Saturday, August 30, 2014

Meski Bangsa Justru Memangsa

Kalau besok punya anak
Ku biarkan ia pilih citanya
Ingin jadi apa aku rela
Asal ia tak lupa bangsa

Tapi harus ku jawab apa
Jika ia cinta lapangan bola
Ingin jadi pesepak bola
Ah aku jadi tak tega

Menggiring bola di Indonesia akan susah
Bahagia dengan siap tak berupah
Ku tau larinya kan gagah,
Namun tak mau hidupnya terengah

Haruskah ku paksa ia berhenti mencinta?
Memilih jalan hidup lainnya?
Atau kubiarkan ia mengejar cita?
Tersenyum bahagia,
Meski bangsa justru memangsa.


Sebenarnya aku menulis ini di mobil ketika mengobrol dengan keluarga. Kenapa begitu banyak pekerjaan yang tak dihargai di Indonesia. Aku tau untuk mengubahnya adalah tugas kita semua, dan merupakan perjuangan yang akan panjang tak bisa terselesaikan dalam satu dua generasi saja. Namun bagaimana perasaan seorang ayah dan ibu jika anaknya mencintai sesuatu yang tak dihargai bangsanya. Kebahagiaan anak pasti tak terkira nilainya. Namun akan hidup dengan apa jika pekerjaan tak dihargai bangsanya. Godaan untuk keluar pasti besar. Tidak mau khianati bangsa ini, karena mencintai Indonesia. Namun juga tak tega membayangkan anaknya terseok-seok, karena mencintai anaknya.

Ah masalah orang dewasa memang pelik.

Mungkin aku akan kembali ke masa kecil saja.
Kembali menendang bola sepak dengan bahagia.

No comments:

Post a Comment