Thursday, November 13, 2014

Menuntut Ilmu, Menuntut Bahagia

Mahasiswa tapi masih gini-gini aja.
Mahasiswa katanya.
Namun mana nyatanya.

Saya sedih.
Tiga semester sudah, saya merasa perkuliahan tak seperti yang saya bayangkan.
Jauh.
Saya kira seorang mahasiswa sarat nafsu akan ilmu, belajar karena ingin tahu.
Nyatanya sama saja orientasi hanya pada IP bagus.

Saat semester satu, saya masih menikmati belajar karena ingin tahu. Meski nilai tak bagus-bagus amat, juga tugas melimpah ruah hingga tak tidur dan jarang makan, saya merasa senang menjalaninya. Saya bahagia karena mendapat ilmu yang konkret, yang bisa saya terapkan di kehidupan nyata. Setiap pulang kuliah, saya dengan menggebu-gebu akan menguliahi orang tua di rumah tentang ilmu yang saya dapat di kelas. Sungguh menyenangkan.

Namun lama kelamaan saya termakan sistem.
Entah kenapa saya menyadari kegiatan perkuliahan serasa tak menyenangkan lagi karena kebanyakan teman-teman saya melakuka hal sebaliknya. Semua orang berlomba-lomba mendapat nilai bagus. Sistem yang ada di kampus seperti mengarah ke ujian, bukan pada pemahaman ilmunya. Dampak umumnya, ya mulai dari permahaman mahasiswa yang nol besar sampai ke menghalalkan segala cara untuk IP cum laude. Dampak untuk saya, sekarang setiap saya menikmati menyerap ilmu dalam perkuliahan namun akhirnya nilai saya kalah dengan teman-teman lain yang mengejar nilai, saya jadi merasa gagal, merasa bodoh, merasa kalah, meski saya tahu yang saya rasakan ini salah. Namun apa daya jika lingkungan mengarahkan saya untuk berpikir begitu. Ketika nilai saya bagus pun, saya juga tak lagi bahagia. Saya tak lagi menikmati indahnya menyerap ilmu.


"Tolong perhatikan baik-baik karena ini pasti keluar di ujian."

Ah, kalimat sederhana, namun kerap diucapkan. Rasa-rasanya, karena terlau sering terdengar, kalimat sederhana ini jadi mendoktrin kami.

Saya tak mengatakan saya rajin atau pun cerdas. Hanya saja saya sedih dengan sistem ini.

Dan lebih sedih lagi,
karena saya belum mau berbuat apa-apa,
masih tergilas roda.

Tuesday, October 7, 2014

Hitung Bulan, Tahun, Entah

Saling tahu
Tapi saling menjaga kata
Saling mengerti
Tapi saling menjaga sikap

Seandainya ujar lubuk bisa berkelana sendiri
Seandainya ujar lubuk bisa saling bersapa
Tanpa harus meminta izin pikir untuk berucap

Sungguh kami ini dibatasi batas
Apalah batas ini
Setelah kupikir-pikir batasan ini konsep yang bodoh
Pemikiran akan batas mengatur kami, memaksa kami bersandiwara
Padahal saling tahu jati diri sebenarnya

Sandiwara ini bodoh
Tapi memang harus dijalani
Sampai batas runtuh
Atau buruknya, sebelum itu
Atau buruknya, ketakutanku terjadi lebih dulu
Sampai salah seorang menyerah, menghapus rias di wajah, dan turun panggung

Mungkin belum terjadi,
Namun rasanya hampir pasti terjadi
Suatu hari nanti
Bukan hitung hari, melainkan bulan, tahun, entah


Aku takut

Saturday, September 20, 2014

Being Awesome

I'm not going to write sweet things about love and stuff. But I warn you to stop reading this if you don't feel like wasting your time. I'm just gonna write what I want to write, and if you find it too icky, that's your problem. Plus, pardon my very bad english.

So I met this very person who has thousands of cruel imaginations, literally, and he often makes me as the victim (fortunately, he tells me every cruel plans instead of doing it). And my life has changed, in every way a person can be changed.

And I'm gonna tell you, he is super weird.
His weirdness is unmatched by any other human being. I have this situation now where I become a comedian every time I tell my friends about us. Yes, sometimes they laugh too loud and I don't get it. Are we that weird or something?

No. I have to say that he is not romantic. But my friends keep telling me that I'm the one who doesn't. Or maybe I'm not used to having this kind of feeling. Still, I think he is the most unromantic person who keeps yelling that he is "romanpic" (a term we copied from Jebraw and Naya, it means "romantis" and "epic").

In my opinion, most people gain humility as they get older. But at the age of 20, he is one of the most humble people I've ever known. He's just sooo humble and sometimes it sucks!

The weirdest part is, I don't mind being patrick to his spongebob brain. I don't mind being the one who throw the TV away and jump in the box with him. I don't mind sitting in a chair beside him, closing my eyes, and talking about everything that people mind, in any other dimension. I don't mind being weird cause after everything we've done, being weird seems like just being awesome.

What the hell did I just write?
Well, I warned you.

Sunday, September 7, 2014

Permulaan yang Baru

Sepatu sudah berjalan jauh. Empat tahun sejak terakhir ia berhenti.
Ia selalu berjalan, tak jarang berlari, menggores badannya sana-sini.
Mana kenal ia lelah, meski dihajar susah.
Tak mau lagi ia banyak berhenti.
Tujuannya hanya satu.
Menyelesaikan perjalanan.
Entah berujung dimana.

Suatu ketika diguyur hujan. Hujan yang tak biasa. Hujan tak pernah dirasa.
Basah.
Dingin.
Berat.
Ia tak lagi berlari. Namun masih berjalan. Terus.

“Halo.”
Matahari menyapa.
“Halo juga.”
Sepatu membalas tanpa toleh dan henti langkah.
Masih berjalan. Terus.
Terus.
Sampai basah musnah.
Sampai dingin menyingkir.
Sampai hangat.
Sepatu berlari. Lagi.
Lama.

Lalu ia berhenti. Benar-benar berhenti. Sudah kubilang ia tak pernah berhenti sejak lama.
“Kenapa berhenti?” Matahari bertanya.
“Terima kasih.”
"Kenapa berhenti?"
“Aku ingin berterima kasih.”
“Ya. Lalu kenapa berhenti?”
“Mungkin aku tak ingin jalan lagi. Mungkin aku ingin disini. Berhenti. Denganmu.”
“Siapa bilang aku tak bersamamu jika kamu berjalan?”
“Sungguh?”
“Sejak dingin itu.”
“Selama ini?”
“Ya.”

Sepatu kini tau ia tak harus berhenti.

Satu langkah.
Dua langkah.
Ia lanjutkan perjalanannya.




“Ini permulaan dari perjalanan yang panjang, kita kan berjalan menuju tempat yang baru...” - Permulaan yang Baru



*credit to Jebraw and his song "Permulaan yang Baru"

Sunday, August 31, 2014

Tulisan di Sudut Layar

seorang anak kecil menangkup setangkai bunga dengan kedua tangannya. masih hidup.
berdiri di antara batas harapan dan kenyataan. harapan ingin semua hidup dengan saling menggenggam. kenyataan hanya ada tanah lapang dengan mesin-mesin menerkam.
dia berjalan, ke asal.
menyeruak di antara kerumunan penunduk
maya dan nyata tinggal sebatas jendela
tapi di tangannya ada hidup yang menunggu
"bawa apa kak?" tanya anak kecil yang masih menengadah
"ini hidup."
"bukannya itu bunga kak? kok dibawa-bawa?"
"iya ini bunga. satu."


Tulisan yang sudah sejak lama ada di desktop laptop bersama note-note penting organisasi.
Entah apa maksudnya, tapi banyak orang menilai tulisan ini dalam.

Sayang, bukan aku penulisnya.

Saturday, August 30, 2014

Meski Bangsa Justru Memangsa

Kalau besok punya anak
Ku biarkan ia pilih citanya
Ingin jadi apa aku rela
Asal ia tak lupa bangsa

Tapi harus ku jawab apa
Jika ia cinta lapangan bola
Ingin jadi pesepak bola
Ah aku jadi tak tega

Menggiring bola di Indonesia akan susah
Bahagia dengan siap tak berupah
Ku tau larinya kan gagah,
Namun tak mau hidupnya terengah

Haruskah ku paksa ia berhenti mencinta?
Memilih jalan hidup lainnya?
Atau kubiarkan ia mengejar cita?
Tersenyum bahagia,
Meski bangsa justru memangsa.


Sebenarnya aku menulis ini di mobil ketika mengobrol dengan keluarga. Kenapa begitu banyak pekerjaan yang tak dihargai di Indonesia. Aku tau untuk mengubahnya adalah tugas kita semua, dan merupakan perjuangan yang akan panjang tak bisa terselesaikan dalam satu dua generasi saja. Namun bagaimana perasaan seorang ayah dan ibu jika anaknya mencintai sesuatu yang tak dihargai bangsanya. Kebahagiaan anak pasti tak terkira nilainya. Namun akan hidup dengan apa jika pekerjaan tak dihargai bangsanya. Godaan untuk keluar pasti besar. Tidak mau khianati bangsa ini, karena mencintai Indonesia. Namun juga tak tega membayangkan anaknya terseok-seok, karena mencintai anaknya.

Ah masalah orang dewasa memang pelik.

Mungkin aku akan kembali ke masa kecil saja.
Kembali menendang bola sepak dengan bahagia.

Tuesday, August 19, 2014

I Will Always Do

There are places I remember
All my life though some have changed
Some forever not for better
Some have gone and some remain
All these places have their moments
With lovers and friends I still can recall
Some are dead and some are living
In my life I've loved them all

But of all these friends and lovers
There is no one compares with you
And these memories lose their meaning
When I think of love as something new
Though I know I'll never lose affection
For people and things that went before
I know I'll often stop and think about them
In my life, I love you more

In My Life - The Beatles


Saya sudah merasakan bagaimana ketika kehidupan memberi saya sebuket bunga yang wangi, lalu tiba-tiba menampar pipi saya dari samping. Saya sudah mendatangi ribuan tempat yang membuat saya terpana akan keindahannya, atau menahan sesak karena kesenduannya. Saya sudah mengenal banyak orang, lawan jadi kawan, maupun kawan jadi lawan. Saya merasakan berbagai macam kebahagiaan, kasih sayang, dan cinta.

Sembilan belas tahun hidup di dunia, sepertinya sudah cukup bagi saya untuk membuat sebuah penilaian secara dewasa.


You are the most wonderful people I've ever known. Compared to even the most cherished of all of my life's memories,
Ibu, Bapak, I love you more.

Monday, August 18, 2014

Nanti

Sudah berhari-hari.
Saya sedang bingung akan banyak hal. Bingung sekali.
Saya tak marah, hanya kecewa pada diri sendiri.

Saya memang selalu bercerita. Kepada orang tua jika bahagia, dan kepada teman-teman jika berduka. Namun kali ini saya sadar, masalah ini hanya tentang saya. Saya melawan dunia saya. Hanya saya yang bisa mengerti, hanya saya yang bisa menyelesaikan.

Kali ini keluhan dalam tulisan pun tak bisa melegakan.
Saya ingin menjadikan sesuatu seperti yang saya inginkan.
Saya ingin ketololan ini segera terselesaikan.
Meski tak karuan, saya usahakan semua dengan senyuman.

Biar saya belajar hadapi sendiri.
Biar saya berjuang mandiri.
Jangan sampai menyerah, nanti.
Meski sungguh saya bersedih hati.

Saturday, August 9, 2014

Kira

Semua bahagia dengan segala pura.
Apa bahagia adalah bahagia jika sandiwara?
Aku kira akan berbeda.
Aku kira tak ada topeng.




Ternyata sama saja.

Kembali hidup seperti dulu.


Sampah.

Friday, August 8, 2014

Seorang Laki-laki dan Bahagianya

1945.

Dua malaikat sedang duduk di bawah pohon asam jawa di halaman sebuah rumah sederhana yang sedang sedikit gaduh. Kelahiran.

"Dengar suaranya."
"Ya, sejuk."
"Ya. Semoga menjadi bagian dari laki-laki yang baik hidupnya."


***


1960.

"Lihatlah betapa sudah besar."
"Ya. Dewasa dan sederhana."
"Sopannya ia bertutur, pandainya ia mengatur."
"Tidakkah kau ingin memberinya hadiah ulang tahun?"
"Tentu, sudah disiapkan."
"Aku pun. Apa hadiahmu?"

Bocah itu sedang membantu ayahnya mencuci sepeda. Sepeda yang biasa mengangkut Suara Rakyat, Harian Umum, dan koran-koran lainnya. Ia sama sekali tak menyadari bahwa hari itu, dua doa telah dihembuskan.

"Ia akan disenangi dan dihormati, atas ketulusan dan kesopanannya."
"Hidupnya akan selalu bahagia, dalam sebuah kesederhanaan."



*********


Tulisan fiksi ini terinspirasi dari seorang bapak pegawai harian Kedaulatan Rakyat yang setiap bulan datang ke rumah saya menyampaikan tagihan koran. Bapak yang tak saya ketahui namanya ini sudah tua, penampilannya sederhana sekali. Yang membuat saya terharu, bapak ini sangat sopan dalam bertutur kata. Sopan sekali, lembut, sama sekali tak dibuat-buat. Ia selalu tersenyum, tampak tulus melakoni pekerjaannya. Ia datang mengendarai motor tuanya. Setelah membayarkan tagihan, saya selalu menunggui bapak ini pergi hingga hilang dari pandangan saya. Kadang saya tak tega melihat ia menaiki motornya seorang diri.

Terima kasih, Pak.
Semoga Bapak senantiasa diberi kesehatan, dan kebahagiaan dalam kesederhanaan.