Tuesday, August 19, 2014

I Will Always Do

There are places I remember
All my life though some have changed
Some forever not for better
Some have gone and some remain
All these places have their moments
With lovers and friends I still can recall
Some are dead and some are living
In my life I've loved them all

But of all these friends and lovers
There is no one compares with you
And these memories lose their meaning
When I think of love as something new
Though I know I'll never lose affection
For people and things that went before
I know I'll often stop and think about them
In my life, I love you more

In My Life - The Beatles


Saya sudah merasakan bagaimana ketika kehidupan memberi saya sebuket bunga yang wangi, lalu tiba-tiba menampar pipi saya dari samping. Saya sudah mendatangi ribuan tempat yang membuat saya terpana akan keindahannya, atau menahan sesak karena kesenduannya. Saya sudah mengenal banyak orang, lawan jadi kawan, maupun kawan jadi lawan. Saya merasakan berbagai macam kebahagiaan, kasih sayang, dan cinta.

Sembilan belas tahun hidup di dunia, sepertinya sudah cukup bagi saya untuk membuat sebuah penilaian secara dewasa.


You are the most wonderful people I've ever known. Compared to even the most cherished of all of my life's memories,
Ibu, Bapak, I love you more.

Monday, August 18, 2014

Nanti

Sudah berhari-hari.
Saya sedang bingung akan banyak hal. Bingung sekali.
Saya tak marah, hanya kecewa pada diri sendiri.

Saya memang selalu bercerita. Kepada orang tua jika bahagia, dan kepada teman-teman jika berduka. Namun kali ini saya sadar, masalah ini hanya tentang saya. Saya melawan dunia saya. Hanya saya yang bisa mengerti, hanya saya yang bisa menyelesaikan.

Kali ini keluhan dalam tulisan pun tak bisa melegakan.
Saya ingin menjadikan sesuatu seperti yang saya inginkan.
Saya ingin ketololan ini segera terselesaikan.
Meski tak karuan, saya usahakan semua dengan senyuman.

Biar saya belajar hadapi sendiri.
Biar saya berjuang mandiri.
Jangan sampai menyerah, nanti.
Meski sungguh saya bersedih hati.

Saturday, August 9, 2014

Kira

Semua bahagia dengan segala pura.
Apa bahagia adalah bahagia jika sandiwara?
Aku kira akan berbeda.
Aku kira tak ada topeng.




Ternyata sama saja.

Kembali hidup seperti dulu.


Sampah.

Friday, August 8, 2014

Seorang Laki-laki dan Bahagianya

1945.

Dua malaikat sedang duduk di bawah pohon asam jawa di halaman sebuah rumah sederhana yang sedang sedikit gaduh. Kelahiran.

"Dengar suaranya."
"Ya, sejuk."
"Ya. Semoga menjadi bagian dari laki-laki yang baik hidupnya."


***


1960.

"Lihatlah betapa sudah besar."
"Ya. Dewasa dan sederhana."
"Sopannya ia bertutur, pandainya ia mengatur."
"Tidakkah kau ingin memberinya hadiah ulang tahun?"
"Tentu, sudah disiapkan."
"Aku pun. Apa hadiahmu?"

Bocah itu sedang membantu ayahnya mencuci sepeda. Sepeda yang biasa mengangkut Suara Rakyat, Harian Umum, dan koran-koran lainnya. Ia sama sekali tak menyadari bahwa hari itu, dua doa telah dihembuskan.

"Ia akan disenangi dan dihormati, atas ketulusan dan kesopanannya."
"Hidupnya akan selalu bahagia, dalam sebuah kesederhanaan."



*********


Tulisan fiksi ini terinspirasi dari seorang bapak pegawai harian Kedaulatan Rakyat yang setiap bulan datang ke rumah saya menyampaikan tagihan koran. Bapak yang tak saya ketahui namanya ini sudah tua, penampilannya sederhana sekali. Yang membuat saya terharu, bapak ini sangat sopan dalam bertutur kata. Sopan sekali, lembut, sama sekali tak dibuat-buat. Ia selalu tersenyum, tampak tulus melakoni pekerjaannya. Ia datang mengendarai motor tuanya. Setelah membayarkan tagihan, saya selalu menunggui bapak ini pergi hingga hilang dari pandangan saya. Kadang saya tak tega melihat ia menaiki motornya seorang diri.

Terima kasih, Pak.
Semoga Bapak senantiasa diberi kesehatan, dan kebahagiaan dalam kesederhanaan.

Wednesday, August 6, 2014

#marimembaca

Buku adalah jendela dunia bukanlah quote yang mengada-ada. Orang yang gemar membaca buku pasti berwawasan luas dan berpikiran terbuka.

Membaca buku itu seperti investasi. Hasilnya akan kamu petik kelak ketika hidup kamu jalani. Silahkan tanya Bung Hatta atau Soe Hok Gie jika tak percaya. Tanyakan pada tokoh-tokoh besar di seluruh dunia.

Saya sedih ketika adik-adik saya tak suka membaca. Saya sedih ketika gadget memangkas waktu intim manusia bersama buku, termasuk saya. Saya sedih ketika perpustakaan yang kerap saya kunjungi saat SD sudah tak ada. Saya sedih ketika orang-orang menganggap membaca buku adalah hal yang biasa saja dan wajar jika dilewatkan.

Saya hanya merasa, orang-orang yang jarang membaca buku benar-benar merugi dalam hidupnya.

Wednesday, July 30, 2014

Six-year-old me was scared of cockroach though

"You should be scared of something sometimes hahaha."

Those words came out of her mouth, a friend of mine. Meski tak diucapkan dengan serius, kata-kata itu keluar. Katanya, aku ini terkadang memang sangat membantu, karena aku bukan penakut. Aku jadi berguna ketika teman-temanku harus berurusan dengan darkness, insects, quiet places, stuff like that.

"Kamu takutnya sama apa sih? Kadang temen-temen di sekitarmu juga pengen jadi orang yang melindungi lho, boys especially. Udah jadi sifat dasar mereka kali hahaha."

Well, should I?

Ah, I don't think so. Kalo bisa melakukan sendiri, kenapa harus pretending something you're not?

Thursday, July 24, 2014

Some Tips to Enjoy Your Life

Tujuh hal menyenangkan tentang pantai dan sore hari yang tak direncanakan.
  1. Kejutan! Bangun tidur tanpa rencana, ternyata harimu berakhir disini. Cukup menyenangkan bukan?
  2. Sejuk dan hangat. Best weather ever! Si surya tidak menyengat kulitmu.
  3. Warna yang mengiringi matahari terbenam menyelimuti pantai, laut, tebing, dan langit. Bukan pemandangan yang bisa kamu lihat di depan rumah (kecuali rumahmu memang di pinggir pantai).
  4. Luas. Tidak akan kehabisan tempat untuk berjalan, mungkin sambil mengobrol. Sampai obrolanmu habis. Atau sampai matahari tenggelam.
  5. Jangan takut untuk berjalan menghadap ke belakang. Jangan tanya kenapa. Sometimes we need to do things for no reasons. It feels good not to think.
  6. Tempat yang bagus untuk menghabiskan waktu sebelum hari keramasmu tiba. Rambutmu akan pernuh dengan pasir, sedikit lengket karena udara yang mengandung air asin, dan tentu saja, acak-acakan.
  7. Hamparan bintang luas!



Parangtritis, 22 Juli 2014

Wednesday, July 9, 2014

Ngomong Soal Demokrasi

Kehidupan demokrasi di Indonesia sedang mencapai sebuah titik baru. Titik yang belum pernah kita alami sebelumnya. Antusiasme begitu tinggi, yang tak jarang berakhir di fanatisme.
Sungguh saya bukan ahli komunikasi apalagi politik. Saya hanya berbicara berdasarkan pengamatan dan pengetahuan dangkal yang saya miliki. Saya tak mengatakan kita tak seharusnya melewati fase ini. Mungkin saja ini memang salah satu langkah yang harus dialami untuk menuju demokrasi yang baik. Mungkin saja tidak. Saya tak tahu.

Saya hanya prihatin melihat fasilitas mengemukakan pendapat di era sosial media ini digunakan oleh masyarakat yang belum siap mengolah informasi. Bagi pengguna sosial media, suka atau tidak, anda akan terjebak dalam lingkaran fenomena ini. Kita belum mau mencerna dan menyaring informasi dengan baik. Dengan teknologi saat ini yang bisa dengan mudah menyebar informasi dalam satu kali klik, penyerapan informasi yang tak sempurna apalagi tak valid, sungguh bahaya.

Kita dengan mudah menyantap apa yang dihidangkan, tanpa mencari tahu bahan dasar yang digunakan. Kita belum mau mencari informasi, kita hanya menerima informasi. Kalo dikasih tau dan diberi, kita mau-mau saja. Toh sudah tersaji. Tapi untuk mencari tahu, kita malas. Mental seperti ini yang dimanfaatkan pihak-pihak tak bertanggung jawab, tanpa kita sadari. Sifat-sifat pengguna sosial media seperti kita, adalah sasaran empuk untuk menanamkan doktrin-doktrin yang melenceng. Dan ini terjadi benar-benar dengan cara perlahan, kita tak akan sadar. Bahkan saya yang sudah menulis seperti ini pun mungkin juga tak sadar telah terdoktrin sesuatu.

Lalu apa hubungannya dengan demokrasi?
Ya, dengan riuhnya pilpres kali ini, jelas saja berpengaruh. Menurut saya, ramainya black campaign tahun ini ya karena oknum-oknum penggiat black campaign tersebut sadar sepenuhnya bahwa kita ini pengguna sosial media bermental malas. Kita mangsa empuk. Tinggal bilang aja si A antek zionis, si B titisan hitler, si C keturunan genderuwo, kita mah iya iya aja hahaha, nggak separah itu sih. Meski tak semata-mata mengiyakan, namun karena kita tak mau mencari tahu informasi yang valid, sebenarnya secara tak sadar kita terdoktrin juga lho. Percaya deh. Soalnya saya juga gitu hahaha.

Lalu, karena hal ini sudah terjadi dan merembet kemana-mana, akibatnya jadi banyak. Informasinya simpang siur tapi asal disebarkan, membuat oknum sana dan sini geram. Jadi perang isu yang tak benar oleh kedua belah pihak tim sukses, ya jadi black campaign yang kalian lihat sehari-hari di timeline twitter itu. Yang tadinya tak ikut bermain, mau tak mau jadi ikut karena terlanjur masuk ke panggung. Akhirnya karena persaingannya tak sehat, perbedaan pendapat pun menjadi perpecahan.

Jadi, apa yang harus kita lakukan?
Menurut saya sih sederhana saja, mari rajin mencari tahu. Bukan demi kebaikan pihak tertentu, namun demi keobjektifan sebuah informasi. Kadang saya lebih memilih menghindari berita tentang sesuatu yang keobjektifannya meragukan, jika saya sedang malas mencerna dan menyaring informasinya. Hahaha mungkin ini cara yang salah. Anda bisa cari cara yang lain.

Ya intinya, bijak dalam mengolah informasi. Tak hanya dalam konteks pilpres saja, namun untuk segala urusan. Dampak kecilnya, agar kita semakin dewasa menghadapi peristiwa. Dampak besarnya, agar bangsa ini bisa berdemokrasi dengan cerdas.


Selamat berpendapat!

Sunday, July 6, 2014

Sampai ke Tanganmu

Bumi sedang sedikit pilu. Lelah susah payah menghadapi dunia. Ingin rasanya mengambil secarik kertas, dan menggoresnya disana. Bukan dengan kata, namun dengan kebiasaan lama. Membentuk imaji dengan pena dan warna.
Bumi tak pandai memilih warna. Mungkin guru seni rupa saat SMA yang tak pernah berhenti tertawa lebih tau caranya. Daripada berlama-lama, ia pikir sudah biar ingatan saja yang bekerja..



Bumi kecil bertanya pada ibunya,

"Apa langit luas memiliki batas, Bunda?"

Bunda hanya tersenyum.

"Ada indahnya mawar di langit fajar, dan mempesonanya jingga di langit senja. Batas hanyalah akal-akalan manusia. Jika awal hari fajar menemani dan lelah pulang disambut senja, masih sempatkah kau pikirkan batas, Nak?"

"Lalu, Bunda, mengapa keluk laut menyahut-nyahut membuatku takut?"

"Putihnya buih dan birunya deru penuh keseimbangan. Takut hanyalah akal-akalan manusia. Jika kuajarkan kau bahagia berkejaran dengan buih dan damai mendengar alunan deru, masih bisakah kau rasakan takut, Nak?"

"Jika hidup ini penuh akal-akalan, kelak ketika aku besar, bagaimana caraku menghadapi dunia, Bunda?"

"Setelah senja sebelum fajar. Jika saatnya tepat, tengadahkan kepalamu dan lihat warna kesukaan Bunda disana. Akan ada jutaan mereka menemani kita. Lebih baik lagi, mereka semua milikmu seorang. Tak akan ada yang bisa merebutnya darimu. Mereka akan tetap disitu, sampai kau selesaikan seluruh akal-akalan di dunia ini!", seru Bunda sambil tertawa.



Bumi tersenyum. Sudah terlalu lama ia tak duduk di tempat ini. Tempat dimana dulu percakapan seperti itu kerap terjadi. Tempat dimana ia biasa melihat langit luas, menyentuh buih ombak, dan mendengar deru laut. Bumi membaringkan tubuhnya, menatap kerlip bintang yang Bunda bilang miliknya seorang.

Ah, Bunda. Perempuan hebat yang tak sempat tersentuh dunia.

Aku bubuhkan senyum langit
Fajar mawar, senja jingga
Aku kuaskan tawa laut
Buih putih, deru biru

Tak lupa kesukaanmu
Warna bintang melawan petang

Ini kertasku
Namun tinta datang darimu
Ini caraku menghapus pilu
Tunggu saja sampai ke tanganmu

Friday, July 4, 2014

Saya di Mata Satya

Habis minta imdesc lagi! Hahaha saya jadi ketagihan nih, soalnya lucu bisa denger omongan temen tentang aku. Kali ini datang dari Satya, temen terhomo waktu SMA. Sampe sekarang masih tergolong sering ketemu sih, soalnya sefakultas. Masih main bareng juga ~


Dahlia Anggita Zahra itu nama sama kelakuannya (waktu SMA) ibarat serigala berbulu domba, bulu domba=nama, serigala=kelakuan, bukan female tapi Fe-male, cowok besi. Tapi pas udah masuk kuliah dia udah jadi domba berbulu domba (sejauh yang aku tau), udah jadi female. Dulu dicubitin biasa aja, sekarang sewot, mungkin ada korelasinya sama serigala menuju domba tadi.
Lia itu jago banyak hal, jago gambar, jago gitar, jago nyanyi, jago basket, jago nonton film (nonton film bisa jago?). Pokoknya kalo dah suka sama suatu kegiatan pasti jadi jago. Keren dah.
Lia tu juga satu2nya temen yang paling cocok kalo ngomongin film sama lagu, kayaknya seleranya sama gitu, asik dah.
"Iiiih berisik sat"
*pas dicubitin* "Ah apaan sih sat"
"kemaren aku abis liat *sesuatu yang keren* apik banget sumpah"


Fe-male............. Cowok besi............. itu istilah yang paling bikin aku mangap waktu baca imdesc-nya :)) Baru sadar juga, temen-temen SMA menggambarkan aku sebagai sosok yang garang banget ya kayaknya. Duh jangan pada salah paham ya, aku tak sepreman itu kok dulunya :'')