Friday, August 26, 2016

Bertemu dalam Doa

"Kok postinganmu sedih-sedih terus?"
"Kok mbak daz keliatan sedih banget?"
Barangkali dari sosial media saat ini aku terlihat menjadi orang paling lemah, paling cengeng, paling melankolis, dan lain sebagainya.
Aku tidak peduli.
Memang akan selalu menjadi sentimentil when it comes to Warbor.
And whenever I cry, I never deny it.
Mungkin tidak semua orang memahami. Tapi aku tau teman-teman satu timku mengerti.
Bahwa berpisah dengan Warbor bukan hal yang mudah.
They, too, cry a lot.

***

Waktu itu, baru satu minggu aku menetap di sana, aku sudah merasa nyaman. Di saat beberapa kalimat keluhan dilontarkan oleh beberapa kawan karena masih beradaptasi, aku sudah tidak mau meninggalkan tempat itu.
Warbor,
Tempat yang saat ini kusebut rumah kedua.

***

Sudah dua pekan aku di Jogja. Tapi hal-hal di sekitarku tak henti-hentinya membuatku sedih, berkaca-kaca, bahkan menangis. Foto-foto, tulisan-tulisan, keluh kesah, dan curahan hati teman-teman yang juga merasakan hal yang sama denganku, it kills me.
Rindu.
Rindu mati.

***

Dua pekan sebelum pulang, berselisih kecil dengan adikku bisa membuatku menangis semalaman sampai tidur. Aku menangis karena sebagian dari diriku memaksa sebagian lainnya untuk menerima kenyataan bahwa adikku dan kehangatan kampung ini sebentar lagi harus kutinggal pergi.

Pagi itu, sepekan sebelum hari kepulangan, selesai mencuci pakaian aku berjalan ke belakang rumah. Aku duduk di bibir pantai sendiri. Aku tau persis, kampung sedang sepi-sepinya karena semua orang melaksanakan sembahyang di gereja.
Aku menangis. Menangis karena tak ingin pulang.
Ah, bukan. Aku bukan menangis karena tak ingin pulang.
Aku menangis karena perpisahan dengan kampung ini dan seisinya, benar-benar akan terjadi.

Satu hari sebelum pulang, aku berada di tengah-tengah keramaian di ruang pameran foto ketika lagu itu berputar. Lagu yang mengalun dengan manis.
Aku tak tau lagi harus bagaimana. Jika aku adalah bocah kecil, mungkin saat itu aku menangis meronta-ronta meminta untuk tinggal, untuk tidak pulang, untuk tetap bermain di sana. Kusesalkan orang dewasa tak melakukan hal itu. Aku hanya bisa menahan air mata dan pergi ke belakang sampai lagu itu selesai.

Ado mama lihat
Sa pu hati su tatinggal
Di gunung-gunung, di lembah-lembah
Di Papua

Ado mama lihat
Sa pu hati su tenggelam
Di dasar pasir, di laut biru
Di Papua

Cerita dia pu sungai yang deras
Cerita dia pu hutan yang luas
Tempat matahari selalu menyanyi
Tempat Cenderawasih selalu menari

Ado mama lihat
Sa su rindu, rindu mati
Ke pasir pantai, ke laut biru
Ke Papua


***

Malam pertama tidur di Jogja, aku masih menangis.
Baru pertama kali aku merasakan pedihnya kenyataan bahwa jarak dan waktu, dan ketidakpastian, bisa begitu membunuh.

***

Malam ini aku kembali menangis.
Aku rindu kampung. Aku rindu semua yang ada di dalamnya. Semua hal sampai ke detail kecilnya.

Dan lagi. Aku rindu Bima.
Aku sering sekali membayangkan kehadirannya di dekatku.
Aku sering membayangkan Bima tiba-tiba muncul di jendela kelas waktu kuliah, di teras rumah waktu aku sedang makan, dan di tempat-tempat lain, sambil bilang "Kaka Lia..", suaranya masih teringat jelas di kepalaku.
Aku ingin sekali memeluknya erat. Aku tak pernah memeluknya karena ia selalu menjadi sosok yang cuek, yang kuat, yang melindungi, sosok yang tak pernah terlihat lemah sama sekali.
Kecuali saat dia menangis hancur di hari kepulanganku. Aku memeluknya erat hari itu.

Begitu sulit hanya untuk mendengar suaranya lewat telfon.
Lagi-lagi jarak, waktu, dan ketidakpastian membunuhku.
Aku ingin memeluk adik kecilku sekarang.
Memeluknya seperti memeluk seluruh Warbor dalam dekapanku.

***

Malam terakhir sebelum kami meninggalkan Warbor, Bapa membacakan sebuah lirik lagu di depan jemaat. Lagu yang mereka, orang-orang kampung yang aku cintai, nyanyikan sepanjang malam hingga pagi hari kami pergi.

Kini tiba saatnya kita kan berpisah
Berat hati ini melepas dirimu

Gunung dan tanjung terpele
Wajahmu terpele
Terbayang senyum manismu
Hancur hati ini

Sapu tangan biru
Kini basah sudah

Berpisah lewat pandangan,
Bertemu dalam doa

***

Berpisah lewat pandangan, bertemu dalam doa.

Tuesday, August 16, 2016

After Papua

Aku tak pernah menyadari kehidupan disini ternyata begitu penat.
Kenapa dunia ini begitu sibuk?
Ramai, bising, terburu, sesak, tidak ada kah detik untuk menghela nafas?
Duniaku di ujung timur sana tak seperti ini.

Semua begitu sederhana
Tak ada yang mengejarmu
Tak ada yang mengejar siapa pun
Tak ada yang berlari
Yang ada hanya ingatkan diri sendiri

Alat komunikasi sesederhana berjalan kaki, menatap lawan bicara, dan berkata
Tas jinjing atau pinggang berisikan dompet, ponsel, dan benda-benda orang kota, tak ada harga
Kemana siapa membawa, cukup badan yang dibawa

Hujan bukan fenomena yang diwaspadai, apalagi ditakuti
Air turun, basahlah
Matahari sebentar keringkan lagi
Air laut memanggil, basahlah
Matahari belum bosan keringkan lagi
Lelah bermain, ambil kelapa barang satu dua
Perut kosong, lempar nilon sambil pasang mulut besar
Bilang ikan tangkapanmu pasti yang paling besar

Semua tak berhenti putar otak
Seribu satu benda bisa diciptakan dari alam
Bagi mereka, tak ada kata kurang
Bagi mereka, urusan sebatas perut yang harus diberi kenyang

Sederhana bisa begitu bahagia
Sederhana bisa terasa nyata
Jauh dari kemewahan dan hal yang berlebihan membuatku jatuh cinta

Lima puluh dua hari
Lalu dihempas perkotaan lagi

Aku tertegun
Melihat ruwetnya jalanan
Hebohnya orang berdandan
Panjangnya antrian diskonan
Dan rapatnya tembok-tembok perumahan

Selama ini aku hidup di sini?
Dan sekarang terpaksa tercebur lagi?

Rumah Kedua

Mimpiku telah terwujud.
Berkunjung ke tanah yang kuimpikan sejak SMP.
Tapi nyatanya Tuhan memberi lebih dari yang kuminta.

Papua tak hanya memberiku kesempatan untuk berkunjung,
Papua juga memberiku alasan untuk kembali.

Ada keluarga yang menyayangiku disana.
Ada rumah kedua disana.

Papua Day 41

Day 41
1 Agustus 2016

Adik kecilku telah mengajarkanku banyak hal.
Dalam beberapa waktu saja, tanpa sadar ia telah mengajarkanku bagaimana mengalir bersama naik turunnya kehidupan dari sisi yang berbeda.

Adik kecilku telah mengajarkanku banyak hal.
Tanggung jawab dan menjadi dewasa adalah hal yang sangat bisa kurasa di tengah timbunan candaan dan bicaranya yang layaknya anak-anak.

Adik kecilku telah mengajarkanku banyak hal.
Melindungi orang yang ia sayangi adalah sebuah naluri baginya. Sesuatu yang tidak perlu banyak dipikir, dilakukan memang karena sewajarnya dilakukan. Sesuatu yang tak banyak dimiliki pria-pria dewasa di luar sana.


Adikku memang berbadan kecil.
Tapi adik kecilku berhati besar.
Seorang bocah yang kaya hatinya.

Suatu waktu aku menyakitinya. Aku bahkan tidak tau kenapa.
Setelah berkali-kali berusaha bicara dengannya, aku menyerah. Ia meronta, kubiarkan ia pergi karena tak mau memaksanya lagi. Kemudian ia berjalan pulang.

Aku sempat menangis. Merasa bersalah, terlebih karena sepekan lagi aku meninggalkannya. Aku takut kehilangan adik kecilku di hari-hari terakhir disini.

Aku berjalan pulang, dengan banyak hal berputar dalam kepala.

Tapi lagi-lagi adik kecilku mengajarkanku banyak hal.
Tiba-tiba entah muncul dari mana, ia berlari menyusulku yang berjalan kaki pulang sendiri di tengah kegelapan. Meski tak mau berucap sepatah kata pun karena marah, meski tak mau menatap sedikit pun karena kesal, meski tak mau menyentuhku sama sekali, ia berjalan dalam kesunyian di sisi kananku dan memastikan aku sampai di rumah seperti hari-hari biasanya.


Malam itu di kamar aku menangisi banyak hal.

Entah kenapa kejadian itu membuatku merenungkan semuanya.
Kesalahanku padanya, kesedihanku karena akan pulang, dan utamanya, pelajaran kehidupan yang hebat yang selama ini kudapatkan disini.

Adik kecilku mengajarkanku bahwa anak-anak di pelosok kampung memiliki hati yang besar, bersih, dan mulia. Hati mereka tulus sekali. Hati anak-anak yang hidup jauh dari kemudahan dan hal-hal tidak penting yang berorientasi kepada kepuasan instan. Hati anak-anak yang hidup dengan kebahagiaan dan kesedihan apa adanya yang tak pernah dibuat-buat. Hati anak-anak yang hidup dengan kesederhanaan.

Mereka kaya hati tanpa harus mencari. Mereka kaya potensi tanpa mereka sadari. Sesungguhnya mereka hanya butuh dunia luar meludahkan barang sedikit saja motivasi untuk menjadi hebat sebelum menjadi sia-sia.


Adik kecilku membuatku berjanji,
Untuk terus bekerja dan berusaha demi anak-anak Indonesia di luar sana.


Selamat mengejar cita, Bima.

Papua Day 40

Day 40
31 Juli 2016

Malam ini aku membaca lagi pesan-pesan yang ada di grup keluarga besar. Beberapa waktu lalu memang sudah sempat aku muat, tapi karena banyaknya pesan yang masuk, belum sempat aku baca. Ku baca satu persatu tiap pesan dari sanak saudara, foto-foto keluarga, ditambah beberapa saudara sudah lama tak jumpa yang kemarin pulang ke Jogja, rasa sedih sempat menyelimuti.
Tapi kemudian aku ingat dimana aku berada sekarang.

Kampung ini, segala pengalaman yang ada di dalamnya, alamnya, keramahan warga, kamam, awin, adik dan kakak, anak-anak kecil, sahabat, dan satu adik kecilku di sini, semua membuatku dengan mudah membuang jauh sedih dalam sekejap.


Aku tidak akan pernah menyesali dan menukar kehidupanku disini dengan apa pun.


Tempat yang sudah membuatku berkali-kali menangis karena tidak mau pulang dan kehilangan kehidupanku disini begitu saja.

Papua Day 12

Day 12
4 Juli 2016

Anak-anak.
Mereka yang selalu menemaniku. Yang awal kukenal sangat pemalu, tapi dalam waktu beberapa hari saja aku sudah merasa tidak mau berpisah dan tidak mau menghabiskan waktu tanpa kehadiran mereka. Terutama Bima, bocah berbadan kecil yang sudah seperti adikku sendiri.

Baru dua minggu aku ada di sini, aku sudah ketakutan dibayang-bayangi tanggal kepulangan. Hal yang paling menyakitkan adalah, tidak ada komunikasi. Kehidupan di sini masih sangat sederhana dan tidak ada sinyal.


Aku tidak takut pada jarak.
Aku takut pada waktu yang memisahkan kami.

Mereka anak-anak. Waktu akan segera mengubah kepribadian anak-anak. Aku takut jika tidak menjadi bagian dari waktu tersebut, aku akan kehilangan mereka. Selama-lamanya. Meski suatu saat nanti bertatap muka.

Tuhan,
Tuntun mereka menuju cita-cita dan masa depan yang baik.
Jaga hati mereka,

Dimana pun kami nanti,
Aku akan selalu menyayangi mereka.

Papua Day 1

Day 1
21 Juni 2016

Waktu aku melihat kerlap kerlip lampu kota Biak dari jendela pesawatku, bisa kurasakan dadaku bergetar dan air mata di pelupuk mata. Aku hanya bisa terdiam dan sesekali menarik nafas panjang.

Menjejakkan kaki di tanah Papua. Tak kusangka akan terwujud hari ini.

Biak dan Supiori begitu panas. Namun kami disambut dengan begitu hangat dan antusias yang tinggi. Dan aku belum-belum sudah mendapatkan keluarga baru.

“Kami ini adalah bapa dan ibu angkat kalian, sampaikan pada orang tua di rumah nanti, bahwa saya dan mama adalah orang tua angkat kalian”, kata Bapa Binur disaat kami baru mengenalnya beberapa menit saja. “Kita ini tidak berbeda, warna rambut, kulit, dari Sabang sampai Merauke kita ini satu to, Indonesia”.

Dua bulan ke depan, aku akan hidup bersama bapak yang penuh dengan keramahtamahan ini beserta istri dan 3 anaknya.

Berbuka di bibir pantai indah yang menghadap samudera pasifik, dengan matahari terbenam yang begitu indahnya, hari ini kusadari hal tersebut akan menjadi aktivitas sehari-hari yang akan biasa kami lakukan.

Saturday, June 18, 2016

Tamparan Semesta

Pernah kah kalian merasa lelah berjuang kemudian ditampar oleh keadaan?

---------

Those days were supposed to be minggu tenangnya anak teknik. Satu minggu sebelum ujian yang sengaja diliburkan untuk mempersiapkan ujian. Nyatanya, seperti minggu tenang anak sipil pada umumnya, minggu tenang kami dipenuhi dengan deadline dan ujian tugas besar.

The first three days of that week, I couldn't even get some good sleep. Demi mengejar deadline.
Dan setelah tugas selesai, sederet kegiatan menghadang untuk segera diselesaikan. Dua kegiatan yang merupakan tanggung jawabku harus terlaksana di waktu yang sama.

That moment, I wish I could just buy extra time to sleep.

Tapi kemudian, aku mendapat tamparan luar biasa dari semesta.

Hari itu, aku menangis dua kali.

---------


Aku berkunjung ke sebuah panti asuhan berkebutuhan khusus di kawasan Bantul.
Mungkin ini hal klise.
Aku juga menganggap ini hal yang sangat biasa dan tidak istimewa.
Sampai akhirnya aku menyaksikan langsung.
Waktu itu mereka memainkan lagu Jangan Menyerah yang seketika membuatku tertunduk malu.
Mereka bernyanyi, tertawa, bercanda,
Bahagia.
Lingkungan tak memahami,
Takdir menuntut,
Dan mereka bahagia.
Empat puluh enam dari entah berapa juta jiwa di luar sana yang tak seberuntung mereka.
Empat puluh enam senyuman hari itu hadir disana, khusus dikirim oleh Tuhan untuk menamparku.
Seolah-olah Tuhan berbisik lewat telinga mereka, 
"Tunjukkan bahagiamu pada ia yang lupa tersenyum dan bersyukur."
Tuhan,
Kenapa aku sering lupa berbagi dan memahami sesama manusia?



Lalu aku berjumpa dengan secuil suasana tanah impianku.
Papua.
Hari itu Keluarga Mahasiswa Papua Gadjah Mada mengundang Ari Sihasale dan Nia Zulkarnaen hadir di depan mataku.
Delapan puluh hari Ari dan Nia menjelajah Papua,
Enam puluh menit Ari dan Nia menuturkan kisahnya dengan tulus kepada kami.
Dan itu cukup membuatku tertegun.
Atmosfer tanah Papua, keoptimisan yang ada di dalamnya, dan setiap butir kisah haru mereka membuat aku tidak sanggup menyembunyikan air mata dan sesekali menyekanya.
Duh, di tengah-tengah audience yang hadir, aku merasa malu.
Tapi sungguh aku tersentuh,
Dan kembali tersulut semangatku.
Ari dan Nia hari itu hadir disana, khusus dikirim oleh Tuhan untuk menamparku.
Seolah-olah Tuhan ingin menghardikku,
Bahwa apa yang aku lakukan, lelah perjuangan pada hal-hal kecil yang tampak remeh, akan terbayar lunas untuk mimpi besarku, untuk tanah Papua.



Perjuangan ini tak sia-sia, perjuangan ini untuk mereka!
Untuk mimpiku mewujudkan mimpi-mimpi sesama!

Hari itu aku merasa menjadi orang paling bodoh sedunia,
Namun kemudian menjadi orang paling optimis sedunia.

Ternyata, semangat dan lelahku selama ini masih punya tujuan.

Dan tujuan itu,
Masih menungguku.

Thursday, June 16, 2016

Aku dan Barasuara

BARASUARA

Sebenernya udah denger dari lama sih, cuma beberapa hari ini baru hobi menyimak 9 lagu album Taifun dengan seksama. I mean, literally seksama: mendengarkan dengan headphone, mengutak-atik equalizer nyari-nyari yang pas, menyimak aransemen, mendengarkan suara per instrumen dan vokal, menghayati lirik, menikmati feel lagu. Sembilan lagu diulang sampe infinity.

Terus, setelah saya pikir-pikir (despite the fact that musikalitas saya cuma sebatas bisa ngebedain lagu 3/4 ama 4/4), album ini matang sekali.

Rapi banget, kaya banget, aransemen cerdas, porsi dan timing tiap instrumen dan vokal pas, lirik dalem bos, jenius lah pokoknya ini album.
Lalu saya cari tau. Ternyata nyiapin Taifun butuh tiga tahun.
Wadaw.
Pantes lah mereka terkenal dengan albumnya, bukan karena satu dua single aja.

Selain itu, live performance mereka berkualitas, dengan attitude personel yang baik.
Lalu saya cari tau. Ternyata sebelum rilis album, bertahun-tahun mereka latihan sambil menggodog album.
Wadaw.
Pantes lah panggung pertama mereka di Jogja, pertama loh ya, langsung penuh dan setelahnya banyak dibicarakan orang hingga tenar.

Jarang-jarang nih ada band kayak gini.
Orang-orang yang ada di dalamnya kayaknya memang orang-orang yang udah jenius duluan sebelum bikin project ini.
Paling tidak sebelum mendengar nama Barasuara, saya udah tau Iga di Tika and The Dissidents sama di TTATW yang super asoy yang saya ga paham kenapa banyak orang ga ngerti, Marco si produser album Raisa yang udah jadi arranger dari lama (snare rendahnya asoy banget jir!) dan Gerald bersama project-project instrumentalnya, song writerarranger, dan produser album Dandelion-nya Monita yang super duper enak banget keliling alam semesta 7 kali itu.
Dan mungkin, personel lainnya juga sama jeniusnya dengan tiga orang itu.

Nggak hanya jenius, tapi mereka juga cerdas karena pengalaman. Mungkin karena diaransemen bareng-bareng sama orang jenius nan cerdas makanya ini satu album bisa enak banget kayak sate klathak Pak Pong nambah bawang merah.


Btw,

Ngomong apa sih.

Hahahahahahahahahahahahaha.

Udah ah ntar ada ujian jam 8.

Jangan lupa dengerin Taifun!

Tuesday, May 24, 2016

Aku dan Nosstress

Ini cerita tentang satu lagi hari Sabtu yang penuh kebahagiaan.

Sebelumnya, aku mau cerita dulu tentang satu grup musik yang amat ku kagumi.


Nosstress

Aku baru ingat.
Pertama kali mengenal Nosstress, adalah saat aku mengunjungi tulisan Rara Sekar. Disana Rara Sekar menuliskan bahwa ia mengagumi band asal Bali ini.
Dan ketika mencari tau lagu-lagunya, aku langsung jatuh cinta.

Bagiku, Nosstress tak hanya menawarkan musik yang indah, namun juga membawa misi dari hati melalui lirik yang mereka ciptakan. Misi yang mulia, yang bisa membawa perubahan besar bagi siapa saja.

Ketika album kedua mereka lahir dan lagu Pegang Tanganku mulai beredar di internet, aku langsung menabung dan bertekad membeli original CD-nya. Dan setelah mendengar 10 lagu secara komplit, aku bersyukur menghabiskan 45 ribu rupiah dengan sangat bijak.

Nosstress sudah cukup tenar di Bali sana. Sayangnya belum terlalu dikenal oleh teman-teman dan lingkunganku. Belum cukup kiranya cinta orang Jogja untuk mengundangnya bernyanyi di sini. Harus ku pendam dulu.

Sampai akhirnya, Sabtu, 21 Mei 2016.
Mereka diundang tampil di Solo.
Aku membeli tiketnya jauh-jauh hari. Menandai kalenderku. Menyiapkan CD untuk di bawa.
Intinya aku tidak sabar.

Hari itu, pukul 5 sore aku berangkat sendiri, mengendarai mobil selama tiga jam melalui macetnya jalanan Jogja-Solo di malam Minggu. Aku ingin menikmati momen magis ini sendiri.

Sampai disana, aku tidak menyangka. Aku terkejut sekaligus bahagia.
Turns out there are so many people love them just like the way I do.
Ternyata banyak penonton yang hadir malam itu.
Ratusan penonton menanti mereka, ikut bernyanyi dan berbahagia.
Karya mereka dinikmati banyak orang, dan itu membuatku bahagia!

Bahkan di luar ruangan Nosstress di backstage, aku bertemu beberapa orang yang melakukan hal yang sama denganku: membawa CD milik mereka dan menanti untuk dilegalisir.
Tiga orang mas-mas yang ada di situ sama denganku, datang jauh-jauh dari Jogja untuk Nosstress.
Ah, aku bahagia sekali!

Malam itu sungguh sempurna.
Aku berdiri tepat di depan panggung. Dan hanya mengambil satu foto ini saja, karena tak mau menyianyiakan kehadiran mereka di depanku.


Di depan mereka, di tengah lantunan lagu mereka, I did close my eyes a few times. Because sometimes, you can't enjoy a heart-made work with your eyes only. You need your soul. And your heart.
Karena apa yang dibuat dari hati, pasti akan sampai ke hati.

Kupit, Man, dan Cok hadir di depan mataku dan mengisi hati semua orang yang ada di sana.

Seusai acara, aku berjalan menuju backstage mencari ruangan Nosstress.
Setelah selama ini mengikuti akun sosial media mereka, video-video mereka, aku bisa membayangkan mereka akan sangat ramah dan dengan senang hati melayani penggemarnya untuk sekedar foto dan tanda tangan. Seperti apa yang dilakukan Silampukau, band lain yang malam itu turut meramaikan panggung juga, yang dengan senang hati ke luar ruangan membaur bersama penggemarnya.

Malam itu, Nosstress mengurung diri di ruangannya dan "sedang tidak bisa diganggu karena lelah", kata panitia.
Tentu aku dan mas-mas yang sudah menanti di depan pintu sedikit kecewa. Aku bukan kecewa karena tak mendapat foto dari mereka. Aku terkejut karena sikap mereka tak sesuai ekspektasiku.
Akhirnya, aku dan mas-mas tadi hanya bisa menitipkan CD kami untuk dibawa masuk oleh panitia.

Aku jadi ingat momen dua kali aku menonton Banda Neira, mereka selalu turun ke bawah panggung setelah selesai tampil untuk membaur dengan ratusan penonton, meski dengan muka sangat lelah (bisa terlihat dari mata Nanda di fotoku bersama mereka).

Ah, tapi tidak apa.
I keep telling myself: mungkin mereka punya alasan lain yang tak ku ketahui. Aku hanya terkejut karena tak sesuai ekspektasiku. Itu saja.

Hal itu tidak mengurangi kesempurnaan malam itu.
Malam yang tidak terlupakan.
Malam yang sesungguhnya sudah pagi karena aku baru beranjak pulang pukul 00.30.

Terima kasih Bli Kupit, Bli Man, Bli Cok,
Karena telah ada dan mengisi hati kami dengan musik yang bergizi.

Dan untuk teman-teman yang membaca ini,