Wednesday, April 20, 2011

8 September 2010


tulisan ini aku buat tanggal 8 september 2011, aku publish kembali dengan perubahan yang lebih menarik.

------------

RED AND WHITE & BLOOD OF EAGLES

Aku penggemar film nasionalis. Dan waktu film Merah Putih dan DarahGaruda keluar, jelas nggak aku lewatin. Dua film yang merupakan bagian dari TRILOGI MERDEKA ini memang film action Indonesia pertama yang bikin aku tercengang karena kagum. Bukan hanya karena ceritanya tapi juga karena efek dari film ini -terutama efek eksplosif- yang benar benar terlihat nyata. Dan memang nggak tanggung-tanggung kok, sejumlah kru teknis dari Hollywood yang pernah mengerjakan The Matrix, Braveheart, hingga The Dark Knight direkrut. Dan tiga film yang dibuat secara bersamaan ini, menghabiskan dana 64 miliar! film termahal se-Indonesia :O



Meskipun banyak sekali respon dan tanggapan positif atas film ini, banyak juga kritik yang ditujukan. Dan kebanyakan dari mereka (termasuk saya) mengkritik soal tata bahasa dialog para pemain yang aneh dan tidak familiar.Tidak saja karena kalimat-kalimat tersebut jarang diucapkan, tapi juga karena dialog tersebut seperti diterjemahkan secara mentah-mentah dari skrip berbahasa Inggris dan dipaksakan untuk cocok dengan bahasa Indonesia. Contohnya saat scene Dayan menyelamatkan Amir, Dayan berkata: "Merindukan saya?" (miss me?)
Menurutku, ini mungkin karena penullis skrip dialog adalah orang Hollywood.

Tapi tetep aja bagiku film ini film action Indonesia yang paling oke. Kemajuan besar buat perfilman Indonesia.
Thomas

Fyi, begitu menonton Merah Putih, aku langsung bersemangat dan tidak sabar menunggu Darah Garuda keluar. Aku bahkan menandai tanggal 8 Agustus di kalender pribadiku, premier Darah Garuda. Dan, aku berhasil nonton premiernya. coooool!
Oiya, ada satu karakter yang menurutku luar biasa banget. Adalah orang Bali yang kepribadiannya sungguh mengesankan bernama Dayan. Apalagi aktor yang memerankan Dayan berhasil membuat seakan-akan Dayan memang ada di dunia ini, bukan fiktif belaka. Liat sendiri filmnya, dan kamu akan merasakannya.
Dayan

Sebenernya ada juga komentar yang menuding film trilogi ini ingin melahirkan genre film perang di Indonesia dan menjadikan nasionalisme sebagai alat penarik emosi belaka. Pendeknya, komersil.
Namun menurutku, sepanjang film ini memang memicu nasionalisme kita, tidak ada salahnya kan? Aku pribadi beranggapan kalo taktik produser untuk menarik peminat adalah dengan dengan cara positif, kenapa enggak?


Last, I'm proud to be Indonesian!

No comments:

Post a Comment