berubah menjadi lebih baik.


-----


Pak Edi guru Bahasa Indonesia-ku di SMP adalah seorang revolusioner bagiku.
Dan setelah sekian tahun, sepertinya aku menemukan satu lagi revolusioner dalam hidupku.

Wednesday, December 30, 2015

Memaknai Karya

Dalam kejadian, perasaan, hidup, setiap orang akan menciptakan makna sendiri melalui kacamatanya masing-masing.

Seperti halnya yang terjadi denganku dalam memaknai karya. Film.


Seorang sutradara pasti memiliki misi. Misi menyampaikan rasa kepada orang banyak lewat karyanya.
Namun, sutradara tetap manusia. Seapik apa pun garapannya, selugas apa pun kontennya, intinya, sekeras apa pun ia berusaha, sutradara nggak akan bisa memaksa penonton secara seragam menangkap apa yang ia rasakan.

Penonton, punya hak penuh atas kegiatan memaknai film. Seliar apa pun itu.

Seperti aku dan film Laskar Pelangi.
Ada yang memaknai film ini sebagai potret tragedi pendidikan Indonesia.
Ada pula yang beranggapan film ini mengajarkan ketulusan, cinta kasih seorang guru.
Ada yang terinspirasi oleh persahabatan dan perjuangan anak-anak miskin.
Dan masih banyak lagi.
Aku sendiri, memaknai film ini sebagai sebuah pukulan dashyat tepat di tenggorokanku.
Sebuah karya yang membuatku tersadar bahwa sekolah adalah sebuah kenikmatan yang tak terkira, sekaligus sebuah tanggung jawab yang luar biasa.

Lalu, sebenernya aku baru saja menyaksikan sebuah film yang membuatku ingin menulis ini semua.
Aku dan film Negeri Van Oranje.
Sebuah film dengan jalan cerita yang sederhana namun penokohan yang amat menarik dan pas.
Di 3/4 durasi film, aku bergetar dan sedikit menitikkan air mata. Di 3/4 durasi, aku menemukan makna film ini untuk diriku: I'm dying to go to Netherlands.
Aku ingin ke Belanda. Aku ingin menjejakkan kakiku disana. Aku ingin sekolah di Belanda. Aku ingin berjuang. Aku ingin belajar. Karena orang yang tak cukup berjuang dan hanya mengandalkan keberuntungan, nantinya pun tak akan bisa bertahan disana

Ah, sungguh memaknai film membuatku menjadi orang kaya.
Kaya hati akan emosi dan motivasi.


Karena sesungguhnya semua hal yang diciptakan dari hati, bagaimana pun bentuknya nanti, pasti akan sampai ke hati juga.
Jadi, apa pun makna yang kamu dapat, bila itu benar-benar sampai ke hatimu, berpeganglah.

Wednesday, November 18, 2015

What are we doing?

"We used the word "family" but we didn't feel it."

I was in the middle of a conversation with a friend, when suddenly I realized we've spent years working together yet we didn't know each other as if we were family.

The main point of joining a community is supposed to be making new friends, creating good relationships, and knowing people around you as much as you can. But here we are, trapped in a system that make us focus on projects with our own ego, instead of gaining the main point.

In the end, we didn't get the joy of getting new friends.
We created hate and disunity behind.

And I refuse to go with the system. The hate and discomfort, I convince myself that those are not my goals. I want to make friends, a lot of them. And ego wouldn't help me.

Yes, sometimes people disappointed us, I felt them too. However, it's not worth to make it everlasting because I am so sure the disappointment came from working together for some projects that couldn't even define the real us.

I decided to stop the system and fix things that already happened.
Shut your ego and start to know each other.

Monday, October 26, 2015

La historia me absolvera.




Sebuah lagu yang saya ketahui ceritanya dari Banda Neira.
Lagu apik sarat makna yang dinyanyikan ulang oleh mereka.
Hanya itu yang bisa saya rasakan, sampai akhirnya kemarin Sabtu.

Saya menyaksikan langsung lagu itu dilantunkan.
Sebuah lagu yang setelah saya saksikan dengan mata, hati, dan telinga, sangat magis.

Saya pejamkan mata. Dan. Bergetar.



Sebelumnya, perlu Anda ketahui bahwa pasca terjadinya tragedi 1965, negeri ini begitu mencekam karena tindakan tidak manusiawi. Banyak sekali tahanan politik yang menjadi korban ketidakadilan, baik secara fisik maupun psikis.

Tini dan Yanti adalah salah satu lagu dibalik ruji penjara tahanan politik Pekambingan, Denpasar.
Lirik yang ditemukan di dinding penjara ini, ditulis oleh seorang ayah yang dijebloskan ke penjara ketika istrinya sedang hamil. Tini adalah nama istrinya, dan anak yang masih di dalam kandungan, ia bayangkan sebagai Yanti. Lirik yang merupakan pesan untuk anaknya, bahwa ayahnya tidak jahat. Bahwa ayahnya berjuang melawan ketidakadilan. Dan ia percaya, bahwa di masa yang akan datang, sejarah akan membebaskannya. Pesan seorang ayah pada anaknya, yang akhirnya tak sempat bertemu karena terlanjur dieksekusi.

Ada baiknya, anda menyimak artikel disini.



Tini dan Yanti, kepergianku buat kehadiran di hari esok yang gemilang.
Jangan kecewa, meski derita menantang, itu adalah mulia.
Tiada bingkisan, hanya kecintaan akan kebebasan mendatang.
La historia me absolvera,





La historia me absolvera.
Saya tak akan repot-repot memperjuangkan hidup jika sebagian waktu hidup saya habiskan untuk membenci dan mendendam.
Saya percaya saya dilahirkan bukan untuk menjadi seorang pembenci.
Saya percaya saya dilahirkan untuk menjadi berguna bagi sesama.

Friday, October 16, 2015

Tanggung Jawab

Lima hari terakhir, adalah lima hari yang cukup emosional bagiku.

Dua tanggung jawab besar diberikan padaku.

I'm happy and scared at the same time.


Yet, I understand what people say now.
That if your goals don't scare you, they aren't big enough.
And these two things, are worth fighting for.

Menuju Mimpi

Papua nggak sengeri yang dibayangkan. Aku sudah banyak menghimpun informasi supaya nggak cuma bisa membayangkan.

Nggak nyari plesirnya atau serunya, tapi memang pengen bermanfaat disana. Kalo KKN di deket-deket aja, masyarakat udah maju, mereka sudah sering dapet kesempatan akan pendidikan. Tapi kalo yang di timur sana, nama presiden aja belum tentu mereka tau.

Ketika melihat mahasiswa UGM datang, mereka mengagumi kita, mereka menganggap kita pahlawan disana. Bayangkan saja, pemerintah tidak berpikir dua kali untuk mengeluarkan dana ratusan juta untuk mahasiswa. Itu namanya apa kalau bukan karena kepercayaan dan ketergantungan. Bahkan kita nyanyi hymne Gadjah Mada aja mereka terpesona dan merekamnya di hape masing-masing. Segitu butuhnya mereka dengan sosok mahasiswa disana.

KKN adalah kesempatan buat bermanfaat, aku mau mengambil kesempatan itu, dengan tidak gegabah, dengan mengumpulkan informasi terlebih dahulu dan yakin bahwa kegiatan ini aman.



-----------------------------------


Ketika melihat sebuah video sekelompok mahasiswa berdiri tegap menyanyikan hymne Gadjah Mada disaksikan puluhan pasang mata yang terkagum di tanah Papua, aku menangis.


Aku tau restu orang tua adalah restu Tuhan.
Dan bagaimana bisa Tuhan memeluk mimpiku bila orang tuaku tak memeluknya.
Ini adalah tulisan singkat tentang memperjuangkan restu.

Setelah melalui perdebatan yang tak kunjung usai, akhirnya kuputuskan membuat sebuah tulisan. Agar orang tuaku tau segala informasi tentang tempat tujuanku, dan lebih penting, agar orang tuaku tau bahwa aku sungguh-sungguh.

Tulisan di atas, adalah halaman terakhir dari 10 halaman "proposal" yang aku ajukan ke orang tua. Sepuluh halaman yang bermakna paling emosional dalam hidupku.

Kata-kata seperti itu, tidak mungkin aku mengucapkannya secara langsung pada orang tua. Mengetiknya saja sudah membuatku merasa terlalu sentimentil.

Namun akhirnya, kalimat-kalimat itu berhasil membawaku satu langkah lagi menuju mimpi yang terwujud.


-----------------------------------


Bertahun lalu, ketika tercetus ide pergi kesana, saya sempat menyerah sebelum bertanding. Saya tau orang tua saya. Tidak akan mungkin mendapat izin dari keduanya.

Namun sejak dua bulan yang lalu, saya memutuskan untuk tidak menyerah pada sebuah mimpi yang begitu dekat untuk diraih.
Hadir sebuah kesempatan. Saya mulai gencar menceritakan pengalaman kakak-kakak saya pada orang tua. Dua minggu lalu, setelah lagi-lagi keputusan saya ditolak mentah-mentah, saya memutuskan untuk mengumpulkan dan menyusun informasi yang ada dari berbagai sumber dan menjadikannya sebuah "proposal".

Kemarin, saya serahkan 10 halaman kertas dengan hati berdebar-debar.

Dan sore ini, keluarlah dua kata paling indah.
"Ya.. Bismillah."

Mungkin tidak semua orang bisa mengerti. Namun bagi saya, dua kata tersebut bermakna luar biasa.

Terima kasih, Pak, Bu.
Bismillah.


-----------------------------------


Tuhan,
Jagalah mimpiku dalam pelukanMu, sampai nanti kujejakkan kakiku.

Thursday, October 8, 2015

Tentang berkawan dengan laki-laki

Why do we live in a world that can't accept the idea of man and woman being good friends without such provocative comments lol. Yes sometimes it bothers me since I definitely enjoy playing with guys so much most of the times.


Yup I wrote that on my Line few weeks ago. Mungkin karena bawaan saya senang bergaul dengan banyak orang ya. But actually there are reasons why I enjoy hanging out with guys, bahkan dari saya kecil.

Suatu hari saya pernah menjadi moderator dalam sebuah acara talkshow yang mengangkat tema tentang engineer cewek. Salah satu pembicara, dosen perempuan di kampus saya, rupanya punya opini yang sama dengan saya. Ia setuju, bahwa bergaul dengan laki-laki itu menyenangkan, karena mereka nggak ambil pusing dengan satu dua hal kecil. Ia juga mengatakan, berada ditengah-tengah lingkungan belajar yang mayoritas laki-laki membuat ia termotivasi, karena hidupnya cenderung keras.

Jadi, cowok itu super selow sing penting kelakon.

Apa yang mau diomongin, ya diomongin. Ga menambah-nambahkan. Juga nggak mengurang-kurangkan. Apalagi dikali-kalikan. Enggak. Cuma kadang saru. Namanya juga cowok.

Kalo lagi ngobrol serius, mereka bisa sangat serius dan membuat percakapan dihargai.

Kalo lagi ngobrol sampah, nggak kenal peradaban, serunya kebangetan. Nggak gampang tersinggung, dibawa santai, kalo bahasa jaman sekarang sih nggak baperan gitu.

Jalan pikirannya simpel, ga ribet, asal tancap gas aja.

Mereka suka ngobrolin hal-hal yang saya suka: basket, bola, f1, gp, musik, film, dll.

Kalo diajakin curhat nyenengin. Karena kita jadi tau pendapat dari sudut pandang cowok. Udah gitu, cowok cenderung ga banyak komentar. They're good listeners for sure!

Kalo lagi di situasi genting, mereka bisa diandalkan. Bagaimana pun juga mereka cowok dan pasti punya naluri untuk melindungi cewek.

Ya gitu.

Entah ngapain juga saya bikin tulisan begini.

Pokoknya gitu ya.

Jangan suka komentar kalo saya main sama cowok terus.

Saya mah gitu orangnya.

P.S. Still can't live without my girlfriends though!

Monday, September 21, 2015

Istirahat

"Satu-satunya jalan ya operasi. Kalau nggak dioperasi, nggak akan bisa lari dan lompat."



----------------------------



"Nangis, nggak apa. Lalu istirahat. Dilereni sek. No one left to blame."


"Aku tau posisimu. Sekarang kamu boleh sedih. Tapi jangan sampe kesedihan itu menggeser semangatmu. Biar bagaimana pun, jiwanya ada di kamu. Masih ada banyak jalan. Jangan memaksakan diri.

Jangan biarkan kecintaanmu terhadap basket membuat kamu mengesampingkan kesehatanmu. Istirahat lah. Basket udah mengajarkan banyak hal ke kamu. Jangan salahkan keadaan. Tuhan mungkin punya rencana yang lebih indah."