Sunday, April 1, 2012

Seorang Teman dan Sebuah Lagu

Sebelumya saya mau minta maaf.
Maaf, karena nama-namanya saya samarkan, karena takut tidak diizinkan oleh pelaku sebenarnya hehe.
Maaf, karena postingan ini berbau metafora dan hiperbola hehe.
Maaf, sepertinya ini akan menjadi postingan egois, karena kali ini saya mau posting demi kepuasan diri sendiri hehehe I want to share something that looks unimportant for you guys.

--

Seorang teman dan sebuah lagu.

Saya punya teman baik, seorang lelaki, sebut saja sebagai Ardita (bukan nama asli). Saat ini kami duduk di kelas 11, dan satu kelas. Kami berteman sejak kelas 1 SMP, dulu satu kelas juga. Sejak dulu, saya dan dia paling sering share tentang musik dan film. Saya share musik dan film ala saya ke dia, begitu juga sebaliknya. Karena kami memang relatif bisa menerima segala jenis musik dan film.

Cerita dimulai ketika kami SMP. Saya lupa tepatnya kelas berapa. Tapi suatu hari dia menyanyikan suatu lagu yang sangat asing di telinga saya, dan saya yakin lagu ini pasti hanya ada di kalangan tertentu, karena sedikit "nyentrik".
Ardita baru satu kali mendengar lagu ini dan hanya ingat bagian reff-nya yang menurut saya the most weird part of the song. Dia berusaha mengingat-ingat dengan terus menyanyikannya sembari menanyakan pada saya. Jujur, sedikit annoyed dan sayangnya saya sama sekali nggak tau asal usul lagu nyentrik itu. And it seems like Ardita wants the song so bad.

Beberapa hari kemudian, tiba-tiba dia menghampiri saya, mengeluarkan hapenya dan.......... mengalunlah full version of that weird song.
Ardita bahagia.
Saya melongo.
Saya gak habis pikir dari mana dia dapet lagu itu. Dia nggak tau judulnya, dia nggak tau penyanyinya, dan dia cuma tau satu kata dari lirik lagu itu.
Ternyata begini perjuangan Ardita kalo sudah jatuh hati pada sebuah lagu. Dan jenis lagunya begituan. No offense hehehe.

Maklum anak SMP, kami masih labil. Semenjak itu Ardita jadi sering ndengerin lagu itu. Saya juga jadi familiar dan mulai ikut-ikutan nyanyi kayak Ardita. Gila. Bahkan waktu kelas kami lagi kebagian di lab bahasa, dia maju ke depan, ambil mikrofon, dan nyetel lagu itu dari hapenya lewat mikrofon. Kurang ganteng apa sih sahabat saya yang satu ini? Parahnya, saya ikut-ikutan nyanyi dengan joget alien khas Ardita juga. Teman-teman sekelas seketika keracunan. Oralah.

Singkat cerita, bertahun-tahun setelah itu saya tidak pernah menanyakan tentang lagu itu lagi ke Ardita. Sampai akhirnya saya dan Ardita masuk SMA.

Di suatu acara intern SMA 3, ada sebuah band intern yang lumayan punya nama di kalangan SMA 3. Dan tiba-tiba band itu menyanyikan lagu yang sangat tidak asing di telinga saya. Pucuk dicinta ulam pun tiba. Ini dia pujaan hatinya Ardita.
Setelah itu saya langsung mendatangi Ardita dan minta lagunya. Tapi saya tidak menyinggung apapun soal kejadian beberapa waktu silam.

Nah, beberapa minggu yang lalu, saya ngobrol-ngobrol gak jelas dengan Ardita. Rutinitas yang selalu kami lakukan. Dan entah kenapa saya teringat kejadian lagu itu. Lalu saya singgung lagi, saya masih penasaran dari mana dia dengar dan dapatkan lagu itu. Ceritalah si Ardita ini. Ternyata dia denger waktu dia dateng ke acara Open House-nya Padmanaba pas kami masih SMP. Ada sebuah band yang bawain lagu ini. Terus, karena sudah kepincut, si Ardita yang menurut saya gak punya malu ini, mencari-cari info tentang si empunya lagu. Browsing sana-sini, akhirnya dapet deh nomer hape pengarangnya, sebut saja X. Ardita sama sekali gak tau dan gak kenal X, tapi dengan sangat polosnya dia langsung sms dan minta lagunya. Mereka beberapa kali saling kirim sms, dan akhirnya Ardita berhasil dapet link untuk download. The end of the story.

Eeeeeeh tapi lucunya lagi, Ardita dan X ini di SMA ternyata dipertemukan oleh Allah SWT dalam sebuah komunitas. Otomatis mereka pasti kenal satu sama lain.
Saya nanya sama Ardita: X tau enggak sih kalo Ardita yang dulu dengan gigihnya nyari lagunya X itu adalah Ardita kamu?
Ardita hanya menjawab dengan mengangkat bahu, sepertinya tau, tapi mereka tidak pernah menyinggung itu.

Dan ya. Begitulah cerita tanpa tangga dramatik ini berakhir.

Kesimpulannya, skenario Tuhan itu menarik. Sebuah lagu ternyata berhasil menjadi perantara takdir bertemunya dua insan petualang yang ganteng-ganteng dan macho-macho itu.
Akhir kata, salam satu jiwa! *edisi aremania*

No comments:

Post a Comment