Sunday, June 10, 2012

Musikal Laskar Pelangi goes to Jogja!

Hellooooooooo readers! Gila, it's been a looooong time. Lama nggak buka blog, harus bersih-bersih sana sini, nyapu, ngepel, nyusun mebel baru, intinya sudah kangen nulis. Yah meskipun nggak yakin juga blog ini ada readersnya hah!

Kali ini saya mau sedikit nge-review tentang that goddamn Musikal Laskar Pelangi yang totally makes my tongue freezing. Sebelumnya mohon ampun kalo penilaian saya kurang sesuai, maklum, ini cuma review-an anak berkapasitas layaknya pelajar SMA yang cuma tau acting dari ekskul teater.


Yak. Hari Minggu 27 Mei 2012 jam 7 malem di Jogja Expo Center. Meskipun cuma kebagian (baca: mampu beli) tiket SILVER yang notabene kelas paling belakang, berkat niat dan kerja keras berlari, berebut kursi pake rusuh sama ibu-ibu, akhirnya saya bersama seorang teman berhasil mendapat seat silver yang depan sendiri. Dan menurut saya itu justru best view ke arah stagenya karena kursi silver pake level sendiri. Bahkan operator & crew, kayak Riri Riza, Mira Lesmana, Erwin Gutawa, Jay Subiyakto, dll juga duduk beberapa meter dari saya, di daerah silver seat. Oiya, sempet liat Mathias Muchus juga (halah).
Ini nih crewnya:

Erwin, Mirles, Toto Arto, Jay, Riri, Andrea Hirata. Kurang Hartati sang koreografer nih....

Oke, musikal yang satu ini emang gila. Disaat saya yang hobi nonton pertunjukan teater ini sering misuh-misuh tiap keluar dari gedung pertunjukkan karena harga tiket yang terlalu mahal dibandingkan kualitas pertunjukkannya, MLP di scene pertamanya sudah membuat saya misuhi diri saya sendiri karena nggak mampu beli tiket yang lebih mahal. Oh man, pertunjukkan seperti ini hanya dengan 100ribu rupiah? Ini murah banget!

Mungkin ini pertunjukan terbaik yang pernah saya tonton. Bahkan Song of the Sea di Sentosa Island, Singapore saja menurut saya kalah, meskipun dalam hal teknis mereka jauh lebih mulus. Tapi totalitas dari pertunjukkan ini yang nggak bisa dicuekin gitu aja. Sebuah mobil yang benar-benar masuk ke dalam panggung, air yang benar-benar mengguyur panggung ketika adegan hujan, permainan animasi yang luar biasa, setting yang luar biasa indah (no one can do better than Jay!), dan musik. Ini definisi dari totalitas. 

Beberapa gambar MLP dari beberapa web:




Bukan berarti pentas ini tanpa cacat. Menurut saya, lightingnya kurang maksimal. Selain itu, kesalahan teknis seperti sound dari clip on yang sempat terganggu, dan pergantian setting yang sempat sedikit kasar juga terjadi di panggung ini.

Nah, saya akan mencoba nge-review per bidang yang biasa saya gunakan ketika saya pentas dulu, karena kebetulan konsep pentas saya dulu sama persis kayak MLP, hanya bedanya yang satu ini lebih pro. Sekali lagi, ini hanya review dari kacamata seorang pelajar SMA.

Keaktoran:
The first thing that impressed me was the kids. I don't have any idea how Riri and Hartati controlled the kids. It seems like they're 10 or something, and for me, I thought it's impossible to keep them on the track. I mean, mereka bener-bener berakting dan menari dengan baik. The best part was the way they sang. Mereka menyanyi dengan sangat indah. Oh God, keaktorannya patut diacungi jempol. Blokingnya oke banget, bahkan di scene yang sangat crowded. Vokal, nggak perlu dikomentari.

Menari, menyanyi, berakting dalam satu waktu itu nggak gampang

Setting:
This one, one of my favorite part of the show. Bener-bener realis banget dan nggak setengah-setengah. Setting pasar adalah favorit saya. Selain pemainnya, setting ini bener-bener bikin scene hidup. Super realis! (istilah opo iki). Trus ada juga setting yang perspektif, kayak ruang kelasnya. Itu keren banget karena saya baru pertama kali lihat yang begituan. Dan semua setting pake roda, jadinya transisi antar scene-nya cenderung halus, tidak tergesa-gesa, dan terkadang malah jadi bagian dari pertunjukan.

Lighting:
Sebenarnya lighting cukup aman. Bahkan ada yang sangat kuat. Sebagai contoh scene Menanti Ayah, Menanti Lintang. Atmosfernya kebangun banget. Tapi ada juga yang menurut saya lumayan fatal kesalahannya. Sebagai contoh, scene saat Bu Muslimah memanggil anak-anak yang sedang bermain perosotan di sisi panggung yang lain. Anak-anak ini sama sekali nggak keliatan. Yang paling fatal dan sangat terlihat menurut saya adalah scene Bu Muslimah menyanyi solo saat kehilangan Pak Harfan. Padahal scene ini kalo di tangga dramatik bakal megang banget buat jatuhnya, udah musiknya emosional, Bu Muslimah (Eka Deli/Lea Simanjuntak saya lupa) suaranya sangat sangat powerful, sayangnya lighting aduh mamaaa merusak deh. Bener-bener nanggung. Bahkan saat klimaks, Bu Muslimah justru tepat berada di garis tanggung lighting. Sayang sekali.

Menanti Ayah, Menanti Lintang

Kostum:
Mungkin karena sudah ada filmnya, jadi kostum tidak mengalami kesulitan kali ya. Udah ada gambaran. Fine fine aja kok.

Make-up:
Ini juga mungkin karena ini pertunjukan realis, jadi tidak menemukan kendala.

Koreo:
Two thumbs up! Terutama scene kuli Kampung Gantong. Koreonya sangat variatif, blokingnya bagus banget, dan dancernya juga powerful. 

Kuli Kampung Gantong

Multimedia:
Sebenernya menurut saya peran multimedia disini lebih ke inovasinya. Memang animasi membantu scene membangun setting dan emosi scene tersebut. Tapi saya lebih tertarik sama inovasi-inovasi seperti menggabungkan animasi dengan siluet, mengeluarkan giant screen dan animasi di scene Cerdas Cermat sebagai simbol kejeniusan Lintang, dan yang sedikit lebih menarik perhatian saya adalah animasi pohon yang bergerak kemudian dipadukan dengan bentuk-bentuk artistik dari beberapa orang. Brilliant innovation!

Sound:
Sound-nya balance banget. Yah namanya juga professional. Tapi sempat terjadi kesalah teknis juga, mendengungnya sound system sempet terjadi selama sekitar 3 detik.

Musik:
I'm absolutely lost for words. The heart of the show. Alunan musik hasil karya Erwin Gutawa ini kuat banget. Selain itu, lagu-lagunya juga tidak ringan, namun juga tidak complicated, sehingga dengan lirik yang mudah diterima, semua lagu bisa dicerna penonton dengan baik. Apalagi, lagi-lagi saya akan memuji kemampuan vokal para pemainnya. Sangat merata dan emosional. Musik yang memegang emosi penonton. Musik mengambil peran besar dalam membuat semua penonton merasakan emosi yang sama sesuai dengan tangga dramatik yang diinginkan sutradara. Guhhrrreat!



Overall, gila! Saya bangga Indonesia punya pertunjukan sekelas ini! Dan saya pribadi, saya merasa telah dipecundangi oleh that curly director hahaha. Saya kira MLP tidak akan semegah ini. Paling tidak sebelum saya tau Jay Subiyakto terlibat. Okay, I was wrong. I WAS WRONG! Thank you for making this happen, and thank you for bring this to Jogja. You guys are such a genius team!


P.S.: Jay, no matter Riri Riza, Mira Lesmana and Andrea Hirata say, keep it straight. Keep it straight.

No comments:

Post a Comment