Friday, February 17, 2017

Mengunjungimu

Tanggung jawab di Jakarta telah selesai. Aku masih punya beberapa hari sampai tanggal kepulanganku.

Siang itu cuaca sangat menyenangkan. Matahari tidak terlalu terik, seakan-akan tau kalau hari ini aku akan datang berkunjung.
Entah apakah kedatanganku saat itu bisa disebut berkunjung.

Mengajak seorang kawan, hari itu aku datang ke Museum Taman Prasasti. Museum yang menyimpan banyak nisan dari orang-orang Belanda yang menyimpan sejarah. Hanya ada dua nisan orang pribumi di situ. Yang satu adalah nisan seorang perempuan penyanyi opera yang dikagumi orang-orang Belanda pada masanya. Yang satu, adalah tujuan utama aku datang.



Sekali lagi, entah apakah kedatanganku saat itu bisa disebut berkunjung. Museum itu hanya menyimpan nisan, bukan lagi tempat pemakaman. Tujuanku adalah melihat sebuah nisan dari seorang yang aku kagumi, dan kerap ku rindukan. Hanya nisan. Setelah dikremasi, abu dari jasadnya telah menyatu dengan udara sejuk Lembah Mandalawangi.

Suasana museum sangat teduh, dan sepi. Sengaja aku memisahkan diri dari temanku yang juga sedang asyik menikmati suasana museum sendirian. Setelah berkeliling di antara puluhan nisan, dari kejauhan aku melihat nisan dengan sebuah patung kecil di atasnya. Dari kejauhan aku sudah tau kalau itu nisan yang aku cari.
Saat itu terdengar adzan berkumandang dimana-mana.
Aku berhenti sejenak, bulu kudukku merinding, sungguh entah kenapa. Menarik nafas, kemudian kembali berjalan menghampiri nisan itu.
Aku berdiri di depannya, terdiam, entah, bingung, apa yang harus aku lakukan setelah akhirnya melihat langsung.
Kemudian aku berlutut memegang nisan itu. Tapi lagi-lagi aku bingung. Entah. Aku terdiam cukup lama sambil memandanginya.

Lalu akhirnya aku memutuskan untuk berdoa.
Semoga aku bisa sekuat kamu,
Semoga aku bisa terus memegang prinsip hidupmu, terus memperjuangkan sesama apa pun posisiku nanti,
Semoga negeri ini punya lebih banyak orang sepertimu,
Semoga kamu tenang di alam sana.


Dan begitu saja.
Begitu saja cukup untuk melegakanku.
Kemudian aku pergi mencari temanku dengan perasaan bahagia.
Meski banyak di luar sana yang mengaguminya, memujanya,
Di luar kontribusinya untuk para pemuda negeri ini,
Aku akan tetap merasa bahwa mencintai kepribadiannya dan merindukannya sebagai seorang Gie yang sederhana, adalah milikku seorang.



Sunday, February 12, 2017

Beberapa Orang Hanya Butuh Tempat Bercerita

Suatu siang yang terik, di bawah flyover di tengah-tengah pekerjaan backfilling stasiun MRT kawasan Jalan Sudirman, seseorang menceritakan pengalamannya selama bekerja beberapa bulan di dunia kontraktor. Ada cerita yang manis, banyak juga yang bernada negatif. Cerita dimulai dari proses seleksi pekerjaan, keluh kesah tekanan dari atasan, hingga berujung saran-saran. Aku adalah salah satu orang yang menjadi pendengar cerita-cerita itu.


***


Angin bertiup cukup kencang. Namun udara yang dingin tidak menghambat pekerjaan pengaspalan malam itu. Seorang laki-laki yang sebelumnya memintaku datang pukul 11, menghampiri dan mengajakku berkeliling melihat proses pengujian aspal. Setelah itu kami berdiri mengawasi proses penghamparan aspal berlangsung. Diawali dengan basa-basi, ia mulai menceritakan pengalamannya bertugas di bawah pimpinan orang yang keras. Meski beberapa kali menampakkan raut muka yang kesal, toh akhirnya ia bercerita dengan tertawa. Mungkin tawa itu adalah bentuk penerimaan atas segala dinamika pekerjaannya.


***


Awalnya ia memberi penjelasan tentang bagaimana mesin bor itu bekerja. Aku memperhatikan sambil sesekali melontarkan pertanyaan ketika mesin-mesin itu bergerak. Namun lama kelamaan, kami berganti topik. Ia mulai menceritakan pahit manis selama mengawal pekerjaan tunnel. Sesekali pengalaman-pengalaman lucu ia selipkan, sambil geleng-geleng kepala tak habis pikir sendiri. Beberapa keluh kesah yang tak tertahankan juga sempat ia sampaikan. Di tengah-tengah mesin bor yang bekerja di bawah Jalan Sudirman, dengan keringat yang terus mengucur karena suhu yang amat panas, siang itu aku menyimak dan sesekali tertawa bersama cerita-ceritanya.


***


Kejadian-kejadian di atas baru segelintir dari banyak keluh kesah orang-orang proyek padaku. Selama kerja praktek, banyak sekali cerita yang aku dapatkan dari mereka.
Mungkin tanpa mereka sadari, kehadiran anak magang sebagai orang luar yang tau kondisi proyek, dianggap sebagai tempat yang tepat untuk bercerita.
Aku sama sekali tak merasa enggan atau keberatan dengan cerita-cerita mereka. Aku justru senang, karena selain jadi lebih tau kehidupan kerja yang sesungguhnya, paling tidak kehadiranku sedikit membantu (pekerjaan-pekerjaan teknis yang aku lakukan sepertinya tidak cukup membantu hahaha).
Selain itu, aku juga jadi tau, di tengah-tengah dunia kerja proyek yang keras dan melelahkan, ternyata mereka masih punya sisi humanis hehe

Karena di tengah kepenatan, beberapa orang hanya butuh tempat bercerita.


Thursday, February 9, 2017

Definition of Cool People

Ketika mencari tahu arti dari rendah hati di internet, saya menemukan beberapa ciri orang yang rendah hati:
1. Tidak merasa perlu untuk menyombongkan diri
2. Bisa menunjukan empati
3. Senang membuat orang lain bahagia
4. Melihat semua orang sama

***

Kita butuh motivasi dalam mengejar tujuan hidup. Dan melihat seseorang yang sudah lebih dulu mencapainya, melihat kebahagiaannya, adalah sebuah sentilan manis untuk terus berjuang.

Memang, mengagumi seseorang atas kerja keras, pencapaian, jabatan, dan prestasi yang ia raih adalah satu hal penting.
Tapi mengagumi seseorang atas kerendahan hati dalam segala prestasinya adalah hal lain yang sama pentingnya.

Malam ini saya baru saja bertemu dengan salah satu orang penting di bidangnya. Seseorang yang hebat dalam prestasi dan kontribusi. Seseorang yang tak perlu diragukan lagi kompetensinya. Untuk tau itu semua, kalian nggak butuh bertemu langsung dengan beliau. Tinggal googling atau tanya orang di bidangnya. Tapi untuk tau attitude, itu yang nggak bisa digoogling.

Beberapa kali saya berkesempatan berdiskusi dengan beliau dalam hal akademik dan non-akademik. Dari pertemuan-pertemuan tersebut, satu hal yang bisa saya simpulkan adalah beliau memiliki keempat ciri yang saya tulis di atas. Seorang yang rendah hati.
Beliau bukan hanya diakui karena prestasi, tapi juga disayangi karena rendah hati.
Dengan posisi yang sebegitu "wah", beliau tidak pernah menyiratkan kesombongan.
Dan yang paling membuat saya kagum, beliau amat sangat menghargai orang lain. Beliau adalah orang yang begitu passionate dalam membantu orang-orang di sekelilingnya, membuat semua orang merasa dipandang sama, didengarkan dan dihargai opininya. Ciri seorang pendidik sejati. Membuat saya kadang merasa bodoh masih memperlakukan orang beda-beda padahal prestasi juga belum ada.


Setiap orang bebas belajar dari mana saja.
Dan malam ini saya memutuskan untuk belajar banyak dari beliau.
Saya sudah mulai tau ingin jadi apa kelak di masa depan. Tapi saya diingatkan, bahwa setinggi-tingginya derajat manusia, akan lebih bermanfaat jika tetap rendah hati, membuat kebahagiaan-kebahagiaan kecil untuk sekelilingmu, dan menghargai semua orang. And be passionate about it.
Karena sesuatu yang besar yang telah kita raih, toh awalnya berasal dari hal-hal kecil.


He is exactly what I want to be in the future,
Seorang yang rendah hati.

Then I promise myself that whatever happens to my future,
I want, and I will be as humble as him.

Friday, January 20, 2017

Curhatan Tujuh Belas Hari di Ibukota

Sudah tujuh belas hari aku menyelami ibukota.
Dengan alibi Kerja Praktek yang idealis demi mendapatkan ilmu sebanyak-banyaknya, jauh-jauh dan mahal-mahal aku pergi ke Jakarta untuk sebuah mega proyek MRT Jakarta.

Bekerja di site selama kurang lebih dua minggu sudah mengajarkanku banyak sekali hal penting.
Dari sisi teknis, tentu saja, proyek ini bukan proyek yang bisa dengan mudah dijumpai, pekerjaan tunneling dan stasiun underground tergolong baru, dan pekerjaannya cukup variatif dalam satu proyek.
Tapi bukan sisi ini yang ingin aku ceritakan, karena aku yakin akan terdengar membosankan.


Dari sisi lain aku belajar banyak hal.

Di lapangan, aku bertemu banyak sekali orang-orang baru.

Sejak awal, kami (aku dan dua temanku) memang terlalu diberi kebebasan, tidak diberi mentor tetap, sehingga keluar masuk site pun tak ditemani, dan tak tau siapa-siapa.
Kondisi ini memaksaku untuk menjadi mahasiswa magang tolol yang sok kenal pada orang baru. Tentu saja agar aku bisa dapat informasi dari mereka. Ah, aku bisa membayangkan benak para QC ketika awal bertemu denganku. Aku langsung sok akrab, "memaksa" mereka untuk bersedia ku ikuti kemana pun mereka pergi.
Tapi ku pikir memang harus begitu. Sudah jauh-jauh merantau, masak aku tak dapat apa-apa? Akhirnya, setelah beberapa hari "memaksa" untuk akrab, mereka pun mulai bisa menerima kami, dan pekerjaan menjadi lebih menyenangkan (paling tidak bagiku, gatau deh untuk para QC hahahaha).
Jadi, ya, kadang kebodohan dan sok kenal sok dekat itu perlu. Jangan takut dianggap tolol, karena untuk menjalin sebuah relasi dan meruntuhkan "awkward moment" sepertinya memang diperlukan ketololan sok akrab yang konsisten hahahaha.


Oiya. Di site, semuanya laki-laki. 
Kalau Anda wanita dan bekerja di tengah-tengah pekerja-pekerja proyek, berbagai macam "sapaan" pasti akan Anda terima. Awalnya aku langsung punya kesan buruk terhadap mereka. Maksudnya, yah semacam stereotype bahwa mas mas tukang yang tidak berpendidikan kebanyakan pasti punya attitude yang buruk.

Tapi setelah mencoba berinteraksi dengan mereka (dalam rangka pengen tau apa yang mereka kerjakan), ternyata pandanganku salah. Mereka ramah dan merasa dihargai ketika aku menanyakan tentang pekerjaan yang mereka lakukan.
Bahkan ada satu orang pekerja yang cukup sering berinteraksi denganku, yang ternyata luar biasa baik. Ia memang bukan orang yang mengenyam pendidikan, tapi aku tersadar, sikap baik dan keramahan sudah cukup untuk menjalin hubungan baik dengan orang lain.

Sejak itu, aku berusaha menyapa semua orang yang aku jumpai. Tak peduli warna helm dan peran mereka dalam pekerjaan. Mereka toh senang, dan percayalah, "sapaan-sapaan" ke perempuan yang mungkin kadang dianggap orang tak sopan itu pun menghilang. Karena aku menyapa mereka duluan, paling tidak dengan senyuman.



Wah, banyak ya curhatannya.
Ini baru Kerja Praktek. Baru dua minggu. Belum nanti kalau beneran udah kerja ya hehe.

Here's to many more days to come!

Tuesday, January 17, 2017

Selamat tidur, Ego

Terkadang kamu hanya perlu menaruh egomu di rak buku kesayangan,
Berhenti menjawab pertanyaan dari diri sendiri,
Dan membiarkan orang-orang yang kamu sayangi membukakan tutup botol air mineralmu.

Bukan karena kamu tidak tahu caranya,
Bukan karena kamu tidak kuat membukanya,
Tapi justru karena kamu terlalu sering melakukan,
Hingga terkadang sesak memanfaatkan.

Kesesakkan akan memberikan satu botol penuh air mineral itu kepada egomu.

Kamu pasti pernah dengar,
Hubungan baik antar manusia ada ketika kamu berhenti memelihara ego.

Ah tapi bukan itu intinya.

Aku hanya ingin memberi tahu,
Mencari bahagiamu di tengah sesak akan lebih mudah ketika egomu kau biarkan bercengkerama bersama buku-buku kesayanganmu, atau lagu-lagu favoritmu, atau film-film kesukaanmu.
Hanya sementara waktu.

Menjadi yang bisa bukan berarti menjadi yang selalu bisa.
"Di dalam hidup ada saat untuk berhati-hati atau berhenti berlari."


Bahagiamu akan datang jika kamu mengizinkan orang lain membantu.


Atau kalau masih enggan mengakui,
Anggap saja untuk menjalin pertemanan baik.


Selamat tidur, Ego.

Saturday, January 14, 2017

Musik Folk dan Manusia

Aku selalu menjadi sosok lemah di hadapan lagu akustik folk.
Mungkin karena folk dekat dengan manusia,
Lekat dengan keseharian dan kesederhanaan.
Dan kesederhanaan selalu mengingatkanku pada hal-hal sentimentil,
Hal yang bagiku amat sangat penting,
Hal-hal yang membuat perasaanmu bekerja,
Hal-hal yang, bagiku, membuat seseorang menjadi manusia seutuhnya.



Senyum yang selalu tersungging di wajah guruku di kelas 3 SD, setiap kami membaca buku dari perpustakaan kelas.

Kata-kata "ya hargain orang lain to ya..." yang diucapkan pelatih silatku di atas motor saat ia mengantarku pulang dari pertandingan terakhirku di SMP.

Uluran tangan seniorku yang tampan, mengajakku melakukan toss setelah aku melakukan fake shot dan memberinya assist saat latihan basket pertamaku di bangku kuliah.

Tulisan-tulisan Gie yang begitu indah, romantis, namun tak jarang tajam menusuk hati.

Sebuah pagi sederhana di garis pantai Kampung Warbor, saat pertama kali aku melihat segerombol lumba-lumba berlompatan di laut lepas.

Buku-buku terjemahan yang menceritakan kehidupan keluarga orang-orang kulit putih.

Kisah tentang berbagai peran kancil yang kerap didongengkan Mbah Uti saat aku berlibur di rumahnya.

Kehadiran Bima di sampingku, memastikan aku selamat sampai rumah, saat aku berjalan pulang sendirian di malam hari.

Ucapan dan apresiasi yang begitu tulus dari orang-orang, saat video tim KKN-ku dirilis. 

Malam di mana telfon rumahku berdering, dan di sebrang sana Bapak mengatakan "Mbah Kakung meninggal, kamu di rumah ya..."

Suatu siang yang terik saat aku berjalan di sebuah gang yang dipenuhi oleh guru-guruku, dan di ujung jalan itu, untuk pertama kalinya aku bertamu ke rumah almarhum Pak Edi untuk mengucap salam hormat terakhirku.

Isak tangis ibuku saat berlarian di koridor rumah sakit, mengejarku yang tak mau masuk ruang operasi.

Mimpi-mimpi yang ku tulis di buku kecil, yang entah bagaimana, sudah mulai terwujud.

Tangis Bapak dan Ibu, dalam dua telfon yang berbeda, saat pertama kali aku mendapatkan sinyal setelah satu minggu hidup di Papua.

Pelukkan Mama dalam diam, namun begitu erat dan lama, di malam terakhir tidur di rumahnya.

Pelukkan terakhir Bapa yang sambil mendekap, terus menasehatiku untuk berhenti menangis dan mengatakan semua akan baik-baik saja.

Kehadiran keluarga, sahabat, guru, seorang yang disayangi, ibu-ibu yang menyapa di antrian bank, driver ojek online yang mengajak bercerita kisah hidup, tukang sayur yang menanyakan kabar setiap pagi, dan siapa pun yang pernah mengisi sela-sela hidup dan jiwa tanpa disadari.



Bagiku hidup manusia bukanlah hidup jika tidak bisa merasa.
Karena yang membuat kita hidup, adalah jiwa yang kaya.
Dan jiwa yang kaya, datang dari orang-orang yang punya rasa dalam menjalani kehidupan.
Orang-orang yang menghargai kehidupan.
Orang-orang yang paham bawah hidup bukan hanya tentang bertahan hidup.
Bahwa hidup juga berarti memperhatikan sekeliling, peka terhadap lingkungan, dan mengambil maknanya untuk dipikirkan, dipahami, lalu ditabung di dalam hati.
Investasi untuk prinsip hidup dan pola pikir di masa depan nanti.

Karena kalau tidak begitu, apa bedanya manusia dengan mesin dan robot?
Tony Stark saja tak tahan menjadi robot, memilih menyerah dan kembali pada hasrat sebagai manusia yang mempunyai rasa.


Lalu,
Kembali ke musik folk.


Bukan kah memang itu tujuan folk diciptakan?
Untuk mengingatkan manusia pada kesederhanaan hidup dan perasaan?
Untuk menampar keangkuhan manusia dan membawanya kembali memeluk bumi?


Ah.
Aku rasa memang begitu.
Mungkin aku terlalu angkuh,
Dan kadang lupa memeluk bumi.

Thursday, January 12, 2017

Jakarta, Kita, dan Lagu Banda Neira

Pagi itu aku terbangun dengan sebesit kaku
Perputaran roda mobil di kota besar sama sekali berbeda dengan kayuhan sepedaku
Berulang kali mencari, lagi-lagi tak pernah kutemui
Alasan kenapa berada di tengahnya cepat membuatku lelah
Dan rindu rumah
Iyakah diriku lemah?
Rasanya pernah tinggal di antah berantah
Dan ku nikmati dengan begitu lumrah

Seperti hatimu, dan lagu Banda Neira
Entah berantah yang menyesatkan, kata Rara
Tapi seratus persen nikmat tak tersaru lara
Aku bahkan tak perlu erat berpegang
Karena tau kau selalu berikan terang
Tapi akhirnya aku sepakat
Berujunglah ke tanda tanya yang pekat

Untungnya bahagia selalu menjawab
Karena sesungguhnya,
Hidup manusia hanya mengejar bahagia, bukan?

Saturday, December 17, 2016

Aku dan Bima

[Bima Cemburu]

"Sa pulang sudah. Besok sa tara datang-datang lagi."
"Baru kaka main dengan siapa nanti?"
"Kaka pu adik banyak to. Anak-anak lain itu?"
"He Bima, kaka pu ade ini cuma ko saja."
*diam*


[Bima Protektif]

*main potong pakai parang*
"Siapa yang suruh kaka main begini???" *merebut parang*
*ambil parang yang lain*
"Kaka. Kalo sampe kenapa-kenapa.. Sebentar kaka mama tanya siapa yang kasih pegang parang, baru kaka bilang 'sa pu ade di kampung ini yang kasih' sa dapat mara..." *merebut parang*


[Bima Ngomong Agama]

*menunggu aku keluar rumah*
"Sudah. Ayo jalan."
"Bah, kaka sembahyang cepat betul."
"Io, cepat tapi sering to."
"Kaka sembahyang berapa kali?"
"Satu hari lima kali."
"Kalau sa sembahyang itu dua kali."
"Ko sembahyang sebelum tidur juga?" (dia hidup sendiri di rumah selama 2 bulan)
"Kalau su sembahyang itu hati rasa tenang. Tiap hari sa sembahyang sebelum tidur, hati rasa tenang sekali, su tida takut lagi suara orang ka binatang ka sa langsung tidur."


[Bima Marah]

*diam*
*tidak menatapku*
*tidak merespon keberadaanku*


[Bima The Wish Granter]

"Kaka pengen tau makan pinang."
"Kaka beli to."
"Ah, tida mau."
-dua hari kemudian-
"Kaka lia bilang mau coba pinang to." *bawa pinang, sirih, dan kapur*


[Bima Tukang Bolos]

"Kalo bolos sekolah sa tida main ke sini. Nanti kaka tanya-tanya saya."
"Bah, kaka su tida mau lagi kasi-kasi nasehat buat ko. Kemarin-kemarin su banyak. Ko ni su SMP, su besar, ko su tau mana yang baik to."
-beberapa hari kemudian-
"Kaka, besok kaka pergi sudah (pergi dalam rangka program). Sa mau sekolah."


[Bima Serius]

"Kaka, ini untuk kaka. Kaka simpan baik-baik. Kalau orang Papua kasih taring untuk kaka, kaka simpan baik-baik." *kasih kalung buatannya sendiri*


[Bima Heboh]

*baru pulang malam hari dari penjelajahan ke pulau rani*
Horee!! Kaka lia pulang!! Kaka lia pulang!!! *lari ke arahku dan berjoget-joget memegang tanganku*



[Bima Cuek]

"Kaka pulang sudah, sa tara menangis. Kaka pulang, sebentar sa pergi sekolah baru sa pergi main bola." *menggendong carrierku dari rumah sampai ke pondok*
Sejurus kemudian, bocah ini ga bisa berhenti menangis di pelukanku, bahkan sampai kami pergi.

Perempuan dan Kalung Bodohnya

Sore itu kalungnya putus.
Kalung yang ia dapat dari tempat yang amat jauh.
Bukan. Kalung itu bukan berasal dari tanah di timur Indonesia.
Kalung itu berasal dari hati baik seorang bocah kecil.
Tempat yang begitu jauh dan dalam.

Ia bergegas membeli satu gulung benang nilon,
berniat memperbaiki kalung tersebut dengan merangkainya kembali.

Kalung itu tersusun dari puluhan cangkang siput laut berukuran seujung jari kelingkingmu.
Dan baginya, setiap butir cangkang adalah perwakilan dari setiap kehidupan di pantai Warbor.
Aku pun heran.
Bisa-bisanya memaknai suatu barang hingga begitu dalam.
Baginya, setiap butir cangkang adalah perasan-perasan ketulusan langkah kaki seorang anak di bibir pantai, yang sibuk mencari puluhan butir dengan ukuran dan warna yang sama,
demi keindahan sebuah kalung,
atau senyuman di bibir seseorang,
atau bentuk legalisasi pernyataan rasa sayang dan takut kehilangan.

Ia mulai merangkai cangkang-cangkang itu ke benang baru,
sambil berharap hatinya tak terlampau sentimentil karena mengubah sesuatu dari karya bocah kecil itu.
Rupanya butuh waktu lama merangkainya, karena cangkang ini tak dilubangi oleh mesin bor atau tangan lihai pengrajin hiasan cangkang di Ubud.
Dari cerita bocah itu, ia tau persis cangkang kecil ini dilubangi dengan paku, satu per satu, sangat tidak rapi dan sama sekali tak membuat proses perangkaiannya mudah.

Baru setengah jalan ia sudah mengeluh.
Padahal ia hanya merangkai sesuatu yang sudah jadi.
Ia tidak membeli benang nilon dengan berjalan jauh di tempat panas.
Ia tidak memelototi setiap jengkal pasir pantai untuk menemukan puluhan cangkang dengan ukuran dan warna yang sama.
Ia tidak memaku satu per satu puluhan pantat cangkang yang ukurannya sebiji jeruk.
Ia hanya merangkai.
Tapi air mata meleleh di pipinya.
Rupanya ia terlalu lemah, mudah lelah dan menyerah.

Oh,
Ternyata bukan lelah yang memanggil.
Air mata datang memenuhi undangan kerinduan dari setiap helai nafas yang ia hembuskan di kampung.
Air mata datang memenuhi undangan kerinduan akan bocah kecil yang tak lagi ia dengar kabarnya.
Bocah kecil yang selalu ia pamerkan sebagai adiknya.
Karena pamer, bercerita ke orang-orang, adalah satu-satunya cara menjaga ikatan kakak adik mereka.
Aku pun heran, kakak adik macam apa yang tak saling bicara apalagi bertatap muka?

Di ujung kalung, sebuah taring binatang tersemat.
Taring mungkin menggambarkan kegaharan.
Atau beberapa orang bilang tak pantas dikenakan sehari-hari.
Tapi kalung itu tak pernah lepas dari dadanya, meski tak pernah ia perlihatkan.

Karena baginya, ini soal dia dan adiknya.
Dan kalung ini adalah simbol kasih sayang.
Kasih sayang yang menembus batas.
Kasih sayang yang masih terus ia percaya kekuatannya.


Kasih sayang yang masih membuatnya terus mengucap doa,
meski tak lagi saling bicara.

Malam Percakapan

Malam ini, di tengah waktu senggang selepas minggu-minggu ujian, aku secara spontan membuka grup line SMA, scroll nama-nama yang ada di situ, dan chat satu-satu beberapa teman lamaku yang sudah lama tak ku jumpai.

Tidak ada motivasi khusus sih. Hanya saja aku merasa selain menciptakan teman baru, menciptakan percakapan dengan teman-teman lama ternyata cukup hangat dan menyenangkan.

Kemarin aku baru saja bertemu dengan seorang teman lama di SMA. Selama ini kami memang sesekali bertemu, tapi bukan sebuah pertemuan berkualitas yang direncanakan. Chat pun hampir tak pernah. Dan akhirnya, setelah entah berapa lama tidak pergi sama-sama, tanpa terasa aku menghabiskan 4 jam bercakap-cakap dengannya. Dari hal remeh sampai hal krusial. Perasaan ketika kamu tau kamu berteman dengannya sejak bertahun yang lalu, jarang bertemu, tapi sampai hari ini masih bisa menciptakan percakapan yang mengalir, adalah salah satu perasaan paling menyenangkan. It means that he was, and still is your best friend.

Kemudian aku berpikir, ada berapa banyak teman baikku di SMA yang sudah jarang aku temui simply because we have our own world since college strikes. Oh, I won't lose them. Lalu, tercetuslah ide kenapa tidak kujadikan saja malam ini sebagai malam penciptaan percakapan. Untuk sekedar mencairkan suasana, bertegur sapa, dan bertukar kabar. Aku chat beberapa teman baikku di SMA, teman yang dulunya begitu akrab, namun sekarang jarang bertemu.

Dua belas orang aku chat dengan awalan yang sederhana: "Piye kabarmu?" "Kowe wes skripsi durung?" "Lagi sibuk nggak?" "Piye uripmu?" dan kalimat-kalimat lebih bodoh lainnya. Dari kalimat-kalimat bodoh tersebut, berubah menjadi cerita unik masing-masing. Meski tak semuanya berakhir menjadi percakapan panjang, paling tidak aku tau si A ternyata kru sebuah band, si B sekarang lebih suka menyibukkan diri di gereja, si C mau menjajal tanah sumatera akhir tahun ini, si D skripsi tentang kopi, si E meninggalkan chatku demi dota, dan lain sebagainya hahahaha.

Meski sebagian besar masih tetap pada sifat aslinya, pada beberapa orang, aku merasakan keanehan juga sih. Kamu pernah mengenal mereka dengan sangat baik, tapi waktu, bisa begitu saja menciptakan kecanggungan. Harapannya sih, percakapan yang kuusahakan ini bisa menghapus kecanggungan-kecanggungan itu, dan merebut teman-teman baikku kembali hehehe.

Social experiment ini hasilnya memuaskan batin dan menyenangkan hati! I should do this more often.
Karena sahabat itu tak mudah dicari, apalagi di dunia kerja nanti.
Dan semakin dewasa, kita akan semakin bisa memahami bahwa sahabat, sepertinya halnya keluarga, adalah harta tak ternilai.