Wednesday, July 9, 2014

Ngomong Soal Demokrasi

Kehidupan demokrasi di Indonesia sedang mencapai sebuah titik baru. Titik yang belum pernah kita alami sebelumnya. Antusiasme begitu tinggi, yang tak jarang berakhir di fanatisme.
Sungguh saya bukan ahli komunikasi apalagi politik. Saya hanya berbicara berdasarkan pengamatan dan pengetahuan dangkal yang saya miliki. Saya tak mengatakan kita tak seharusnya melewati fase ini. Mungkin saja ini memang salah satu langkah yang harus dialami untuk menuju demokrasi yang baik. Mungkin saja tidak. Saya tak tahu.

Saya hanya prihatin melihat fasilitas mengemukakan pendapat di era sosial media ini digunakan oleh masyarakat yang belum siap mengolah informasi. Bagi pengguna sosial media, suka atau tidak, anda akan terjebak dalam lingkaran fenomena ini. Kita belum mau mencerna dan menyaring informasi dengan baik. Dengan teknologi saat ini yang bisa dengan mudah menyebar informasi dalam satu kali klik, penyerapan informasi yang tak sempurna apalagi tak valid, sungguh bahaya.

Kita dengan mudah menyantap apa yang dihidangkan, tanpa mencari tahu bahan dasar yang digunakan. Kita belum mau mencari informasi, kita hanya menerima informasi. Kalo dikasih tau dan diberi, kita mau-mau saja. Toh sudah tersaji. Tapi untuk mencari tahu, kita malas. Mental seperti ini yang dimanfaatkan pihak-pihak tak bertanggung jawab, tanpa kita sadari. Sifat-sifat pengguna sosial media seperti kita, adalah sasaran empuk untuk menanamkan doktrin-doktrin yang melenceng. Dan ini terjadi benar-benar dengan cara perlahan, kita tak akan sadar. Bahkan saya yang sudah menulis seperti ini pun mungkin juga tak sadar telah terdoktrin sesuatu.

Lalu apa hubungannya dengan demokrasi?
Ya, dengan riuhnya pilpres kali ini, jelas saja berpengaruh. Menurut saya, ramainya black campaign tahun ini ya karena oknum-oknum penggiat black campaign tersebut sadar sepenuhnya bahwa kita ini pengguna sosial media bermental malas. Kita mangsa empuk. Tinggal bilang aja si A antek zionis, si B titisan hitler, si C keturunan genderuwo, kita mah iya iya aja hahaha, nggak separah itu sih. Meski tak semata-mata mengiyakan, namun karena kita tak mau mencari tahu informasi yang valid, sebenarnya secara tak sadar kita terdoktrin juga lho. Percaya deh. Soalnya saya juga gitu hahaha.

Lalu, karena hal ini sudah terjadi dan merembet kemana-mana, akibatnya jadi banyak. Informasinya simpang siur tapi asal disebarkan, membuat oknum sana dan sini geram. Jadi perang isu yang tak benar oleh kedua belah pihak tim sukses, ya jadi black campaign yang kalian lihat sehari-hari di timeline twitter itu. Yang tadinya tak ikut bermain, mau tak mau jadi ikut karena terlanjur masuk ke panggung. Akhirnya karena persaingannya tak sehat, perbedaan pendapat pun menjadi perpecahan.

Jadi, apa yang harus kita lakukan?
Menurut saya sih sederhana saja, mari rajin mencari tahu. Bukan demi kebaikan pihak tertentu, namun demi keobjektifan sebuah informasi. Kadang saya lebih memilih menghindari berita tentang sesuatu yang keobjektifannya meragukan, jika saya sedang malas mencerna dan menyaring informasinya. Hahaha mungkin ini cara yang salah. Anda bisa cari cara yang lain.

Ya intinya, bijak dalam mengolah informasi. Tak hanya dalam konteks pilpres saja, namun untuk segala urusan. Dampak kecilnya, agar kita semakin dewasa menghadapi peristiwa. Dampak besarnya, agar bangsa ini bisa berdemokrasi dengan cerdas.


Selamat berpendapat!

No comments:

Post a Comment