Thursday, July 24, 2014

Some Tips to Enjoy Your Life

Tujuh hal menyenangkan tentang pantai dan sore hari yang tak direncanakan.

  1. Kejutan! Bangun tidur tanpa rencana, ternyata harimu berakhir disini. Cukup menyenangkan bukan?
  2. Sejuk dan hangat. Best weather ever! Si surya tidak menyengat kulitmu.
  3. Warna yang mengiringi matahari terbenam menyelimuti pantai, laut, tebing, dan langit. Bukan pemandangan yang bisa kamu lihat di depan rumah (kecuali rumahmu memang di pinggir pantai).
  4. Luas. Tidak akan kehabisan tempat untuk berjalan, mungkin sambil mengobrol. Sampai obrolanmu habis. Atau sampai matahari tenggelam.
  5. Jangan takut untuk berjalan menghadap ke belakang. Jangan tanya kenapa. Sometimes we need to do things for no reasons. It feels good not to think.
  6. Tempat yang bagus untuk menghabiskan waktu sebelum hari keramasmu tiba. Rambutmu akan pernuh dengan pasir, sedikit lengket karena udara yang mengandung air asin, dan tentu saja, acak-acakan.
  7. Hamparan bintang luas!



Parangtritis, 23 Juli 2014

Wednesday, July 9, 2014

Ngomong Soal Demokrasi

Kehidupan demokrasi di Indonesia sedang mencapai sebuah titik baru. Titik yang belum pernah kita alami sebelumnya. Antusiasme begitu tinggi, yang tak jarang berakhir di fanatisme.
Sungguh saya bukan ahli komunikasi apalagi politik. Saya hanya berbicara berdasarkan pengamatan dan pengetahuan dangkal yang saya miliki. Saya tak mengatakan kita tak seharusnya melewati fase ini. Mungkin saja ini memang salah satu langkah yang harus dialami untuk menuju demokrasi yang baik. Mungkin saja tidak. Saya tak tahu.

Saya hanya prihatin melihat fasilitas mengemukakan pendapat di era sosial media ini digunakan oleh masyarakat yang belum siap mengolah informasi. Bagi pengguna sosial media, suka atau tidak, anda akan terjebak dalam lingkaran fenomena ini. Kita belum mau mencerna dan menyaring informasi dengan baik. Dengan teknologi saat ini yang bisa dengan mudah menyebar informasi dalam satu kali klik, penyerapan informasi yang tak sempurna apalagi tak valid, sungguh bahaya.

Kita dengan mudah menyantap apa yang dihidangkan, tanpa mencari tahu bahan dasar yang digunakan. Kita belum mau mencari informasi, kita hanya menerima informasi. Kalo dikasih tau dan diberi, kita mau-mau saja. Toh sudah tersaji. Tapi untuk mencari tahu, kita malas. Mental seperti ini yang dimanfaatkan pihak-pihak tak bertanggung jawab, tanpa kita sadari. Sifat-sifat pengguna sosial media seperti kita, adalah sasaran empuk untuk menanamkan doktrin-doktrin yang melenceng. Dan ini terjadi benar-benar dengan cara perlahan, kita tak akan sadar. Bahkan saya yang sudah menulis seperti ini pun mungkin juga tak sadar telah terdoktrin sesuatu.

Lalu apa hubungannya dengan demokrasi?
Ya, dengan riuhnya pilpres kali ini, jelas saja berpengaruh. Menurut saya, ramainya black campaign tahun ini ya karena oknum-oknum penggiat black campaign tersebut sadar sepenuhnya bahwa kita ini pengguna sosial media bermental malas. Kita mangsa empuk. Tinggal bilang aja si A antek zionis, si B titisan hitler, si C keturunan genderuwo, kita mah iya iya aja hahaha, nggak separah itu sih. Meski tak semata-mata mengiyakan, namun karena kita tak mau mencari tahu informasi yang valid, sebenarnya secara tak sadar kita terdoktrin juga lho. Percaya deh. Soalnya saya juga gitu hahaha.

Lalu, karena hal ini sudah terjadi dan merembet kemana-mana, akibatnya jadi banyak. Informasinya simpang siur tapi asal disebarkan, membuat oknum sana dan sini geram. Jadi perang isu yang tak benar oleh kedua belah pihak tim sukses, ya jadi black campaign yang kalian lihat sehari-hari di timeline twitter itu. Yang tadinya tak ikut bermain, mau tak mau jadi ikut karena terlanjur masuk ke panggung. Akhirnya karena persaingannya tak sehat, perbedaan pendapat pun menjadi perpecahan.

Jadi, apa yang harus kita lakukan?
Menurut saya sih sederhana saja, mari rajin mencari tahu. Bukan demi kebaikan pihak tertentu, namun demi keobjektifan sebuah informasi. Kadang saya lebih memilih menghindari berita tentang sesuatu yang keobjektifannya meragukan, jika saya sedang malas mencerna dan menyaring informasinya. Hahaha mungkin ini cara yang salah. Anda bisa cari cara yang lain.

Ya intinya, bijak dalam mengolah informasi. Tak hanya dalam konteks pilpres saja, namun untuk segala urusan. Dampak kecilnya, agar kita semakin dewasa menghadapi peristiwa. Dampak besarnya, agar bangsa ini bisa berdemokrasi dengan cerdas.


Selamat berpendapat!

Sunday, July 6, 2014

Sampai ke Tanganmu

Bumi sedang sedikit pilu. Lelah susah payah menghadapi dunia. Ingin rasanya mengambil secarik kertas, dan menggoresnya disana. Bukan dengan kata, namun dengan kebiasaan lama. Membentuk imaji dengan pena dan warna.
Bumi tak pandai memilih warna. Mungkin guru seni rupa saat SMA yang tak pernah berhenti tertawa lebih tau caranya. Daripada berlama-lama, ia pikir sudah biar ingatan saja yang bekerja..



Bumi kecil bertanya pada ibunya,

"Apa langit luas memiliki batas, Bunda?"

Bunda hanya tersenyum.

"Ada indahnya mawar di langit fajar, dan mempesonanya jingga di langit senja. Batas hanyalah akal-akalan manusia. Jika awal hari fajar menemani dan lelah pulang disambut senja, masih sempatkah kau pikirkan batas, Nak?"

"Lalu, Bunda, mengapa keluk laut menyahut-nyahut membuatku takut?"

"Putihnya buih dan birunya deru penuh keseimbangan. Takut hanyalah akal-akalan manusia. Jika kuajarkan kau bahagia berkejaran dengan buih dan damai mendengar alunan deru, masih bisakah kau rasakan takut, Nak?"

"Jika hidup ini penuh akal-akalan, kelak ketika aku besar, bagaimana caraku menghadapi dunia, Bunda?"

"Setelah senja sebelum fajar. Jika saatnya tepat, tengadahkan kepalamu dan lihat warna kesukaan Bunda disana. Akan ada jutaan mereka menemani kita. Lebih baik lagi, mereka semua milikmu seorang. Tak akan ada yang bisa merebutnya darimu. Mereka akan tetap disitu, sampai kau selesaikan seluruh akal-akalan di dunia ini!", seru Bunda sambil tertawa.



Bumi tersenyum. Sudah terlalu lama ia tak duduk di tempat ini. Tempat dimana dulu percakapan seperti itu kerap terjadi. Tempat dimana ia biasa melihat langit luas, menyentuh buih ombak, dan mendengar deru laut. Bumi membaringkan tubuhnya, menatap kerlip bintang yang Bunda bilang miliknya seorang.

Ah, Bunda. Perempuan hebat yang tak sempat tersentuh dunia.

Aku bubuhkan senyum langit
Fajar mawar, senja jingga
Aku kuaskan tawa laut
Buih putih, deru biru

Tak lupa kesukaanmu
Warna bintang melawan petang

Ini kertasku
Namun tinta datang darimu
Ini caraku menghapus pilu
Tunggu saja sampai ke tanganmu

Friday, July 4, 2014

Saya di Mata Satya

Habis minta imdesc lagi! Hahaha saya jadi ketagihan nih, soalnya lucu bisa denger omongan temen tentang aku. Kali ini datang dari Satya, temen terhomo waktu SMA. Sampe sekarang masih tergolong sering ketemu sih, soalnya sefakultas. Masih main bareng juga ~


Dahlia Anggita Zahra itu nama sama kelakuannya (waktu SMA) ibarat serigala berbulu domba, bulu domba=nama, serigala=kelakuan, bukan female tapi Fe-male, cowok besi. Tapi pas udah masuk kuliah dia udah jadi domba berbulu domba (sejauh yang aku tau), udah jadi female. Dulu dicubitin biasa aja, sekarang sewot, mungkin ada korelasinya sama serigala menuju domba tadi.
Lia itu jago banyak hal, jago gambar, jago gitar, jago nyanyi, jago basket, jago nonton film (nonton film bisa jago?). Pokoknya kalo dah suka sama suatu kegiatan pasti jadi jago. Keren dah.
Lia tu juga satu2nya temen yang paling cocok kalo ngomongin film sama lagu, kayaknya seleranya sama gitu, asik dah.
"Iiiih berisik sat"
*pas dicubitin* "Ah apaan sih sat"
"kemaren aku abis liat *sesuatu yang keren* apik banget sumpah"


Fe-male............. Cowok besi............. itu istilah yang paling bikin aku mangap waktu baca imdesc-nya :)) Baru sadar juga, temen-temen SMA menggambarkan aku sebagai sosok yang garang banget ya kayaknya. Duh jangan pada salah paham ya, aku tak sepreman itu kok dulunya :'')

Thursday, July 3, 2014

Saya di Mata Midi

Mida atau yang biasa saya panggil Midi itu salah satu temen SMA saya yang easy going. Kita deket waktu kelas 2 gara-gara sekelas hehe. Barusan saya minta diimpersonate sama deskripsiin via akun ask.fm, terus gini nih jawabannya:

Dahlia Anggita Zahra aka Dahlia aka Lia aka DAZ aka Loi ini temen unyuuuuhku di XI IPA 5 :3
Awal-awal kelas 11 aku takut lho loi sama kamu, takut dijutekin sumpah :))) lha piye, anak basket, tomboy abis, anak KPZ bro, dolannya sama cowok2, dolannya sama yayuk......
Entah ya sejak kapan aku mulai sering nggodain trus sering meluk-meluk loi (loi orang kedua yang enak dipeluk setelah yiyik {}) mungkin karena XI IPA 5 ncen isine wong-wong koplak macem lalay, ipoy, goci *nama disamarkan* jadinya kita semua cepet akrab~
Jaman SMA kayaknya nggak pernah deh liat loi rambutnya panjang, pasti selalu pendek paling mentok sepundak lebih dikit. Hobinya pake jaket biru dongker bahannya agak klunyur (masih sering dipake nggak?), pake headset nyetel lagu, duduknya ongkang-ongkang. Sekarang katanya berubah 180 derajat ya, jadi feminin gituuu rambutnya panjang gituuu bajunya yang kembang-kembang gituuu :)))
Loi tu lucu, geng molusca bareng sama onyest, asik diajak hang out, suka ngajakin aku nonton yg gratisan :")
Loi itu walaupun dia mainnya sama anak-anak koplak yg kelakuannya nggak toto, aku ngeliat loi sebagai cewek yang dewasa, tegas, nggak mencla-mencle, bertanggung jawab, dan apa adanya :)
"oposih Mid"
"Midiii"
"oposih Mid"
"oposih Mid"
hhhh yg kuinget cuma nada bicaramu pas ngomong "oposih mid" :(
**bonus pap pas kita ngerjain proyek akhir kelas EC bareng terkesima~ loi yang melolok itu btw :/

*fotonya nggak saya post soalnya aib hahahahaha*

Lucu juga ya liat pribadi kita dari kaca mata orang lain. Terima kasih atas aib dan pujiannya Midi!