Friday, November 25, 2016

Lama Nggak Ngeblog

Every damn time I go to malls, I feel like there's something wrong about our society.
Ini serius sih.
Kayak ada kelainan pada diriku ini.
Yang nggak suka liat kehidupan di dalam mall.
Rasanya terlalu...... terlalu apa ya?
Gitu deh.
And that's one of 8267491 reasons why if you ask me to go to malls I will use anything as an excuse.

Eh.
Mau sih ke mall.
Kalo ibu udah membujuk-bujuk pengen pergi tapi nggak ada temen.
Atau
Kalo dateng untuk nonton film aja :))

Wednesday, November 2, 2016

Self Reminder

Kamu menginginkan sesuatu?


Pertama,
Pastikan kamu menginginkan hal itu.
Apa latar belakangmu? (untuk tau layak tidaknya perjuanganmu)
Apa tujuan akhirmu? (untuk tau mau kemana arahmu)
Apa motivasimu? (untuk menemanimu berproses)
Pegang teguh jawaban dari tiga pertanyaan itu.

Kedua,
Kejar.
Jangan manjakan diri sendiri.
Jangan biarkan kenikmatan sesaat menguasai.
Jangan malas.
Jangan.
Malas.
Malas cuma buat orang-orang goblok,
Orang goblok yang mengatasnamakan kemalasannya sebagai sial.
Mana ada orang besar yang berangkat dari malas?
Hok Gie, Pak Habibie, Pak Bambang Susantono, Pak Dahlan, Andrea Hirata, mereka semua ga cukup goblok untuk membiarkan malas megambil celah.
Mereka menguras tenaga.
Tuhan ga kasih toga di kepalamu ketika kamu berdoa.
Tuhan kasih otak, tangan, kaki, dan hati buat kerja keras!

Ketiga,
Jangan takut gagal.
Gagal bukan sebuah frase berkonotasi negatif.
Gagal cuma salah satu tahapan dari proses.
Sesuatu yang indah ga didapat dari hal mudah.
Kalo ngerasa gampang, mimpimu kurang besar!
Kalo ngerasa susah, jangan takut salah!
Hajar!
Pak Habibie nggak tiba-tiba bisa nyiptain 46 hak paten di bidang aeronautika.
Pak Habibie pake dikhianati.
Andrea Hirata nggak tiba-tiba jadi awards-winning book and author dimana-mana.
Andrea Hirata pake hidup susah.
Jadi orang besar itu ga instan.
Salah nggak dosa,
Yang dosa adalah ga overcome dari salahmu.

Keempat,
Berdoa, dan,
Berbuat baik pada sesama.
Tuhan tidak tidur,
Gusti mboten sare,
God doesn't sleep.
Dia melihatmu.
Sungguh, Dia yang paling bijaksana dan maha adil.
Dan kamu, kamu butuh sesuatu untuk berpegang ketika "gagal" mampir.



Terakhir,
Jangan percaya batas.
Batas hanya akal-akalan manusia.
Batas hanya konsep dari kesalahpahaman.
Batas tidak pernah ada.
Yang ada hanya kesalahan kerja otakmu yang berusaha menghambat dirimu dengan kata "batas" itu sendiri.



Berdiri.
Melangkah.
Dan kalau kamu merasa hilang,
Silahkan baca ini lagi.

Kamu bisa!

Thursday, October 6, 2016

Paguyuban Tani

Ini ceritanya mau nulis caption di instagram tapi kayaknya bakal panjang jadi dipindah di sini gitu.

Nggak terasa, sudah di tahun keempat kuliah sekarang. Bukan lagi saatnya bermain-bermain dan berekspresi dalam organisasi. Akhirnya, kehidupan itu harus aku tinggalkan.
Dan berpisah dengan mereka, mungkin akan menjadi yang paling disesalkan.


Anda perlu tahu.
Keluarga Mahasiswa Teknik Sipil UGM sangat beruntung.
Bukan karena nama besarnya, bukan karena acara besarnya,
Tapi karena KMTS memiliki kami,
Lima belas orang anggota yang kerap menjadi korban underestimate karena mengemban sektor pengabdian masyarakat yang sepi program kerja.

Tenang teman-teman,
Kualitas di atas kuantitas.
Proker paling sedikit, tapi insya Allah paling mulia.
Hehehe.

Beberapa hari yang lalu, adik-adikku yang lucu ini mengadakan acara perpisahan kecil-kecilan untuk kakak-kakak 2013. Makan-makan di garasi rumah dan karaoke yang tak terencana.

Yang membuat sedikit terharu, sedikit ya, ternyata mereka menyiapkan kenang-kenangan untuk kami yang tua-tua ini. Momen itu adalah momen dimana aku menyadari, buset ternyata udah tua yak hahahaha tapi juga bikin aku sadar, kalau kita berlima belas berhasil mencapai prestasi yang nggak dimiliki orang lain: kita bukan hanya partner berorganisasi, tapi kita benar-benar menjadi teman, dan keluarga.

Buat teman-teman 2013,
Kita sudah tua! Terima kasih atas kerjasama selama ini. Makasih Kem udah jadi partner di bidang sendiri dan bidang sebelah (PAS emang kudu impor orang-orang berkualitas kayak kita). Terima kasih Nes, Mig, kebodohan dan keoonan kalian akan selalu ku kenang. Makasih Yudi selalu mengingatkan untuk sholat di setiap rapat.
Terima kasih sudah mempertahankanku saat isu-isu terlempar ke bidang sangar sebelah santer terdengar wkwkwk. Terima kasih atas kepercayaannya, kekecuan kalian di masa-masa lalu sudah kumaafkan.
Urutan wisuda kira-kira bakalan Yudi -- Nesya -- Kemal & Lia (bareng ya, Mal) -- Migo (ini anaknya sendiri yang ngaku). Tolong siapin bunga yang buanyaaaak ya adik-adik.

Buat adek-adek 2014,
Kalian juga udah tua! Tahun ketiga oi, pegang kendali penuh. Yang rukun, yang kompak. Adi jangan pacaran mulu, udah jadi kabid kudu gas pol! Fadhil jangan jahat-jahat lagi ya sama wanita, wanita tu ingin dimengerti. Pepep, the only thing u can do is rajin mandi plis! Wangimu pasti mengalihkan duniaku. Inggrit, oonnya dikurang-kurangin, punyamu udah keterlaluan. Tasha, tolong bangeeeeet jangan diet, nanti ga enak dipeluk dan diremet-remet.
Kalian luar biasa, ide-ide kalian hebat, jauh lebih hebat dari apa yang bisa kupikirkan. Sekarang, pilihannya tinggal kalian masih mau kompak dan bergerak, atau mager-mageran. Make some new things, ku menanti gebrakan kalian.

Buat adek-adek 2015,
Kayaknya baru kemaren kita nanyain kalian bisa nanak nasi apa enggak. Sekarang udah mau pegang acara aja. Sembarangan!! Emang udah bisa nanak nasi???
Yoga jangan polos-polos ya, you're the cutest 19 years old guy I've ever known. Dhabith, kelakukannya tolong dikontrol ya, orang-orang desa ga suka orang freak. Wada, setelah pernah menjadi pertaruhan karirku di awal jabatan dulu, kelakuanmu cukup membanggakan nak. Han, kurang-kurangin main sama Tasha, bikin IQ jongkok dan penuh gosip. Wita, aku tau kamu suka menyembunyikan ke-oon-anmu dengan ketawa ga jelas, keep it up ya.
Kalian yang nurut dan kompak ya sama 2014 dan adek-adek baru paguyuban nanti. Ya ampun udah punya adek woi.

Aduh ini tulisan ditutup pake apa ya biar klimaks

Dulu aku pernah minta kalian satu per satu menceritakan kisah hidup kalian. Supaya kita saling mengenal, memahami, dan menoleransi perbedaan satu sama lain.

Dengan begitu, semoga hubungan kita terpelihara meski tanpa motif-motif pekerjaan.
Terima kasih.
Selamat melanjutkan perjuangan.

Kalian membuatku bahagia dalam keberagaman kebodohan!

Thursday, September 22, 2016

Secuil Cerita dari Foto

Bapaku seorang ketua jemaat gereja. Juga seorang tokoh masyarakat yang paling dihormati. Mamaku seorang perempuan yang terkenal akan kepandaiannya memasak. Setiap hari selalu ada kue di meja kami. Kaka Sola, Intan, Novi, dan Ayu adalah teman menonton film-film dari kaset bajakan yang mereka beli di kota. Maikel, ia temanku bercerita di rumah, juga teman bermain di pantai belakang rumah.



Albert, si anak SD yang jago main bola. Ia gemar menggandeng tanganku. Nahum, bocah kecil tak banyak bicara yang sering minta diajarkan pelajaran sekolah. Fiktor, si tukang bolos dan pemalas ini berubah menjadi rajin membantuku perihal memasak dan memotong kayu.



Anak-anak adalah kehidupanku. Terlalu banyak anak-anak yang tak bisa kusebutkan satu per satu, yang tak bisa kudapatkan fotonya satu-persatu. Mereka alasanku untuk bangun pagi, untuk turun ke jalan, untuk lari ke pantai, untuk naik ke pohon, untuk tersenyum setiap hari, dan sekarang untuk segera kembali kesana lagi. Aku menyayangi mereka semua seperti seorang kakak yang menyayangi adik-adiknya.



Bima. Sahabatku, musuh kecilku, penjagaku, pelindungku, penghiburku, pengawalku.
Bima dan aku, kami menangis dalam pelukan pertama dan terakhir kami.

Wednesday, September 21, 2016

Premis Kasih Sayang

Sore itu, aku menerima telfon dari seorang perempuan. Ia adalah mama dari Bima.

Sore itu, aku menyadari sebuah keanehan.
Aku bahagia mendengar suara seseorang yang bahkan tak pernah ku tahu wujudnya, tak pernah ku kenal pribadinya.

Ternyata kasih sayang bisa muncul di tempat-tempat dan waktu-waktu yang tak terduga.
Menembus batas-batas yang dibuat-buat oleh manusia: suku, agama, ras, dan banyak lainnya.
Bahkan menembus hal yang dijunjung tinggi oleh manusa: logika.

Aku, adalah satu korban kecarut-marutan kasih sayang.



Tuhan memang suka melucu.


Tapi aku suka lelucon-Mu.

Mendengar Suara Bima

Akhirnya, setelah sekian lama aku membayangkan kehadirannya di sekitarku, mengingat-ingat suaranya, setelah sekian lama aku merindukan Bima, siang itu adik kecilku menelfon lewat telfon genggam bapanya.

"Halo Kaka Lia."

Spontan aku meloncat dari kursi dan lari keluar rumah. Semata-mata karena senang bukan main dan tak mau teriakanku mengganggu orang di rumah.
Sungguh, hati ini rasanya mau meledak-ledak. Senang bukan main.

Namun, lagi-lagi namanya juga Bima. Hubungan "adik-kakak" kami tak pernah sentimentil. Aku dengan lihai menyembunyikan perasaanku yang emosional ini dan tetap berlagak tenang menghadapinya. Hahahaha.
Selama telfon kurang lebih 30 menit, kami menyombongkan diri, mencela, dan tertawa bersama. Sesekali aku menanyakan sekolah dan kelanjutan seleksi sepak bolanya. Hanya itu hal serius yang bisa kami bicarakan.

"Kaka Arma ada tangkap teteruga."
"Ko ada janji bikin gelang teteruga untuk kaka to. Mari sini kasi kaka."
"Kaka datang ke kampung boleh, sebentar sa bikin untuk kaka."
"Iyo sebentar kaka lari ke Warbor."
"Hahaha.."
"Hahaha.."

Ah, betapa aku berharap kalimat itu bukanlah candaan.

Terima kasih, Bima. Bima bikin kaka bahagia sekali.
Nama Bima, akan selalu ada di setiap doa kaka.

Friday, September 16, 2016

Aku Akan Pulang

The fact that I still often cry over Bima and everything...

And all I can do is praying.



Friday, August 26, 2016

Bertemu dalam Doa

"Kok postinganmu sedih-sedih terus?"
"Kok mbak daz keliatan sedih banget?"
Barangkali dari sosial media saat ini aku terlihat menjadi orang paling lemah, paling cengeng, paling melankolis, dan lain sebagainya.
Aku tidak peduli.
Memang akan selalu menjadi sentimentil when it comes to Warbor.
And whenever I cry, I never deny it.
Mungkin tidak semua orang memahami. Tapi aku tau teman-teman satu timku mengerti.
Bahwa berpisah dengan Warbor bukan hal yang mudah.
They, too, cry a lot.

***

Waktu itu, baru satu minggu aku menetap di sana, aku sudah merasa nyaman. Di saat beberapa kalimat keluhan dilontarkan oleh beberapa kawan karena masih beradaptasi, aku sudah tidak mau meninggalkan tempat itu.
Warbor,
Tempat yang saat ini kusebut rumah kedua.

***

Sudah dua pekan aku di Jogja. Tapi hal-hal di sekitarku tak henti-hentinya membuatku sedih, berkaca-kaca, bahkan menangis. Foto-foto, tulisan-tulisan, keluh kesah, dan curahan hati teman-teman yang juga merasakan hal yang sama denganku, it kills me.
Rindu.
Rindu mati.

***

Dua pekan sebelum pulang, berselisih kecil dengan adikku bisa membuatku menangis semalaman sampai tidur. Aku menangis karena sebagian dari diriku memaksa sebagian lainnya untuk menerima kenyataan bahwa adikku dan kehangatan kampung ini sebentar lagi harus kutinggal pergi.

Pagi itu, sepekan sebelum hari kepulangan, selesai mencuci pakaian aku berjalan ke belakang rumah. Aku duduk di bibir pantai sendiri. Aku tau persis, kampung sedang sepi-sepinya karena semua orang melaksanakan sembahyang di gereja.
Aku menangis. Menangis karena tak ingin pulang.
Ah, bukan. Aku bukan menangis karena tak ingin pulang.
Aku menangis karena perpisahan dengan kampung ini dan seisinya, benar-benar akan terjadi.

Satu hari sebelum pulang, aku berada di tengah-tengah keramaian di ruang pameran foto ketika lagu itu berputar. Lagu yang mengalun dengan manis.
Aku tak tau lagi harus bagaimana. Jika aku adalah bocah kecil, mungkin saat itu aku menangis meronta-ronta meminta untuk tinggal, untuk tidak pulang, untuk tetap bermain di sana. Kusesalkan orang dewasa tak melakukan hal itu. Aku hanya bisa menahan air mata dan pergi ke belakang sampai lagu itu selesai.

Lagu indah milik Pacenogei


Ado mama lihat
Sa pu hati su tatinggal
Di gunung-gunung, di lembah-lembah
Di Papua

Ado mama lihat
Sa pu hati su tenggelam
Di dasar pasir, di laut biru
Di Papua

Cerita dia pu sungai yang deras
Cerita dia pu hutan yang luas
Tempat matahari selalu menyanyi
Tempat Cenderawasih selalu menari

Ado mama lihat
Sa su rindu, rindu mati
Ke pasir pantai, ke laut biru
Ke Papua

***

Malam pertama tidur di Jogja, aku masih menangis.
Baru pertama kali aku merasakan pedihnya kenyataan bahwa jarak dan waktu, dan ketidakpastian, bisa begitu membunuh.

***

Malam ini aku kembali menangis.
Aku rindu kampung. Aku rindu semua yang ada di dalamnya. Semua hal sampai ke detail kecilnya.

Dan lagi. Aku rindu Bima.
Aku sering sekali membayangkan kehadirannya di dekatku.
Aku sering membayangkan Bima tiba-tiba muncul di jendela kelas waktu kuliah, di teras rumah waktu aku sedang makan, dan di tempat-tempat lain, sambil bilang "Kaka Lia..", suaranya masih teringat jelas di kepalaku.
Aku ingin sekali memeluknya erat. Aku tak pernah memeluknya karena ia selalu menjadi sosok yang cuek, yang kuat, yang melindungi, sosok yang tak pernah terlihat lemah sama sekali.
Kecuali saat dia menangis hancur di hari kepulanganku. Aku memeluknya erat hari itu.

Begitu sulit hanya untuk mendengar suaranya lewat telfon.
Lagi-lagi jarak, waktu, dan ketidakpastian membunuhku.
Aku ingin memeluk adik kecilku sekarang.
Memeluknya seperti memeluk seluruh Warbor dalam dekapanku.

***

Malam terakhir sebelum kami meninggalkan Warbor, Bapa membacakan sebuah lirik lagu di depan jemaat. Lagu yang mereka, orang-orang kampung yang aku cintai, nyanyikan sepanjang malam hingga pagi hari kami pergi.

Kini tiba saatnya kita kan berpisah
Berat hati ini melepas dirimu

Gunung dan tanjung terpele
Wajahmu terpele
Terbayang senyum manismu
Hancur hati ini

Sapu tangan biru
Kini basah sudah

Berpisah lewat pandangan,
Bertemu dalam doa

***

Berpisah lewat pandangan, bertemu dalam doa.

Tuesday, August 16, 2016

After Papua

Aku tak pernah menyadari kehidupan disini ternyata begitu penat.
Kenapa dunia ini begitu sibuk?
Ramai, bising, terburu, sesak, tidak ada kah detik untuk menghela nafas?
Duniaku di ujung timur sana tak seperti ini.

Semua begitu sederhana
Tak ada yang mengejarmu
Tak ada yang mengejar siapa pun
Tak ada yang berlari
Yang ada hanya ingatkan diri sendiri

Alat komunikasi sesederhana berjalan kaki, menatap lawan bicara, dan berkata
Tas jinjing atau pinggang berisikan dompet, ponsel, dan benda-benda orang kota, tak ada harga
Kemana siapa membawa, cukup badan yang dibawa

Hujan bukan fenomena yang diwaspadai, apalagi ditakuti
Air turun, basahlah
Matahari sebentar keringkan lagi
Air laut memanggil, basahlah
Matahari belum bosan keringkan lagi
Lelah bermain, ambil kelapa barang satu dua
Perut kosong, lempar nilon sambil pasang mulut besar
Bilang ikan tangkapanmu pasti yang paling besar

Semua tak berhenti putar otak
Seribu satu benda bisa diciptakan dari alam
Bagi mereka, tak ada kata kurang
Bagi mereka, urusan sebatas perut yang harus diberi kenyang

Sederhana bisa begitu bahagia
Sederhana bisa terasa nyata
Jauh dari kemewahan dan hal yang berlebihan membuatku jatuh cinta

Lima puluh dua hari
Lalu dihempas perkotaan lagi

Aku tertegun
Melihat ruwetnya jalanan
Hebohnya orang berdandan
Panjangnya antrian diskonan
Dan rapatnya tembok-tembok perumahan

Selama ini aku hidup di sini?
Dan sekarang terpaksa tercebur lagi?

Rumah Kedua

Mimpiku telah terwujud.
Berkunjung ke tanah yang kuimpikan sejak SMP.
Tapi nyatanya Tuhan memberi lebih dari yang kuminta.

Papua tak hanya memberiku kesempatan untuk berkunjung,
Papua juga memberiku alasan untuk kembali.

Ada keluarga yang menyayangiku disana.
Ada rumah kedua disana.