Saturday, June 18, 2016

Tamparan Semesta

Pernah kah kalian merasa lelah berjuang kemudian ditampar oleh keadaan?

---------

Those days were supposed to be minggu tenangnya anak teknik. Satu minggu sebelum ujian yang sengaja diliburkan untuk mempersiapkan ujian. Nyatanya, seperti minggu tenang anak sipil pada umumnya, minggu tenang kami dipenuhi dengan deadline dan ujian tugas besar.

The first three days of that week, I couldn't even get some good sleep. Demi mengejar deadline.
Dan setelah tugas selesai, sederet kegiatan menghadang untuk segera diselesaikan. Dua kegiatan yang merupakan tanggung jawabku harus terlaksana di waktu yang sama.

That moment, I wish I could just buy extra time to sleep.

Tapi kemudian, aku mendapat tamparan luar biasa dari semesta.

Hari itu, aku menangis dua kali.

---------


Aku berkunjung ke sebuah panti asuhan berkebutuhan khusus di kawasan Bantul.
Mungkin ini hal klise.
Aku juga menganggap ini hal yang sangat biasa dan tidak istimewa.
Sampai akhirnya aku menyaksikan langsung.
Waktu itu mereka memainkan lagu Jangan Menyerah yang seketika membuatku tertunduk malu.
Mereka bernyanyi, tertawa, bercanda,
Bahagia.
Lingkungan tak memahami,
Takdir menuntut,
Dan mereka bahagia.
Empat puluh enam dari entah berapa juta jiwa di luar sana yang tak seberuntung mereka.
Empat puluh enam senyuman hari itu hadir disana, khusus dikirim oleh Tuhan untuk menamparku.
Seolah-olah Tuhan berbisik lewat telinga mereka, 
"Tunjukkan bahagiamu pada ia yang lupa tersenyum dan bersyukur."
Tuhan,
Kenapa aku sering lupa berbagi dan memahami sesama manusia?



Lalu aku berjumpa dengan secuil suasana tanah impianku.
Papua.
Hari itu Keluarga Mahasiswa Papua Gadjah Mada mengundang Ari Sihasale dan Nia Zulkarnaen hadir di depan mataku.
Delapan puluh hari Ari dan Nia menjelajah Papua,
Enam puluh menit Ari dan Nia menuturkan kisahnya dengan tulus kepada kami.
Dan itu cukup membuatku tertegun.
Atmosfer tanah Papua, keoptimisan yang ada di dalamnya, dan setiap butir kisah haru mereka membuat aku tidak sanggup menyembunyikan air mata dan sesekali menyekanya.
Duh, di tengah-tengah audience yang hadir, aku merasa malu.
Tapi sungguh aku tersentuh,
Dan kembali tersulut semangatku.
Ari dan Nia hari itu hadir disana, khusus dikirim oleh Tuhan untuk menamparku.
Seolah-olah Tuhan ingin menghardikku,
Bahwa apa yang aku lakukan, lelah perjuangan pada hal-hal kecil yang tampak remeh, akan terbayar lunas untuk mimpi besarku, untuk tanah Papua.



Perjuangan ini tak sia-sia, perjuangan ini untuk mereka!
Untuk mimpiku mewujudkan mimpi-mimpi sesama!

Hari itu aku merasa menjadi orang paling bodoh sedunia,
Namun kemudian menjadi orang paling optimis sedunia.

Ternyata, semangat dan lelahku selama ini masih punya tujuan.

Dan tujuan itu,
Masih menungguku.

Thursday, June 16, 2016

Aku dan Barasuara

BARASUARA

Sebenernya udah denger dari lama sih, cuma beberapa hari ini baru hobi menyimak 9 lagu album Taifun dengan seksama. I mean, literally seksama: mendengarkan dengan headphone, mengutak-atik equalizer nyari-nyari yang pas, menyimak aransemen, mendengarkan suara per instrumen dan vokal, menghayati lirik, menikmati feel lagu. Sembilan lagu diulang sampe infinity.

Terus, setelah saya pikir-pikir (despite the fact that musikalitas saya cuma sebatas bisa ngebedain lagu 3/4 ama 4/4), album ini matang sekali.

Rapi banget, kaya banget, aransemen cerdas, porsi dan timing tiap instrumen dan vokal pas, lirik dalem bos, jenius lah pokoknya ini album.
Lalu saya cari tau. Ternyata nyiapin Taifun butuh tiga tahun.
Wadaw.
Pantes lah mereka terkenal dengan albumnya, bukan karena satu dua single aja.

Selain itu, live performance mereka berkualitas, dengan attitude personel yang baik.
Lalu saya cari tau. Ternyata sebelum rilis album, bertahun-tahun mereka latihan sambil menggodog album.
Wadaw.
Pantes lah panggung pertama mereka di Jogja, pertama loh ya, langsung penuh dan setelahnya banyak dibicarakan orang hingga tenar.

Jarang-jarang nih ada band kayak gini.
Orang-orang yang ada di dalamnya kayaknya memang orang-orang yang udah jenius duluan sebelum bikin project ini.
Paling tidak sebelum mendengar nama Barasuara, saya udah tau Iga di Tika and The Dissidents sama di TTATW yang super asoy yang saya ga paham kenapa banyak orang ga ngerti, Marco si produser album Raisa yang udah jadi arranger dari lama (snare rendahnya asoy banget jir!) dan Gerald bersama project-project instrumentalnya, song writerarranger, dan produser album Dandelion-nya Monita yang super duper enak banget keliling alam semesta 7 kali itu.
Dan mungkin, personel lainnya juga sama jeniusnya dengan tiga orang itu.

Nggak hanya jenius, tapi mereka juga cerdas karena pengalaman. Mungkin karena diaransemen bareng-bareng sama orang jenius nan cerdas makanya ini satu album bisa enak banget kayak sate klathak Pak Pong nambah bawang merah.


Btw,

Ngomong apa sih.

Hahahahahahahahahahahahaha.

Udah ah ntar ada ujian jam 8.

Jangan lupa dengerin Taifun!

Tuesday, May 24, 2016

Aku dan Nosstress

Ini cerita tentang satu lagi hari Sabtu yang penuh kebahagiaan.

Sebelumnya, aku mau cerita dulu tentang satu grup musik yang amat ku kagumi.


Nosstress

Aku baru ingat.
Pertama kali mengenal Nosstress, adalah saat aku mengunjungi tulisan Rara Sekar. Disana Rara Sekar menuliskan bahwa ia mengagumi band asal Bali ini.
Dan ketika mencari tau lagu-lagunya, aku langsung jatuh cinta.

Bagiku, Nosstress tak hanya menawarkan musik yang indah, namun juga membawa misi dari hati melalui lirik yang mereka ciptakan. Misi yang mulia, yang bisa membawa perubahan besar bagi siapa saja.

Ketika album kedua mereka lahir dan lagu Pegang Tanganku mulai beredar di internet, aku langsung menabung dan bertekad membeli original CD-nya. Dan setelah mendengar 10 lagu secara komplit, aku bersyukur menghabiskan 45 ribu rupiah dengan sangat bijak.

Nosstress sudah cukup tenar di Bali sana. Sayangnya belum terlalu dikenal oleh teman-teman dan lingkunganku. Belum cukup kiranya cinta orang Jogja untuk mengundangnya bernyanyi di sini. Harus ku pendam dulu.

Sampai akhirnya, Sabtu, 21 Mei 2016.
Mereka diundang tampil di Solo.
Aku membeli tiketnya jauh-jauh hari. Menandai kalenderku. Menyiapkan CD untuk di bawa.
Intinya aku tidak sabar.

Hari itu, pukul 5 sore aku berangkat sendiri, mengendarai mobil selama tiga jam melalui macetnya jalanan Jogja-Solo di malam Minggu. Aku ingin menikmati momen magis ini sendiri.

Sampai disana, aku tidak menyangka. Aku terkejut sekaligus bahagia.
Turns out there are so many people love them just like the way I do.
Ternyata banyak penonton yang hadir malam itu.
Ratusan penonton menanti mereka, ikut bernyanyi dan berbahagia.
Karya mereka dinikmati banyak orang, dan itu membuatku bahagia!

Bahkan di luar ruangan Nosstress di backstage, aku bertemu beberapa orang yang melakukan hal yang sama denganku: membawa CD milik mereka dan menanti untuk dilegalisir.
Tiga orang mas-mas yang ada di situ sama denganku, datang jauh-jauh dari Jogja untuk Nosstress.
Ah, aku bahagia sekali!

Malam itu sungguh sempurna.
Aku berdiri tepat di depan panggung. Dan hanya mengambil satu foto ini saja, karena tak mau menyianyiakan kehadiran mereka di depanku.


Di depan mereka, di tengah lantunan lagu mereka, I did close my eyes a few times. Because sometimes, you can't enjoy a heart-made work with your eyes only. You need your soul. And your heart.
Karena apa yang dibuat dari hati, pasti akan sampai ke hati.

Kupit, Man, dan Cok hadir di depan mataku dan mengisi hati semua orang yang ada di sana.

Seusai acara, aku berjalan menuju backstage mencari ruangan Nosstress.
Setelah selama ini mengikuti akun sosial media mereka, video-video mereka, aku bisa membayangkan mereka akan sangat ramah dan dengan senang hati melayani penggemarnya untuk sekedar foto dan tanda tangan. Seperti apa yang dilakukan Silampukau, band lain yang malam itu turut meramaikan panggung juga, yang dengan senang hati ke luar ruangan membaur bersama penggemarnya.

Malam itu, Nosstress mengurung diri di ruangannya dan "sedang tidak bisa diganggu karena lelah", kata panitia.
Tentu aku dan mas-mas yang sudah menanti di depan pintu sedikit kecewa. Aku bukan kecewa karena tak mendapat foto dari mereka. Aku terkejut karena sikap mereka tak sesuai ekspektasiku.
Akhirnya, aku dan mas-mas tadi hanya bisa menitipkan CD kami untuk dibawa masuk oleh panitia.

Aku jadi ingat momen dua kali aku menonton Banda Neira, mereka selalu turun ke bawah panggung setelah selesai tampil untuk membaur dengan ratusan penonton, meski dengan muka sangat lelah (bisa terlihat dari mata Nanda di fotoku bersama mereka).

Ah, tapi tidak apa.
I keep telling myself: mungkin mereka punya alasan lain yang tak ku ketahui. Aku hanya terkejut karena tak sesuai ekspektasiku. Itu saja.

Hal itu tidak mengurangi kesempurnaan malam itu.
Malam yang tidak terlupakan.
Malam yang sesungguhnya sudah pagi karena aku baru beranjak pulang pukul 00.30.

Terima kasih Bli Kupit, Bli Man, Bli Cok,
Karena telah ada dan mengisi hati kami dengan musik yang bergizi.

Dan untuk teman-teman yang membaca ini,

Keberuntungan Berbuah Kehormatan

Tanggal 7 Mei yang lalu adalah satu hari tak terlupakan.

Sejak almarhum guru Bahasa Indonesia-ku di SMP, aku belum menemukan seorang pengajar yang begitu mempengaruhi hidupku.


Sampai akhirnya bertemu beliau.
Seorang yang begitu aku kagumi integritas dan pola pikirnya yang terlampau unik.

Sabtu, 7 Mei 2016 satu kejadian berharga terjadi dalam hidupku.
Ini bukan sebuah prestasi, semata-semata sebuah keberuntungan yang berbuah kehormatan.
Kehormatan yang mungkin tidak dirasakan ketika orang tersebut bukan orang yang Anda kagumi sejak lama, sejak pertama berjumpa.
Sampai detik ini aku masih bisa merasakan detak jantung yang tak bisa kukendalikan ketika mengundang beliau naik ke panggung dan duduk 30 cm di sebelah kiriku.

Although I kinda messed that thing up, at least I know that I did my best trying to control myself :))
And I would never call it as a mistake since "Mumpung masih mahasiswa, keluarkan 1001 kesalahan Anda." is one sentence I live by. Yang selalu ia ucapkan saat kuliah.
It was still one of the best experiences I've ever had!


Sunday, April 3, 2016

Apa yang Lebih Romantis?

Apa yang lebih romantis dari duduk diam merenung tentang hidup, kebenaran, dan kemanusiaan di Lembah Mandalawangi?

Entah.
Paru-paruku bahkan belum sekalipun menghirup udaranya.
Hanya sesekali anganku mendarat disana,
Bersama harapan suatu saat menjadi nyata

Ah.
Atau mungkin,
Mungkin aku tau jawabannya.

Duduk diam merenung tentang hidup, kebenaran, dan kemanusiaan di Lembah Mandalawangi,

Bersamamu,
Sosok yang bahkan belum ku kenal.

Kaya Hati

Banyak yang bilang mahasiswa itu mengenaskan. Tuntutan banyak, reward minim, uang masih minta orang tua. Tidak berdaya, tidak punya andil dan peran yang berarti.

Tapi justru masa ini tercipta dengan sempurna.
Mumpung masih di bawah, mari perkaya diri.
Mumpung tak punya motif-motif pribadi, mari mencari arti.
Jangan hanya perkaya ilmu, tapi yang terpenting,

Perkaya hati.

Memperkaya hati bagaikan sebuah investasi, yang hasilnya akan Anda petik jauh hari nanti, ketika tak lagi punya waktu basa-basi.

Biar besok kalo diberi kekuasaan nggak goblok-goblok amat.

Menonton film ini adalah salah satu caranya. Memperkaya hati dan memberi nutrisi pada diri Anda. Anda akan menemukan sudut pandang yang berbeda.
Setelah itu, selamat berpikir.

Semoga kita menjadi profesional yang kaya hatinya.


Tuesday, March 15, 2016

Perbincangan Bergizi

Pertengahan Februari lalu saya berkunjung ke ibu kota bersama beberapa teman baru.
Kami kebetulan baru saling berkomunikasi dan mengenal satu sama lain selama kurang lebih beberapa minggu saja.

Singkat cerita, malam itu saya dan dua orang teman "terjebak" dalam sebuah percakapan setelah makan malam di sebuah mall di Bogor. Dan malam itu, setelah beberapa topik bahasan yang cukup ringan bahkan terkadang tidak relevan, kami mulai beranjak ke sebuah topik yang cukup lucu:

"Menurutmu, apa yang salah dengan Indonesia saat ini?"

Wah, sekelompok mahasiswa ingusan semester 6 berusaha memecahkan permasalahan fundamental bangsa.

Lucu kan?

Dengan background pendidikan kami yang amat sangat berbeda, ditambah pengamatan masing-masing, kami mengutarakan pendapat dan berdiskusi. Like, literally, diskusi untuk berbenah secara realistis dan apa yang akan kita lakukan nanti ketika kerja untuk memulai semua itu.

Hahahahaha

Aku kangen punya temen yang bisa diajak berbicara bahasan-bahasan sampah, namun juga concern di topik-topik masif dan krusial. Yang asik diajak bercanda, tapi juga seru diajak berpikir kritis dan membincangkan sesuatu yang mungkin banyak orang menganggap kaku atau terlampau serius.

Menurutku, that kind of conversation lumayan menyehatkan, bergizi, dan terkadang menjadi pengingat diri sendiri untuk terus bergerak maju.

Dulu di SMA pernah punya teman-teman yang seperti itu.
Semoga lain waktu bisa "terjebak" lagi dengan orang dan topik yang sama serunya.

Wednesday, March 2, 2016

Watching Indonesian League & Febri really help me though.

Aku sedang suntuk dan ingin menulis.

Ini tentang aku dan basket.

Aku memang bukan pemain yang handal, yang menggantungkan hidupku pada olahraga ini. Namun aku tidak pernah bisa lepas darinya.
Aku mengenal bola basket sejak kecil. Bahkan sejak bangku sekolah dasar aku beberapa kali mengikuti pertandingan dan memenangkannya. Di bangku SMP, aku terus bermain. Aku mulai bergabung di klub, beberapa kali bertanding untuk kelompok umur di atasku, dan terlibat seleksi wilayah.

Di bangku SMA, hal itu terjadi.
Aku sudah lupa bagaimana sakitnya. Yang jelas, ketika tubuhku dihantam lawan dan jatuh tersungkur, rasa sakitnya sampai membuatku berteriak hingga supporter sekolahku yang memenuhi tribun seketika terdiam dan memandang ke arahku. Aku ingat betul hari dan tanggal dimana ACL lutut kananku putus.

Sayangnya, saat itu aku tidak menangani cedera itu dengan baik.
Setelah pengobatan sederhana dan merasa bisa beraktivitas, aku kembali bermain basket meski tau ada sesuatu yang salah dengan lutut kananku sejak hari itu. Aku tetap bermain, meski tak lagi bisa seagresif dulu. Saat itu, permainanku yang terbatasi oleh lutut yang rawan kambuh sedikit membuatku terpukul.

Sejak meninggalkan klub saat SMP, aku belum pernah berlatih bersama tim dengan porsi latihan yang cukup berat dan kemampuan rata-rata di atasku. Di bangku kuliah, setelah beberapa kali penjajakan, aku menemukan sebuah lingkungan latihan yang pas. Saat bergabung dengan tim ini, aku merasa sangat bersemangat untuk kembali bermain dengan total, karena lingkungannya sangat menuntutku untuk berkembang. Sayangnya, tim ini hanya aktif satu tahun sekali menjelang sebuat turnamen antar fakultas. Setelah satu kali melakoni turnamen, aku merasa berkembang dan sangat bahagia menjalani prosesnya. Aku sangat menantikan bermain bersama tim ini untuk kedua kalinya. Namun akhirnya aku gagal bergabung karena sebuah musibah.

Hari itu, beberapa bulan yang lalu, ACL lutut kiriku putus.

Aku terpukul luar biasa.

Kali ini aku menyadari cedera ini terjadi karena kesalahanku. Sebelum pertandingan itu aku tak punya cukup persiapan dan latihan padahal beberapa bulan aku tidak olahraga serius. Kondisi tubuhku overweight, dengan lutut kiri yang harus bekerja lebih keras karena lutut kananku sudah tidak bekerja dengan normal. 

Aku baru tau, rasanya divonis dokter putus ligamen itu jauh lebih sakit dibanding putus pacar versi mana pun.

Jika hidup ini mempunyai beberapa turning point, hari dimana aku divonis dokter sebagai manusia tanpa ACL adalah salah satu turning point yang membawa hidupku terjun ke bawah. Sangat dalam.

Kini aku memang bisa beraktivitas layaknya manusia biasa. Namun, dengan dua lutut tanpa ligament, dokter jelas tidak menyarankan aku untuk berolahraga selain bersepeda dan berenang.
Untuk bisa kembali menyentuh bola basket, aku harus melakoni operasi dengan masa penyembuhan 8 bulan dan biaya yang tidak sedikit. Dua kali, kanan dan kiri. Dan aku bukan lah pemain profesional yang bisa dengan mudahnya berkata "minggu depan operasi di Filipina" macam Pringgo atau Wisnu karena itu memang prioritas utama mereka.

Sekali lagi, biayanya tidak sedikit. Aku tak mau buru-buru menuntut orang tuaku untuk hal yang bukan prioritas dalam hidupku, meski aku mencintai basket. God I love basketball so much I literally cry every time I talk about this thing..
Aku sadar aku masih harus menyelesaikan studi. Dan aku punya kegiatan perkuliahan yang harus kuatur jadwalnya sedemikian rupa sehingga kalau pun nanti memutuskan untuk operasi, masa penyembuhannya tak mengganggu studiku. Aku sadar, hal yang aku cintai ini bukan prioritas utama dalam hidupku.

Tapi aku rindu.

Aku rindu tertawa bersama rekan satu tim, terengah-engah lelah memegangi perut, bunyi decitan sepatuku dengan lapangan, tatapan membara pelatih saat time out ketika musuh memimpin, teriakan cacian hinaan pelatih saat turn overku bertambah, usapan tangan pelatih di kepalaku ketika mereka bangga padaku, uluran tangan rekan satu tim saat aku memberinya assist, dan hal-hal lain yang tak bisa kudapatkan lagi sekarang.

Aku rindu.
Basket membesarkanku. Basket memberiku banyak hal. Terlalu banyak. Teman, keluarga, tawa, tangis, sakit, semangat, malu, bangga, dan banyak hal lain.

Mungkin ini saatnya aku berhenti meminta.
Mungkin ini saatnya aku duduk, beristirahat, dan mencari.
Menikmati permainan sebagai seorang penonton, memahami makna dari sudut pandang orang ketiga.


Tapi, ketika tiba-tiba aku sedih dan menangis lagi,
Jangan paksa aku untuk berhenti rindu.

Monday, February 29, 2016

Sembilan Hari Bahagia di Yogyakarta

"Nanti malem yang main bagus nggak? Ibu pengen nonton."
"Ayo, Dek, nonton."
"Nanti malem jadi nonton to?"
Dan akhirnya, meski aku sendiri tak berencana nonton, malam itu kami berangkat ke GOR tanpa peduli tim apa yang berlaga. Aku tau pasti, Ibu tidak tau banyak tentang tim dan pemain. Ibu banyak bertanya kepadaku di perjalanan pulang.

Big match terakhir di Jogja, Ibu datang sendirian ke GOR naik motor dan duduk sendiri di tangga tribun sampai pertandingan selesai, setelah itu pulang tanpa menemuiku. Padahal aku juga ada disana sejak sore bersama teman. Ibu ke GOR benar-benar karena ingin nonton.

Jadwal ibu yang terkadang suka ngaco langsung pengen nonton, pertanyaan-pertanyaan bertubi tentang dunia basket Indonesia, apalagi harus dijelaskan berulang karena terkadang satu kali penjelasan susah dimengerti Ibu, hal-hal ini awalnya sempat membuat aku risih.


----------


Suatu hari setelah pertandingan besar berakhir, aku dan mobilku terjebak di tengah-tengah motor yang terparkir. Hujan. Dan motor-motor itu tak kunjung pergi.
Para pengendaranya sedang berhujan-hujan 15 meter dari mobilku, menunggu pemain-pemain idolanya keluar dari GOR. Bisa ku lihat dan ku dengar dengan jelas dari dalam mobil selama kurang lebih satu jam, satu per satu pemain keluar diiringi jerit kagum terkadang histeris.
Satu jam yang awalnya sempat memancing emosiku.


----------


Harus diakui, komentar-komentar cheesy di GOR kadang annoying juga. Apalagi tipikal wanita-wanita penggemar yang nggak ngerti sama sekali tentang basket dan akhirnya komen-komen berisik annoying tanpa bisa ngerti keseruan game atau bahkan mengganggu kenikmatan game. Harus diakui hahaha.
Hal ini, awalnya juga sempat kerap membuatku risih.


-----
---------------
-----



Saya mulai hobi menonton IBL sejak SMP.
Dan liga basket nasional milik Indonesia, apa pun namanya, siapa pun promotornya, memiliki makna bagi saya.

Melihat perjuangan sebuah liga nasional, jatuh bangun, dan sampai di titik ini, sebagai seorang yang menikmati pertandingan basket, saya mempunyai cita-cita yang sama dengan para pemain dan tim yang bergelut disana.

Saya ingin basket untuk Indonesia.
Saya mendukung IBL.

Motivasi saya sederhana.
Saya mencintai olahraga ini. Sebagai manusia tanpa ACL sejak tahun lalu, yang bisa saya lakukan hanya menikmati pertandingan. Saya punya tim favorit. Saya punya pemain idola.
Saya ingin Indonesia mencintai olahraga ini.
Saya ingin tim favorit saya terus bergerak.
Saya ingin pemain idola saya bermain dengan baik dengan jaminan kehidupan yang layak. Karena sedih membaca cerita tentang mereka di masa sulit IBL dulu.

Sekarang, saya optimis.
Kejadian-kejadian di awal tulisan ini, adalah hal-hal ganjil, yang setelah saya telaah lebih lanjut adalah sebuah tanda.
Tanda bahwa olahraga ini sedang menyusup ke setiap celah. Memikat setiap kalangan. Dan setiap orang, bebas menikmatinya dengan alasan dan motivasinya masing-masing.
Saya bahagia melihat tribun GOR yang penuh.
Saya bahagia melihat seorang ibu dan anak balitanya duduk asik menonton pertandingan.
Saya bahagia melihat IBL punya salary cap!
Saya bahagia melihat cewek-cewek fanatik berteriak dibalik barikade pintu pemain.
Saya bahagia IBL kembali bisa tayang di televisi.
Saya bahagia melihat orang yang nggak ngerti apa-apa tentang basket beli tiket dan nonton pertandingan demi liat ke-cihuy-an Prastawa atau Kelly.

Intinya, saya bahagia!
Mari ramaikan liga, tingkatkan animo, raih prestasi untuk negeri!

Saya optimis basket untuk Indonesia!


P.S.
Saya juga optimis Aspac juara tahun ini, dan Febri tetap idola saya sepanjang masa! :p

Wednesday, January 27, 2016

Aku Rindu

Sudah hampir empat tahun sejak 9 Juli 2011.

Bapak,
Saya rindu..

Bapak,
Apa kabar?
Ingin rasanya berkunjung ke bengkel Panama untuk sekedar menyapa.
Tempat terakhir saya lihat Bapak.

Bapak,
Saya sudah tahun ketiga di bangku kuliah.
Waktu berlalu begitu cepat, ya?
Meski tak terlalu hebat, sudah banyak yang saya capai.
Dan saya percaya, saya disini karena Bapak.

Bapak,
Ingin rasanya memberitahumu.
Bahwa segala toleransi dan pikiran yang terbuka berasal darimu.
Kemana pun nanti masa depan membawa saya,
Bapak akan selalu menjadi bagian dari hidup saya.

Bapak,
Mereka bilang pertemuan menghapus rindu.
Namun doa mengobati dan membuatnya kekal.
Saya ingin sekali berjumpa, ingin sekali..


Selamat ulang tahun, Bapak.
Hormat saya sepenuh jiwa raga.



26 Januari 2016
Dahlia Anggita Zahra, RSBI II angkatan 2010