Tuesday, July 14, 2015

Just A Song I Fall in Love with



Spirit of my silence I can hear you
But I’m afraid to be near you
And I don’t know where to begin
And I don’t know where to begin

Somewhere in the desert there’s a forest
And an acre before us
But I don’t know where to begin
But I don’t know where to begin
Again I’ve lost my strength completely, oh be near me,
Tired old mare with the wind in your hair

Amethyst and flowers on the table, is it real or a fable?
Well I suppose a friend is a friend
And we all know how this will end

Chimney swift that finds me, be my keeper
Silhouette of the cedar
What is that song you sing for the dead?
What is that song you sing for the dead?
I see the signal searchlight strike me in the window of my room
Well I got nothing to prove
Well I got nothing to prove

I forgive you, mother, I can hear you
And I long to be near you
But every road leads to an end
Yes every road leads to an end
Your apparition passes through me in the willows:
Five red hens—you’ll never see us again
You’ll never see us again

Sunday, May 31, 2015

Nasib Puisi Gagal

Beberapa kata yang sudah lama saya susun secara iseng ini secara iseng pula saya kirimkan ke salah satu lomba puisi bermodal 15.000 rupiah tiap puisinya.

Sudah bisa ditebak namanya penulis iseng mana bisa menyaingi penulis-penulis jebolan ilmu budaya sana hehehe. Jadi ini puisi saya bocorkan ke sini saja ya, berhubung ada yang rikues untuk update blog juga.

Yang satu saya tulis di awal semester 3, ketika saya ingin sekali berubah, tak puas dengan pribadi yang begini-begini saja.
Yang satu lagi saya tulis karena ingin merepresentasikan kata-kata orang tentang jatuh cinta. Betapa bertemu idola bisa membuat lupa logika.



Menjadi Baik

Ini apa?
Menanam baru?
Atau mencabut lama?
Aku apa?
Padang rumput?
Atau pohon kelapa?



Jumpa

Berbicara lewat kaki
Telinga kiri mengecap gula
Menghitung rumus, hati
Otakku bergelora
Lidahku dengar musik rock
Tangan melihat negara bobrok
Kamu mencari logika?
Sudah lama kutinggal ia

Friday, April 10, 2015

Ngomong Soal Banjir Jakarta


Empat semester di Jurusan Teknik Sipil dan Lingkungan UGM. Sudah beberapa mata kuliah tentang air. Sungguh ilmu yang satu ini hitungannya sangat tak manusiawi. Namun pemahaman dan manfaatnya memang sedikit membuat hati saya terpikat. Salah satunya ketika hampir semua dosen mata kuliah air di awal perkuliahan akan bercerita tentang banjir Jakarta.


Ah, lagi-lagi kombinasi dua kata itu. Banjir. Jakarta.

Saya memang bukan penghuni ibu kota, namun rasa-rasanya semua orang familiar dengan "frase" tersebut. Entah kapan dua kata itu bisa dipisahkan.

Lalu, kenapa sih Jakarta banjir?

Menurut cerita dari beberapa dosen saya di kelas, ternyata banyak hal yang menyebabkan suatu daerah menjadi rawan banjir, khususnya di Jakarta. Saya mau cerita beberapa diantaranya.

Curah hujan
Jakarta memang memiliki curah hujan yang lebih tinggi dibandingkan dengan Jogja. Tingkat curah hujan di Jakarta bisa dua kali lipat curah hujan di Jogja.

Jenis tanah
Tanah memiliki kemampuan untuk meloloskan air, atau bahasa ilmiahnya, permeabilitas. Berbeda jenis tanah, berbeda pula koefisien permeabilitasnya. Sebagai contoh, jika kita menuangkan air ke tanah lempung, air pasti akan menggenang dan butuh waktu lama untuk terserap. Berbeda jika kita menuangkan air ke tanah berpasir, tentu air akan cepat terserap ke dalam tanah. Kira-kira begitulah kondisi tanah di Jakarta dibandingkan dengan di Jogja.
Dalam waktu 1 jam, ketinggian genangan di Jogja akan turun sekitar 30 cm. Sedangkan di Jakarta, mungkin hanya 0,000001 cm.

Elevasi tanah
Sebagian wilayah Jakarta memang dataran rendah, bahkan elevasinya berada di bawah permukaan laut. Sudah seperti mangkuk saja haha.

Tata guna lahan
Ketika hujan turun, sebagian air akan meresap ke tanah, sebagian lainnya akan mengalir/melimpas. Perbandingan jumlah air yang melimpas dan jumlah air hujan yang turun disebut keofisien limpasan. Semakin tinggi koefisien limpasan, tentu akan semakin rawan terjadi genangan.
Sekarang anda bisa bayangkan bagaimana permukaan tanah di Jakarta telah banyak tertutup lapisan beton, menyebabkan koefisien limpasannya tinggi. Bandingkan dengan daerah yang sawah dan hutannya masih terjaga.

Sesungguhnya Jakarta ini memang telah dianugerahi kondisi alam yang bakat banjir ya hehe


Lalu, ada 13 sungai yang melintasi Jakarta, yang salah satunya paling terkenal memprihatinkan adalah Sungai Ciliwung. Padahal, zaman dulu seorang pedagang Perancis pernah menuliskan bahwa Sungai Ciliwung memiliki air paling bersih dan paling baik di dunia. Kayak mimpi ya? Hahaha.

Jika anda tau kanal barat dan kanal timur yang dibuat untuk mengalirkan air sungai lewat luar Jakarta, meski terus dikembangkan oleh pemerintah Indonesia, namun gagasan awalnya bukan dari kita, melainkan dari pemerintah Belanda pada masa penjajahan dulu. Gagasan itu rilis tahun 1920 setelah 2 tahun sebelumnya terjadi banjir besar. Itu berarti, tahun 1918 Jakarta sudah dilanda banjir besar. Bahkan di tahun 1600-an Jakarta juga sudah mengalami banjir.

Hikayat banjir Jakarta dari era Jenderal Coen sampai Jokowi


Pencegahan banjir yang berupa fisik saat ini juga pasti sulit. Untuk sekedar membuat kolam retensi/embung di Jakarta, saya sudah bisa membayangkan keruwetannya. Pasalnya, proyek-proyek pembangunan seperti itu biasanya separuh dari anggarannya adalah untuk pembebasan lahan. Sudah sering lihat alotnya pembebasan lahan di berita-berita, kan?

Baru ngurusin air saja sudah begini. Sudah kondisi alam tidak mendukung, ditambah masalah-masalah yang timbul akibat kepadatan penduduk saat ini, penyempitan sungai, sampah, sistem drainase, dll., wah nggak bayangin pusingnya jadi gubernur Jakarta hahahaha


Ikut pusing ya jadinya :))


Boleh sih mikir pusing, ribet, repot, semrawut, dan lain lain, tapi kita tetep harus melek soal beginian. Saya cuma menghimpun info dan memaparkan ulang saja, supaya paling tidak, bertambah orang-orang yang mengerti tentang kerepotan di ibu kota sana, yang mungkin bisa terjadi di depan rumahmu jika tidak dipahami.

Koreksi saya jika ada yang salah. Apalah arti tulisan seorang mahasiswa semester 4 yang nilai mata kuliah hidrologinya saja pas-pasan.


Semoga semakin banyak di luar sana yang mau peduli air.

Sumber:
Kuliah Pak Joko, Pak Rahmad, Pak Budi.
http://id.wikipedia.org/wiki/Kanal_Banjir_Jakarta
http://koran-jakarta.com/?3813-akar%20banjir%20jakarta
http://green.kompasiana.com/polusi/2012/12/04/kontroversi-sungai-ciliwung-dan-kampung-deret-508086.html
http://www.tempo.co/read/kolom/2015/02/23/1963/Sejarah-Banjir-Jakarta
http://www.satire-indonesia.com/2015/02/berita-satire-banjir-jakarta-februari-2014.html
http://forum.detik.com/foto-foto-jakarta-dan-sekitarnya-tempo-dulu-posting-aja-kesini-t19743p49.html

Saturday, March 14, 2015

Jangan Terlalu

Pegang tanganku
Hentikan tawamu sejenak
Sudah terlalu banyak tuk senang
Sudah saatnya merenung dan bersyukur

Oh.. Indahnya menjalani denganmu
Oh.. Nikmatnya bersamamu
Tapi kita harus mulai mengerti
Tapi kita harus mulai batasi
Karena..

Indah itu tak selalu ada
Senang itu sementara
Jika senang jangan terlalu
Jika sedih jangan terlalu

Oh.. Indahnya menjalani denganmu
Oh.. Nikmatnya bersamamu
Tapi kita harus mulai mengerti
Tapi kita harus mulai batasi
Karena..

Indah itu tak selalu ada
Senang itu sementara
Jika senang jangan terlalu
Jika sedih jangan terlalu

Sederhanakan diri
Di depan masih panjang
Karena hidup tak hanya senang dan indah
Indah dan senang
Senang dan indah




Good things come hard.

Bukannya tak menikmati yang indah. Hanya memahami yang pilu.

Perjuangan. Pengorbanan. Bukankah itu inti dari kebaikan dalam hidup?

Merenung, bersyukur, sederhanakan diri.



Lagu ini. Hebat.

Terima kasih, Angga, Kupit, dan Bagus.

soundcloud.com/nosstress/pegang-tanganku

Thursday, February 19, 2015

How a Superhero Learns to Fly

She's got lions in her heart
A fire in her soul
He's a got a beast in his belly
That's so hard to control
'Cause they've taken too much hits
Taking blow by blow
Now light a match, stand back, watch them explode

When you've been fighting for it all your life
You've been struggling to make things right
That's how a superhero learns to fly

Wednesday, February 18, 2015

Ubah

Ini bukan tentang Ultraman Gaia
Atau Power Ranger Dino Charge
Bukan.
Bukan pula tentang perputaran
Akhirnya akan kembali lagi
Bukan.
Bukan pula perubahan fisika
Mempermainkan wujud zat cair
Bukan.
Ini seperti metamorfosis
Ulat pemakan menjadi kupu penyerbuk
Buruk menjadi indah
Ini seperti perubahan kimia
Ketela jadi tape
Kedelai menjadi tempe
Ini seperti....
Ah sebut saja ini seperti manusia
Manusia yang ingin mengangkat derajatnya
Manusia yang ingin lebih bermanfaat
Manusia yang ingin lebih bahagia dalam arti yang sesungguhnya
Manusia yang ingin berubah
Begitulah.


Friday, February 13, 2015

Let Me

Rasanya tidak ingin apa pun.

Ah. Kecuali.

Kecuali duduk diam, menulis beberapa kata, dan kembali diam.

Diam.

Berpikir.

Lalu diam.

Lagi.

Wednesday, February 11, 2015

Marah dan Menyerah, Tidak.

Seharusnya tidak berakhir begini..



Tapi tunggu.
Memangnya siapa yang menentukan keharusan?
Mungkin harus-ku, harus-mu, harus-nya, dan harus orang lain berbeda.
Mungkin harus memang tak bisa diseragamkan
Mungkin harus yang menjaga adanya perbedaan, untuk berkaca, lalu menyobek beberapa lembar atau menuliskan beberapa paragraf baru

Mungkin kali ini giliran saya berkaca. Atau Anda?

Tapi tunggu.
Mungkin ini bukan akhir.
Masih banyak senyum yang harus kucipta
Masih banyak cita yang harus kucapai
Masih banyak manfaat yang harus kubuat

Sungguh bodoh terjerumus dalam kata "akhir"



Seharusnya semua berhak menentukan awal..

Tuesday, January 27, 2015

Good Things My Parents Ever Gave Me

Saya baru saja menyadari hal-hal yang dilakukan orang tua saya sejak kecil dan berdampak besar pada saya hari ini. Hasil merenung di atas bukit, ternyata banyak sekali yang orang tua saya ajarkan melalui hal-hal yang tak saya sadari.


Sejak kecil membiarkan saya mengikuti apa pun aktivitas yang saya inginkan. Angklung, menggambar, paduan suara, karawitan, menari, piano, ensemble, senam lantai, pencak silat, basket, sepak bola, dan masih banyak lainnya. Membiarkan saya mengeksplorasi diri, terlibat dalam berbagai kelompok dan karakter, beradaptasi, mengikuti berbagai kompetisi, merasakan pahitnya kekalahan, dikecewakan, dan kemenangan.

Bepergian. Sejak kecil selalu bepergian. Hampir selalu dengan mobil. Menurut orang tua saya, satu hari libur saja adalah mubazir jika tak dihabiskan dengan bepergian. Bepergian membuat kita belajar banyak hal baru, menyadari ada dunia-dunia lain di luar kehidupan saya, membuka wawasan, dan menjadi lebih bijak dalam memandang sesuatu.

Tidak memanjakan dan menuruti semua keinginan saya. Saat masih kecil saya banyak mempertanyakan. Namun setelah dewasa, saya mengerti bagaimana manusia harus belajar kesederhanaan, kekecewaan, dan kenyataan bahwa kemudahan tak didapat dengan kemudahan.

Membaca. Orang tua saya adalah penggemar buku, dengan selera bacaannya masing-masing. Bapak dengan bacaan sejarah, politik, dan agama, Ibu dengan bacaan novel-novel terjemahan. Hal ini membuat saya menjadi terbiasa membaca, dan menyukai membaca. Sungguh, membaca adalah kunci jika anda ingin otak anda menguasai dunia. Membaca adalah awal dari pemikiran-pimikiran brilian, dan pada akhirnya, tindakan-tindakan yang bermanfaat.

Melucu. Entah yang satu ini masuk akal atau tidak, tapi orang tua saya senang melucu dan sedikit mewariskannya ke saya. Membuat saya menjadi lebih mudah bersosialisasi dan mudah diterima oleh orang-orang disekitar.

Membiarkan saya bergaul. Sejak mengenyam sekolah, orang tua saya membiarkan saya berteman dengan banyak orang, banyak golongan, banyak komunitas. Memberikan saya waktu lebih dari cukup untuk menghabiskan waktu bersama orang-orang di luar. Bahkan akan sangat welcome dan bersemangat jika teman-teman berkunjung ke rumah. Orang tua saya mau mengenal teman-teman saya dan mau berteman dengan mereka dengan cara yang menyenangkan.

Mencintai tanah air. Tak secara gamblang, lugas, mau pun terus-terusan, namun kembali ke tanah air adalah jelas salah satu hal yang diajarkan oleh orang tua saya. Mungkin dari perbincangan seputar sejarah Indonesia dengan Bapak, atau cerita-cerita Ibu bahwa bagaimana pun kita, sehebat apa pun kelak, toh kita tetap orang Indonesia, dan harus kembali kesini.

Mungkin sesungguhnya masih banyak hal lain yang tak sempat terpikirkan, atau mungkin belum saya rasakan manfaatnya sekarang. Tapi seperti yang pernah saya tulis dulu, compared to even the most cherished of all of my life's memories, Bapak dan Ibu adalah hal yang terbaik yang pernah saya dapatkan. Karena dari mereka lah, saya mendapatkan hidup saya yang sekarang.

Wednesday, December 24, 2014

Inside the Pocket of Your Ripped Jeans

Loving can hurt, loving can hurt sometimes
But it's the only thing that I know
When it gets hard, you know it can get hard sometimes
It is the only thing that makes us feel alive



Loving can heal, loving can mend your soul
And it's the only thing that I know, know
I swear it will get easier,
Remember that with every piece of you
And it's the only thing we take with us when we die


We keep this love in a photograph
We made these memories for ourselves
Where our eyes are never closing
Hearts are never broken
And time's forever frozen still

So you can keep me
Inside the pocket of your ripped jeans
Holding me closer 'til our eyes meet
You won't ever be alone

And if you hurt me
That's okay baby, only words bleed
Inside these pages you just hold me
And I won’t ever let you go
Wait for me to come home

You can fit me
Inside the necklace you got when you were sixteen
Next to your heartbeat where I should be
Keep it deep within your soul

When I'm away, I will remember how you kissed me
Under the lamppost back on Sixth street
Hearing you whisper through the phone,
"Wait for me to come home."


Photograph - Ed Sheeran.




You look so wonderful in your dress
I love your hair like that
The way it falls on the side of your neck
Down your shoulders and back

We are surrounded by all of these lies
And people who talk too much
You got the kind of look in your eyes
As if no one knows anything but us


You look so beautiful in this light
Your silhouette over me
The way it brings out the blue in your eyes
Is the Tenerife Sea

And all of the voices surrounding us here
They just fade out when you take a breath
Just say the word and I will disappear
Into the wilderness

Should this be the last thing I see
I want you to know it's enough for me
'Cause all that you are is all that I'll ever need

I'm so in love, so in love
So in love, so in love

Lumière, darling
Lumière over me

You look so wonderful in your dress
I love your hair like that
And in a moment I knew you, Beth



Tenerife Sea - Ed Sheeran



Jadi ceritanya baru dengerin albumnya Ed Sheeran yang "X" pake headset panasonic super yoi malem-malem. Dan yaa dari dulu emang headset satu ini paling jagoan. Suaranya bersih sekali, jadi kebawa suasana lagu-lagunya.

Saya baca satu-satu liriknya. Dua lirik di atas ini rasanya sederhana namun manis sekali.

Penyusunan alur, tema lirik, dan pemilihan kata-kata lagu-lagu Ed Sheeran sangat mengingatkan saya pada gaya lirik lagu-lagu Jason Mraz, si tukang bikin lagu over productive favorit sepanjang masa. Ditambah detil-detil sederhana yang menguatkan, lalu makna-makna tersirat yang sengaja dibuat agar susah dipahami, wah mirip sekali mereka ini. Mungkin yang sedikit membedakan, milik Ed Sheeran terdengar lebih lugas.

Ah, sepertinya saya menemukan satu lagi penyusun lirik jagoan!