Sunday, July 6, 2014

Sampai ke Tanganmu

Bumi sedang sedikit pilu. Lelah susah payah menghadapi dunia. Ingin rasanya mengambil secarik kertas, dan menggoresnya disana. Bukan dengan kata, namun dengan kebiasaan lama. Membentuk imaji dengan pena dan warna.
Bumi tak pandai memilih warna. Mungkin guru seni rupa saat SMA yang tak pernah berhenti tertawa lebih tau caranya. Daripada berlama-lama, ia pikir sudah biar ingatan saja yang bekerja..



Bumi kecil bertanya pada ibunya,

"Apa langit luas memiliki batas, Bunda?"

Bunda hanya tersenyum.

"Ada indahnya mawar di langit fajar, dan mempesonanya jingga di langit senja. Batas hanyalah akal-akalan manusia. Jika awal hari fajar menemani dan lelah pulang disambut senja, masih sempatkah kau pikirkan batas, Nak?"

"Lalu, Bunda, mengapa keluk laut menyahut-nyahut membuatku takut?"

"Putihnya buih dan birunya deru penuh keseimbangan. Takut hanyalah akal-akalan manusia. Jika kuajarkan kau bahagia berkejaran dengan buih dan damai mendengar alunan deru, masih bisakah kau rasakan takut, Nak?"

"Jika hidup ini penuh akal-akalan, kelak ketika aku besar, bagaimana caraku menghadapi dunia, Bunda?"

"Setelah senja sebelum fajar. Jika saatnya tepat, tengadahkan kepalamu dan lihat warna kesukaan Bunda disana. Akan ada jutaan mereka menemani kita. Lebih baik lagi, mereka semua milikmu seorang. Tak akan ada yang bisa merebutnya darimu. Mereka akan tetap disitu, sampai kau selesaikan seluruh akal-akalan di dunia ini!", seru Bunda sambil tertawa.



Bumi tersenyum. Sudah terlalu lama ia tak duduk di tempat ini. Tempat dimana dulu percakapan seperti itu kerap terjadi. Tempat dimana ia biasa melihat langit luas, menyentuh buih ombak, dan mendengar deru laut. Bumi membaringkan tubuhnya, menatap kerlip bintang yang Bunda bilang miliknya seorang.

Ah, Bunda. Perempuan hebat yang tak sempat tersentuh dunia.

Aku bubuhkan senyum langit
Fajar mawar, senja jingga
Aku kuaskan tawa laut
Buih putih, deru biru

Tak lupa kesukaanmu
Warna bintang melawan petang

Ini kertasku
Namun tinta datang darimu
Ini caraku menghapus pilu
Tunggu saja sampai ke tanganmu

No comments:

Post a Comment